Menuntut Bacaan Melupakan Penerapan

oleh
Ketgam : Mariana, S.Sos
Ketgam : Mariana, S.Sos
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Mariana, S.Sos

(Guru SMPS Antam Pomalaa-Kolaka)

Ikatan Dai Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden RI untuk uji baca Al Quran. Salah satu alasannya karena dua Capres sama-sama beragama Islam dan penting bagi umat Islam untuk tahu kualitas calon presidennya. “ tes baca Al Quran bagi seseorang calon pemimpin yang beragama Islam sangat wajar dan sangat demokratis. Justru publik makin tahu kualitas calonnya,” ujar Ridwan Habib peneliti radikalisme dan gerakan Islam di Jakarta.(TRIBUNNEWS.COM, 30 Desember 2018).

Wacana menuntut kandidat Capres dan Cawapres 2019 untuk tahu baca Al-Quran adalah sesuatu yang positif, sebab  masing-masing calon adalah muslim yang memang memiliki kewajiban untuk tahu baca Al Quran, hanya saja penting untuk dipahami bahwa membaca Al Quran bukan ditujukan untuk kepentingan politik pragmatis demi meraih suara dan simpati rakyat sebab jika hal ini terjadi maka justru ada upaya untuk mengkerdilkan fungsi dari Al Quran itu yang telah dipahami bahwa Al Quran adalah sebagai pedoman hidup kaum muslim, dimana membacanya adalah ibadah, memahami dan menerapkannya dalam kehidupan adalah sebuah kewajiban bagi kaum muslim yang paham akan isi Al Quran itu sendiri, karena itu perlombaan baca Al Quran untuk menarik simpati rakyat dalam tahun panas pemilihan merupakan tindakan mengkerdilkan nilai-nilai Al Quran.

Kemampuan membaca Al Quran  sekalipun di miliki oleh seseorang dengan kualitas bacaan yang sangat baik belum menjamin dia adalah seorang figur pemimpin yang baik, sebab telah banyak dipahami bahwa banyak orang yang pandai membaca Al Quran tapi tidak paham apa isinya, bahkan meskipun setiap harinya membaca dengan merdunya Al Quran itu dan tak ada cela dari bacaannya, tetapi justru hanya sekadar dibaca tapi kemudian enggan bahkan menolak dan mengingkari untuk  menerapkan isinya padahal esensi dari Al Quran itu adalah sebagai sumber wahyu yang berasal dari Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, untuk diterapkan dalam setiap aspek kehidupan, Jadi Al Quran itu sebagai visi dan misi dalam hidup, sebagai aturan ketatanegaraan, aturan bermasyarakat dan bernegara,  juga sebagai pedoman hidup. i Al Quran bukan hanya sebagai ajang perlombaan dengan membaca dalam suara yang sangat merdu untuk merebut simpati dan suara rakyat dalam ajang pemilihan tetapi lebih dari itu Bahwa Al Quran adalah pedoman hidup yang wajib diterapkan dalam kehidupan.

Demokrasi Sekuler Menihilkan Peran Al Quran

Suara rakyat dalam sistem demokrasi adalah sesuatu yang sangat penting sebab kekuasaan dapat diperoleh dengan mendulang mayoritas suara rakyat, paham  ini pun menjadi bermasalah manakala dijadikan patokan dalam sistem pemerintahan dan kenegaraan sebab kebenaran terletak pada mayoritas suara rakyat sehingga legalitas Pencipta sebagai pengatur alam semesta, manusia dan hidup menjadi tak berarti bahkan disingkirkan, maka jadilah standar benar dan salah ada pada mayoritas suara rakyat, hal ini menjadi peluang bagi siapapun untuk memanfaatkan suara mayoritas rakyat agar dapat naik ke tampuk kekuasaan.

Dengan metode baku asas manfaat, segala-galanyanya menjadi sah dimanfaatkan termasuk memanfaatkan Al Quran untuk sensasi politik sesaat, setelah meraih simpati mayoritas suara rakyat,  Al Quran pun di campakkan dan diletakkan dalam rak tirani keegoisan tanpa ada upaya untuk menerapkannya, padahal esensi dari Al Quran adalah untuk diterapkan dalam kehidupan sosial maupun kenegaraan, jadi untuk apa Al Quran kalau hanya sekadar menguji bacaan sang calon, padahal yang menantang itu jika Al Quran kemudian di ujikan pada sang calon apakah siap menerapkan Al Quran dalam seluruh aspek kehidupan dan sebagai aturan dalam kenegaraan, kalau ada dari sang calon yang siap menerapkan isi seluruh Al Quran dalam kehidupan dan sebagai aturan kenegaraan maka sesungguhnya dialah yang paling layak memimpin negeri ini.

Karena itu telah jelas bahwa sesungguhnya dalam demokrasi,  AlQuran hanya jadi alat permainan politik untuk memenangi persaingan di satu sisi, dan keberadaannya dianggap tidak penting di sisi yg lain. Sebab tak mungkinlah sistem kehidupan yang memisahkan agama dari Negara akan rela menjadikan Al Quran sebagai pedoman dalam hidup apalagi sebagai pengatur kehidupan sosial maupun kenegaraan sebab sistemnya saja sudah bertolak belakang dengan isi Al Quran. Karena itu  sistem demokrasi sekuler telah menjauhkan esensi penting Al Quran dalam kehidupan juga melenakan manusia dari substansi yang sesungguhnya akan fungsi Al Quran dan yang lebih penting dalam sistem politik telah melahirkan politik oportunistik yang menjauhkan figur pemimpin yang sesungguhnya sehingga yang dikejar hanyalah popularitas dan sensasi untuk menarik simpati rakyat padahal miskin akan pemahaman isi Al Quran . Al Quran menjadi terabaikan  dan di tempatkan di ruang sempit hanya sekedar dibaca tapi di lupakan dalam penerapannya, akibatnya Al Quran kehilangan makna sebenarnya .

Al-Quran sebagai Pedoman Hidup

Berabad-abad dalam naungan Khilafah Islamiyah, al-Quran menjadi pedoman hidup kaum Muslim. Mereka menerapkan al-Quran dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Fakta sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan bangsa Arab yang pertama kali memeluk Islam itu sangat dipengaruhi oleh al-Quran. Apa rahasianya? Tidak lain karena al-Quran memiliki tiga fungsi utama. Pertama: sebagai mukjizat abadi Nabi Muhammad saw. Kedua: sebagai pedoman hidup (minhâj al-hayâh) kaum Muslim. Ketiga: sebagai media ibadah kaum Muslim. Al-Quran adalah mukjizat terbesar yang dimiliki Rasulullah saw. Al-Quran telah menundukkan bangsa Arab yang pada waktu itu berada di puncak kesusastraannya. Mereka tidak mampu membuat karya sastra yang keindahan bahasanya semisal dengan al-Quran. Dengan al-Quran generasi pertama kaum Muslim mampu mengalahkan Quraisy dan sekutu-sekutunya. Karena itu dengan al-Quran pula insya Allah kaum Muslim masa kini pun akan mampu memenangkan persaingan global melawan musuh-musuh mereka.

Al Quran sebagai pedoman hidup yakni Al-Quran merupakan sumber hukum yang paling luhur dan layak untuk mengatur kehidupan manusia di bumi. Sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia, al-Quran telah menjelaskan segala yang diperlukan untuk memecahkan prolematika hidup manusia dari masa ke masa. Dari ayat-ayatnya, para ulama Mujtahid menggali hukum untuk menyelesaikan problem-problem baru. Al-Quran menjelaskan dan memecahkan berbagai persoalan praktis kehidupan manusia di bumi. Berkaitan dengan kehidupan manusia sebagai hamba Allah SWT, al-Quran menjelaskan hukum-hukum ibadah seperti doa, zikir, shalat, puasa, zakat dan haji. Bahkan puncak penghambaan kepada Allah SWT yang membutuhkan pengorbanan tertinggi pun telah dijelaskan oleh al-Quran ketika memaparkan hukum-hukum berkaitan dengan jihad fi sabilillah.

Dalam mengatur kehidupan masyarakat, al-Quran menjelaskan hukum-hukum berkaitan dengan sistem pemerintahan. Menurut al-Quran, kaum Muslim wajib taat kepada Allah SWT, Rasul saw. dan ulil amri mereka, Allah SWT Berfirman: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-(Nya) serta ulil amri di antara kalian (QS an-Nisa : 59 ) Ulil amri (pemimpin) yang wajib ditaati tersebut berkewajiban mengemban amanah melaksanakan pemerintahan dengan menjalankan hukum-hukum Allah SWT yang tercantum dalam al-Quran dan as-Sunnah. Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka ( TQS  al-Maidah : 49 ). Jika terjadi perselisihan antara rakyat dan penguasa kaum Muslim, Allah SWT menyuruh kedua pihak kembali pada Al Quran dan as-Sunnah. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah) (TQS an-Nisa : 59). Dengan demikian al-Quran menjadi petunjuk dan pedoman hidup (minhâj al-hayâh) kaum Muslim sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Al Quran media ibadah yakni Membaca al-Quran, baik mengerti artinya atau tidak, dinilai sebagai ibadah di sisi Allah SWT. Banyak nash yang memerintahkan agar kita selalu membaca al-Quran. Saat al-Quran dibacakan, kita diperintahkan untuk mendengar dan memperhatikan dengan penuh kesungguhan, Karena itu tentu penting untuk mempelajari dan mengajarkan al-Quran. Bahkan Rasulullah saw. Bersabda : Yang terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan al-Quran (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu sudah seharusnya kita mengembalikan fungsi Al Quran sebagai pedoman hidup yang mengatur kehidupan manusia tentu itu hanya dapat terjadi ketika Islam sebagai Sistem hidup menggantikan sekulerisme kapitalis liberalis dan sosialis komunis dalam kencah kehidupan dunia dan itu membutuhkan perjuangan untuk mendeklarasikannya sebab harus ada kesadaran dari masyarakat untuk menerapkannya tanpa adanya perjuangan dan kesadaran dari masyarakat untuk mencampakkan sistem rusak Kapitalis Sekuler Liberalis dan Sosialis Komunis mustahil sistem Islam yang Agung akan dapat diterapkan, begitupun sistem islam tak akan mungkin dapat diterapkan secara komprehensif secara total dan menyeluruh jika tidak ada payung hukum yang menaunginya yakni Institusi dalam bentuk Negara. Wallahu A’alam (***)

Editor : Armin

Publizer : Iksan