Divestasi Freeport, Bukti Menguatnya Kapitalis

oleh
Ketgam : Masita
Ketgam : Masita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Masita

(Anggota SWI Kolaka)

Indonesia dengan segala keanekaragaman hayati dan non hayati yang dimiliki serta sumber daya manusia yang banyak, serta luasan wilayah yang besar dan hampir seluruh wilayahnya memiliki potensi yang besar, tak heran jika negara asing banyak yang mengincarnya untuk mengeruk potensi SDA yang dimiliki.

Bukan hanya itu Indonesia juga menjadi wilayah yang memiliki hasil bumi yang sangat berlimpah salah satunya yaitu hasil tambangnya. Namun, karena Indonesia masuk dalam kategori negara berkembang menjadikan pengelolaan SDA yang ada menjadi terkendala. Ketidakpercayaan dirinya membuat berbagai investor masuk untuk bekerjasama dalam mengelolanya. Salah satunya yaitu Freeport McMoran yang telah melakukan aktivitas penambangan di Papua dimulai sejak tahun 1967 atau selama 42 tahun. Keuntungan dari kegiatan penambangan mineral Freeport telah menghasilkan keuntungan luar biasa besarnya.

Kontrak Karya yang akan segera berakhir 2021 nanti menjadi akhir izin aktivitas bagi PT Freeport untuk mengeruk potensi SDA yang ada. Namun, berdasarkan hasil perundingan yang di adakan yang seharusnya di lakukan 2 tahun sebelum KK berakhir, pada tahun ini 2018 hasil keputusan KK yang segera berakhir kini sudah diputuskan hasilnya dengan ketentuan sebagai berikut.

Freeport McMoran masih akan menjadi pengelola tambang PT Freeport Indonesia, meski Pemerintah Indonesia melalui PT Inalum mendominasi kepemilikan saham. Diketahui, transaksi divestasi saham Freeport rampung pada Jumat (21/12) kemarin.

Usai transaksi, RI resmi menggenggam 51,2 persen saham Freeport Indonesia. Sementara, 48 persen sisanya masih dipegang Freeport McMoran, perusahaan tambang yang berbasis di Amerika Serikat. Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin menjelaskan tambang emas dan tembaga tersebut merupakan tambang terumit di dunia lantaran letaknya di bawah tanah. Dalam hal ini, Freeport McMoran telah terbukti kompeten untuk mengelola dan mengembangkan tambang tersebut. Usai divestasi ini kepemilikan Inalum meningkat dari 9,36 persen menjadi 51,23 persen. Dari kepemilikan saham sebesar 51,23 persen, pemerintah mengalokasikan 10 persen saham Freeport Indonesia kepada Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Mimika. (www.cnnindonesia.com)

Kapitalisme Biang Kerok

Perpanjangan sampai 2041 dengan tidak mengunakan KK (Kontrak Karya) melainkan beralih menjadi IUPK. Tak heran, perusahaan ini terus bersikeras untuk memperpanjang renegosiasi kontrak dengan pemerintah Indonesia. Tambang Grasberg adalah tambang emas yang terbesar di dunia dan tambang tembaga ketiga terbesar dunia. Dikutip dari data PT Freeport Indonesia, cadangan tambangan yang sedang digarap Freeport Indonesia di Papua mencapai 2,27 miliar ton bijih, yang terdiri dari 1,02 persen tembaga, 0,83 gram per ton emas dan 4,32 gram per ton perak. Sedangkan berdasarkan data kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), dari cadangan tersebut, produksinya mencapai 109, 5 juta ton bijih per tahun, dengan umur tambang 23,5 tahun. Freeport tidak hanya memproduksi emas, perak dan tembaga. Freeport juga memproduksi molybdenum dan rhenium, sebuah hasil samping dari pemrosesan bijih tembaga.

Akan tetapi, keberadaan Freeport tidak melahirkan kesejahteraan bagi Indonesia terutama warga sekitar, kesenjangan ala kolonial ini menjadi bibit konflik di papua. Masalah yang timbul dari aktivitas Freeport yang berlangsung dalam kurun waktu lama ini diantaranya penerimaan negara yang tidak optimal dan peran negara/BUMN untuk ikut mengelola tambang yang sangat minim serta dampak lingkungan yang luarbiasa. Kerusakan bentang alam seluas 166 km persegi di DAS sungai Ajkwa yang meliputi pengunungan Grasberg dan Ersberg. Berupa rusaknya bentang alam pegunungan Grasberg dan Erstberg.

Freeport hampir tidak berkontribusi terhadap Indonesia bahkan penduduk mimika sendiri. Kompisisi Penduduk Kabupaten Mimika, tempat Freeport berada, terdiri dari 35% penduduk asli dan 65% pendatang. Menurut BPS 41% penduduk mimika miskin, 60% penduduk miskin tersebut adalah penduduk asli. Di Provinsi Papua sendiri kemiskinan mencapai 80,07% atau 1,5 juta penduduk. Lebih dari 66 % pnduduk miskin papua adalah penduduk asli tinggal wilayah operasi freeport di pegunungan tengah, bahkan kantong-kantong kemiskinan justru berada diwilayah freeport.

Jika dilihat, Indonesia seharusnya menjadi salah satu negara maju yang sangat kaya raya dengan segala potensinya, karena keserakahan penguasa membuat seluruh aset negara hampir terjual. Kalangan elit penguasa memanfaatkan potensi SDA nya dengan melakukan penjajahan gaya baru melalui banyaknya penawaran-penawaran investasi yang menggiurkan, salah satunyanya yang terlihat pada sistem ekonomi dan pariwisatanya. Sejak masa penjajahan hingga saat ini Indonesia tak pernah benar-benar merdeka, kaum penguasa telah berhasil menanamkan bibit aturannya yang di pakai hingga saat ini, yang berhasil menipu rakyat dengan berbagai macam slogannya.

Kapitalisme-sekuler yang tengah digalakkan diberbagai negara berhasil menjadi benih awal untuk merusak tatanan pemerintahan sampai ke masyarakat yang hidup di dalamnya, yang hanya membawa dampak pada hancurnya individu masyarakatnya baik moral maupun adat kebiasaannya, karena kebebasan yang mengizinkan setiap individu untuk berekpresi sesuai keinginannya. Dan kebahagiaan menjadi tolak ukur kehidupannya, manusia di setting untuk terus bekerja pagi, siang dan malam untuk memuaskan hawa nafsunya. Sebab, di era perkembangan zaman ini membuat manusia terus menerus haus akan materi, oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Life style menjadi tameng elit penguasa untuk membuat manusia terlena, jauh meninggalkan fitrahnya, bahkan melupakan tujuan utama penciptaannya.

Racun sekuler-liberal tengah tumbuh subur dalam diri manusia, keluarga, masyarakat dan negara yang seharusnya menjadi alat control dan pelindung bagi manusia telah gagal memainkan peranannya. Karena racun tersebut telah mengakar dalam diri manusia. Manusia kini menjadi mainan kaum elit penguasa yang dimana tatkala keberadaannya tidak dibutuhkan dapat di musnahkan begitu saja.

Islam Solusinya

Umat membutuhkan obat untuk menawarkan racun-racun tersebut, mencabut hingga akar dan memperbaiki kualitas diri manusia dan mengembalikan fitrah di ciptakannya, obat itu ialah Islam. Yang sudah secara nyata terbukti khasiatnya selama 1300 tahun lamanya. Dan menjadikan Khilafah (Negara) sebagai pelindung dari serangan racun-racun kapitalisme-sekuler, bahkan atheisme.

Pengrusakan yang dilakukan kalangan elit penguasa tidak lain hanya untuk menguasai dunia, mengendalikan setiap negara sesuai dengan kepentingannya, bertindak semaunya dan menghancurkan apa saja yang coba menghalanginya, termasuk Islam. Sebab, kebangkitan Islam adalah suatu kepastian yang nyata sebagaimana janji-Nya (An-Nur : 55). Untuk itu mereka tengah berupaya untuk membendungnya dengan cara mengkriminalkan ajarannya, membuat phobia dan berbagai macam aksi criminal yang mengatasnamakan gerakan Islam. Sehingga hari ini, umat islam benar-benar merasakan ketakutan tersebut dan anti terhadap ajarannya. Karena pemikirannya telah di taburi serbuk yang dapat memisahkan sel-selnya, sehingga pemikirannya benar-benar tak dapat di fungsikan dengan baik.

Islam yang merupakan obat mampu menjawab setiap persoalan yang ada. Mulai dari hubungan atas Pencipta, dirinya dan manusia lain, serta hubungan sosialnya (muamalah dan uqubat). Sebab sumbernya jelas (al qur’an dan hadist) dan berasal dari Pencipta. Dan telah di utus seorang suri tauladan yang mengemban risalahnya untuk seluruh alam sebagaimana dalam firman-Nya “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan menjadi Rahmat seluruh alam” (al-anbiya : 107) dan yang di maksud adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Selain itu, Islam memperhatikan secara menyeluruh kesejahteraan rakyatnya dan menjaga ketakwaan setiap individu terhadap pencipta-Nya. Dan mengatur seluruh sistem pemerintahan baik itu urusan di dalam maupun di luar negeri. Menyatukan seluruh negeri yang ada dan menjaga bagi kaum non-muslim yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap aturannya. Serta mengatur sebaik-baiknya SDA yang tersedia untuk kemakmuran rakyatnya dan APBN dengan membagi tiga jenis kepemilikannya yaitu pertama, kepemilikan Negara, kedua, kepemilikan Umum, dan ketiga, kepemilikan Individu. 3 aspek tersebut, bertujuan untuk mensejahterakan masyarakatnya melalui meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membangun serta merawat fasilitas negara dalam menunjang aksesibilitas masyarakat mulai dari jalan, gedung dan sebagainya.

Sejatinya sebagai umat Muslim sudah seharusnya berjuang dan mengembalikan hak-hak umat yang sudah direbut kafir penjajah dan mengganti sistem kufur dengan sistem yang lebih baik yaitu, Islam. Allah Ta’ala berfirman “Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu..” (al Maidah : 3). Wallahu a’lam. (***)


Editor : Armin

Publizer : Iksna