Antara Musibah dan Kelalaian Pemerintah

oleh
Ketgam : Srinaningsi
Ketgam : Srinaningsi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Srinaningsi Tamil, S.Ud

Belum hilang dari ingatan pasca tsunami di Lombok Nusa Tenggara Barat dan korban jiwa 563 orang, disusul gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah dengan korban jiwa 2.113 orang. Kini pada tanggal 22 Desember 2018 tsunami menerjang pantai Kabupaten Pandeglang, Serang dan Lampung selatan korban meninggal dunia 429 orang, 1.484 orang luka-luka, 154 orang hilang dan 16.082 orang mengungsi. Tsunami yang terjadi di Selat Sunda menimbulkan pertanyaan oleh sejumlah pihak. Hal tersebut lantaran tidak adanya peringatan kebencanaan dari tsunami yang disebabkan oleh aktivitas vulkanologi erupsi anak Krakatau tersebut. Hal itu juga yang menjadi sorotan media asing, NBCnews dalam laporannya, Ahad (23/12) waktu setempat, berjudul " Mengapa tsunami menerjang Indonesia tanpa peringatan".

Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Nasional (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyatakan bahwa alat pendeteksi tsunami berteknologi tinggi yang dikenal dengan istilah buoy rusak karena Vandalisme dan hilang dicuri yang seharusnya alat ini dipasang di sepanjang kawasan pesisir Indonesia yang rawan bencana.

Akibatnya hal tersebut memperlemah mitigasi atau upaya preventif untuk mencegah korban jiwa saat gelombang tsunami menerjang daratan (Tabloid Media Umat, ed.229). Direktur Pusat Penelitian Tsunami Universitas California Selatan Costas Synolakis menyebut, tsunami yang terjadi di pesisir wilayah Banten dan Lampung tersebut bukanlah tsunami pada umumnya yang terjadi karena aktivitas tektonik atau gempa bumi. Tsunami kali ini terjadi karena aktivitas vulkanik. Sementara, sebagian besar tsunami didahului aktivitas seismik yang memungkinkan untuk dilakukan beberapa peringatan (Republika.co.id. 24/12). Efek Kapitalisme

Yang menjadi sorotan dalam bencana ini adalah mitigasi bencana. Tsunami yang melanda Selat Sunda tanpa adanya peringatan dini menjadi perhatian serius yang menunjukkan kekurangsiapan pemerintah dalam menghadapi bencana tsunami khususnya. Padahal, Indonesia adalah wilayah yang dilalui jalur ring of fire, dimana wilayah Indonesia memiliki 129 gunung berapi yang masih aktif. Wilayah Indonesia pun terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Oleh karena itu, Indonesia berpotensi terhadap bencana alam seperti gempa, tsunami, dan gunung meletus. maka sudah seharusnya dan semestinya pemerintah menanggapi serius perihal ini dengan memaksimalkan upaya mitigasi bencana untuk meminimalisir resiko dan dampak bencana, baik melalui pembangunan infrastruktur maupun memberikan kesadaran dan kemampuan dalam menghadapi bencana (Undang-undang No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulanan Bencana).

Apa yang sudah dipersiapkan pemerintah dalam menanggulangi bencana ? Bagaimana pemerintah dalam menanggulangi bencana tsunami tersebut ? Apakah solusi yang dipersiapkan adalah dengan mengutang lagi seperti solusi yang diberikan kepada bencana Palu dan Donggala ? Jika solusi yang dipersiapkan adalah dengan cara mengutang, maka ini bukan memberikan penyelesaian akan tetapi menambah masalah.

Mengapa semua ini bisa terjadi ? Tentu jawabannya karena sistem yang diterapkan, yaitu kapitalisme-sekulerisme anak kandung demokrasi yang memisahkan agama dari kehidupan. Sebagaimana asas dari sistem kapitalisme ini ialah asas manfaat, maka jangan heran bila pemerintah tidak menyiapkan alat untuk mendeteksi terjadinya bencana.

Mengapa ? Sebab tidak memberikan manfaat maka yang menjadi fokus pemerintah ialah pembangunan infrastruktur dan tidak memperhatikan bahkan kekurangsiapan pemerintah dalam menghadapi bencana tsunami ini. Apakah kita masih berharap pada sistem ini ? Tentu tidak. Berbeda dengan islam, Penanganan bencana dalam islam meliputi pra bencana, ketika dan sesudah bencana. Hanya dengan menerapkan islam d seluruh aspek kehidupan, hidup ummat manusia akan aman dan sejatera.

Solusi dalam Islam Seorang mukmin dituntut untuk meyakini bahwa tidak ada satupun musibah yang menimpa umat manusia kecuali atas izin Allah. baik karena faktor-faktor alam maupun akibat ulah tangan manusia merupakan bagian dari qadla’ Allah SWT yang harus diterima dengan

penuh keridhaan dan kesabaran dan mengambil pelajaran dari musibah agar dapat memperbaiki diri dan kembali taat kepada Allah SWT. Penanganan bencana dalam Islam dibangun atas dasar akidah dan prinsip pengaturannya sesuai dengan syariat Islam yang ditujukan untuk kemashlahatan umat. Penanganannya meliputi pra bencana, ketika, dan sesudah bencana.

Penanganan pra bencana ditujukan untuk mencegah atau menghindarkan penduduk dari bencana. Pembangunan kanal, bendungan, pemecah ombak, tanggul, dan lain sebagainya.  Membangun mindset dan kepedulian masyarakat, agar mereka memiliki persepsi yang benar terhadap bencana dan mampu melakukan tindakan-tindakan yang benar ketika an sesudah bencana. Khalifah akan melakukan edukasi terus-menerus, khususnya warga negara yang bertempat tinggal di daerah-daerah rawan bencana alam. Selain itu, Khilafah membentuk tim-tim SAR yang memiliki kemampuan teknis dan non teknis dalam menangani bencana dan dibekali dengan kemampuan dan peralatan yang canggih.

Penanganan ketika terjadi bencana ditujukan untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian material akibat bencana dengan mengevakuasi korban secepat-secepatnya, membuka akses jalan dan komunikasi dengan para korban, serta memblokade atau mengalihkan material bencana ke tempat-tempat yang tidak dihuni oleh manusia, atau menyalurkannya kepada saluran-saluran yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Penyiapan lokasi-lokasi pengungsian, pembentuan dapur umum dan posko kesehatan, serta pembukaan akses-akses jalan maupun komunikasi untuk memudahkan team SAR untuk berkomunikasi dan mengevakuasi korban yang masih terjebak oleh bencana.

Penanganan pasca bencana ditujukan untuk me-recovery korban bencana agar mereka mendapatkan pelayanan yang baik selama berada dalam pengungsian dan memulihkan kondisi psikis mereka agar tidak depresi, stres, ataupun dampak-dampak psikologis kurang baik lainnya.   Megupayakan kebutuhan-kebutuhan vital mereka, seperti makanan, pakaian, tempat istirahat yang memadai, dan obat-obatan serta pelayanan medis

lainnya.  Recovery mental bisa dilakukan dengan cara memberikan taushiyah-taushiyah atau ceramah-ceramah untuk mengokohkan akidah dan nafsiyah para korban. Me- recovery lingkungan tempat tinggal mereka pasca bencana, kantor-kantor pemerintahan maupun tempat-tempat vital lainnya. Khalifah jika memandang tempat terkena bencana, masih layak untuk di-recovery, maka ia akan melakukan perbaikan-perbaikan secepatnya

agar masyarakat bisa menjalankan kehidupannya sehari-harinya secara normal.  Bahkan jika perlu, khalifah akan merelokasi penduduk ke tempat lain yang lebih aman dan kondusif.   Khalifah akan menerjunkan tim ahli untuk meneliti dan mengkaji langkah-langkah terbaik bagi korban bencana alam. Mereka akan melaporkan opsi terbaik kepada khalifah untuk ditindaklanjuti dengan cepat dan profesional. Wallahu a’lam bish shawab. (***)


Editor : Randa

Publizer : Iksan