,

Anak Salah Jalan, Salah Siapa?

oleh
Ketgam : Asman
Ketgam : Asman
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Penulis : Asman

Reporter Kalosaranews.com

Ketua Umum PK IMM IAIN Kendari Periode 2018-2019

Setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah/ suci dan orangtuanyalah yang menetukan dia menjadi  nasrani majusi atau islam. Kurang lebihnya seperti itulah yang dijelaskan dalam al Quran mengenai seorang anak.

Setiap anak telah membawa potensi masing-masing jadi tinggal tugas orang tuanya dan lingkugannya akan membentuk anak tersebut menjadi seperti apa. Masa kanak-kanak adalah masa dimana anak syarat akan imajinasi dan pola pengingatannya sangat baik, setiap kejadian atau setiap peristiwa akan terekam secara seksama dalam memori otaknya sehingga menjadikan peristiwa tersebut bahan percontohannya tinggal bagaimana apakah yang dijadikan contoh itu baik atau tidak.  Sehingga memang dalam membentuk karakter seorang anak haruslah memberikan stimulus-stimulus yang baik kepada anak.

Ada pepatah mengatakan didiklah anakmu semenjak dari pengayunan, bahkan ada yang mengatakan seorang Ibu mendidik seorang anak semenjak ia masih berada dalam kandungan. Sehingga membuat jelas bahwa pemebentukan karakter seorang anak haruslah dengan cara yang baik dan benar jangan kita mengajarkan dan memberi contoh yang buruk kepada anak. Itu tugas orang tua dalam keluarga beda halnya dengan lingkungan sekolah, karena anak haruslah mengenyam dunia pendidikan agar wawasan pola berfikirnya terbuka secara koheren.

Orang tua di sekolah mempunyai tanggung jawab yang sangat luar biasa sulitnya, mengapa demikian dikarenakan seorang guru di bebankan untuk membentuk ratusan bahkan ribuan anak agar karakter dan sifat mereka terbentuk dengan baik, karena sukses dan tidaknya seorang anak disekolah pastinya orang tua di sekolah yang bertanggung jawab.

Memang dalam membentuk karakter seorang anak haruslah penuh rasa sabar. Namun ketika  kita melihat realita yang terjadi beberapa waktu ini,  viralnya seorang anak atau siswa   mengajak gurunya berkelahi. Bahkan tak tanggung-tanggung sampai membunuh. Ini merupakan masalah yang sangat serius. Mengapa begitu serius?

Ketika seorang anak sudah berani melakukan hal semacam itu berarti karakter dan potensi yang telah dibawah sejak lahir telah rusak dan ini merupakan masalah yang benar-benar serius. Karena dalam mendidik seorang anak haruslah dengan baik karena akan banyak faktor yang membuat seorang anak salah jalan, misalnya dalam pergaulan di lingkungan. Mungkin di lingkungan keluarga dan sekolah sudah cukup dalam  memberikan pengajaran bahkan motivasi namun itu semua haruslah tetap kita kawal dan menjaga, karena dilingkungan masyarakat sangat menetukan pembentukan seorang anak.

Contoh kasus misalnya yang dilansir oleh media Tribunnews.com kasus murid menganiyaya gurunya hingga tewas, ditemukan di kota Sampang Madura. Kabar ini masih hangat terjadi di bulan Februari 2018, kalau kita melihat yang terjadi ini merupakan kasus yang sangat berat. Karena seorang anak harus dibina dan dan di ajar agar jangan sampe melakukan hal seperti ini. Bahkan bukan anak saja yang berani aniyaya gurunya, tetapi orang tua biasanya juga melakukan hal demikian.

Kasus yang terjadi orang tua menganiyaya anakknya hingga tewas di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, orang tua ini tega menganiyaya anaknya. Padahal sebagai umat beragama yang mempercayai tuhan seyogyanya kita saling menjaga. Anak harus berbakti kepada orang tua, dan orang tua harus megajar anak dan membimbing anaknya ke arah yang benar.

Agama islam telah menjelaskan bahwa anak itu adalah amanah Tuhan dan setiap amanh itu harus dijaga oleh kedua orang tuanya sesuai dengan hadis Rasulullah bahwa kedua orangtualah yang akan menjadikan anaknya yahudi, nasrani dan majusi kemudian seorang anak juga kita harus memperhatikan apa yang menjadi keluhan dan keinginan mereka namun tetap kita menjaga jangan sampe kita memnajakan mereka, karena dari rasa manja itu akan timbul karakter dan beranggapan bahwa apapun masalah atau perbuatan yang dilakukan orang tuanya pastinya akan membela. Inilah yang akan membuat anak termotivasi melakukan hal-hal negatif.

Olehnya itu dalam kasus yang telah terjadi dan viral pada saat ini seakan membuat orang tua di sekolah ataupun dirumah menjadi masa bodoh dengan itu semua. Karena dengan adanya HAM serta UU yang mengatur tentang tindakan kekerasan terhadap anak membuat orang tua untuk memberikan sanksi fisik yang itu di anggap mempunyai efek jera menjadi terbantahkan. Jadi siapa yang harus kita salahkan ketika anak salah jalan?

Akhirnya dalam situasi seperti ini sudah menjadi tanggung jawab kita bersama agar anak kita dan orang tua kita baik di rumah ataupun disekolah menjadikan ini semua pelajaran dan tentunya kita semua mengharapkan pula pemerintah agar memperhatikan kekebalan hukum untuk orang tua kita yang disekolah yang bertugas mencerdaskan anak bangsa, karena banyak kasus penganiyayaan yang dilakukan baik anak itu sendiri maupun dari orang tua anak itu.

Pemerintah harus tegas dan membuat suatu sistem yang dapat menjaga keutuhan keluarga kita. Seperti yang dijelaskan dalam Al Quran surah al Maidah ayat 2 yang menjelaskan bahwa tolong menolonglah dalam kebaikan dan janganlah tolong menolong dalam keburukan. Harus ada regulasi yang mengatur semua ini karena hal seperti ini menjadi tanggung jawab kita semua. Sehingga dalam memberikan perhatian kepada pelaku kekerasan harus ditindas sesuai hukum yang yang berlaku.


Editor      : Randa

Publizer  : Iksan