Gempa Mengganas, Nihil Solusi Tuntas

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Hasni Tagili, M. Pd.

(Praktisi Pendidikan Konawe, Sulawesi Tenggara)

Nusa Tenggara Barat, khususnya daerah Lombok, sudah ratusan kali mengalami gempa susulan. BMKG menyatakan bahwa hingga 16 Agustus 2018 terdapat 698 gempa susulan yang terjadi. BMKG juga mencatat ada sekitar 280 kali gempa susulan yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat pasca gempa bumi magnitudo 6,9 SR. Korban pun terus berjatuhan. Tercatat, korban meninggal sebanyak 555 orang. Sementara, 390.529 jiwa mengungsi (Kompas.com, 24/08/2018).

Meski begitu, ternyata diperlukan waktu yang lama untuk menetetapkan kejadian Lombok sebagai bencana nasional. Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat, menjelaskan bahwa pemerintah pusat menilai bahwa pemerintah daerah NTB masih bisa menangani pascabencana gempa itu sendiri (Liputan6.com, 25/08/2018).

Di lain pihak, ada pertimbangan bahwa penetapan status bencana nasional bisa menutup pintu wisatawan dalam bahkan luar negeri ke seluruh wilayah Lombok hingga Bali (Cnnindonesia.com, 21/08/2018). Tentu saja alasan yang satu ini cukup bikin sakit hati. Bagaimana mungkin membandingkan penderitaan korban gempa dengan pundi-pundi rupiah? Di mana rasa peka?

Padahal, banyak dana yang digelontarkan pemerintah dalam mensukseskan Asian Games. Meninggalkan kesan, penanganan gempa teralihkan kesibukan gempita pesta olahraga. Bagaimana tidak, untuk pembukaannya saja, 12.000 kembang api menyala, menghabiskan 685 Milyar.

Ketua INASGOC, Erick Thohir, menyatakan bahwa persiapan Asian Games 2018 memakan dana yang begitu besar. Tercatat, dana sebesar Rp 7,2 triliun sudah digelontorkan demi menggelar pesta olahraga terbesar se-Asia itu (Viva.co.id, 13/08/2018).

Sangat disayangkan, tatkala Lombok berduka, di pusat justru berpesta. Seolah kebahagiaan dan citra di mata dunia lebih utama dibanding tangis derita jelata. Bencana alam yang menimpa manusia memang merupakan takdir Sang Pencipta. Namun, di balik ketentuan tersebut ada fenomena alam yang bisa dicerna. Ikhtiar untuk menghindari. Termasuk, penanganan prima ketika gempa sudah  terjadi

Umumnya gempa bumi terjadi pada saat batuan di kerak bumi mengalami tekanan yang sangat hebat oleh pergerakan lempeng-lempeng yang menjadi landasan benua. Sebagian besar terjadi ketika dua lempengan di kerak bumi saling bergesekan. Lempengan yang dimaksud yaitu lempeng samudera dan lempeng benua. Ketika lempeng saling bergesek dan bertumbukan, akan menghasilkan gelombang kejut, yang kita rasakan sebagai gempa bumi.

Islam sendiri memandang bencana alam sebagai suatu ketetapan dari Allah SWT. Sehingga, terjadinya bencana disikapi dengan sabar dan introspeksi diri. Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW berkata, “Tenanglah! Belum datang saatnya bagimu.” Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

Langkah awal yang dilakukan ketika terjadi bencana alam ialah bertaubat sambil mengingat kemaksiatan apa yang dilakukan sehingga Allah menurunkan bencana alam tersebut kepada suatu kaum. Hal ini juga menjadi penjaga kesadaran dan kondisi ruhiyah masyarakat, khususnya yang berada pada daerah rawan bencana alam untuk senantiasa menjaga ketaatan pada syariah dalam lingkup individu dan masyarakat.

Pada masa kejayaan sistem pemerintahan Islam, masing-masing Khalifah memaksimalkan manajemen bencana alam. Manajemen ini memiliki tiga tujuan yaitu mengurangi atau menghindarkan dampak kerugian dari bahaya bencana alam, memastikan sampainya bantuan dengan cepat pada korban, dan pemulihan masyarakat yang cepat dan efektif pasca terjadinya bencana alam.

Manajemen penanganan bencana alam disusun dan dijalankan dengan berpegang teguh pada prinsip bahwa menjadi kewajiban bagi seorang Khalifah melakukan ri’ayah (pelayanan) terhadap urusan-urusan rakyatnya. Pasalnya, Khalifah adalah pengurus rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak atas pelayanan yang ia lakukan. Oleh karena itu, sudah selayaknya negara mengambil peran sentral dalam memberikan solusi tuntas terhadap bencana yang terus bergejolak. Wallahu a’lam bisshawab.(***)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •