,

Miras dan Tahun Baru, Terlalu!

oleh
Ketgam : Israeni, S. Pd
Ketgam : Israeni, S. Pd
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Israeni, S. Pd

(Praktisi Pendidikan)

Bukan rahasia lagi, setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, marak miras beredar di tengah masyarakat. Kepala bidang (Kabid)  Perdagangan Disprindakop Kendari, Ida Rianti, mengatakan bahwa pasokan dan peredaran miras pada perayaan Tahun Baru dipastikan meningkat (Zonasultra.com). Hal ini tentu akan berdampak buruk pada kehidupan sosial masyarakat dengan meningkatnya kriminalitas dan kekerasan.

Kendati, setiap jelang Natal dan Tahun Baru, jajaran kepolisian selalu mengadakan razia miras, tetapi razia yang dilakukan oleh aparat kepolisian tidak memberikan solusi untuk tidak beredarnya miras. Sebab, razia yang dilakukan bukanlah pelarangan peredaran miras tetapi hanyalah pengamanan bagi para pemasok, pembuat, dan pedagang miras yang tidak memiliki surat izin. Jadi bagi yang memiliki surat izin dari disprendakop dapat bebas untuk menjual miras.

Padahal, marak terjadi kasus kriminalitas pada perayaan Tahun Baru akibat minuman keras. Sebut saja, kecelakaan yang ditimbulkan akibat mengemudi kendaraan dibawah pengaruh minuman keras, selain dapat membahayakan diri sendiri, juga membahayakan nyawa pengguna jalan lain. Belum lagi kriminalitas dan kekerasan swperti KDRT, pelecehan seksual, sampai pemerkosaan akibat usai pesta miras.

Saat ini, harapan masyarakat untuk hidup aman dari kriminalitas dan kekerasan yang di timbulkan akibat minuman beralkohol sepertinya jauh panggang dari api. Pencabutan Perda tentang pelarangan miras oleh Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, merupakan bukti jika sistem yang di terapkan negara gagal untuk melindungi bangsa ini dari kriminalitas dan kekerasan yang ditimbulkan akibat dampak minuman keras.

Bagaimana tidak, pajak miras yang begitu fantastis menjadikan pemerintah enggan membuat aturan tegas tentang pelarangan peredaran miras. Besarnya cukai miras beragam, untuk golongan A kandungan (alkohol 0-5%) tarif cukai sebesar Rp 15.000/liter. Golongan B (alkohol 5-20%) tarif cukai Rp 44.000/liter, sedangkan untuk golongan C (alkohol 20-55%) dibandrol Rp 139.000/liter (tempo Co). Lemahnya payung hukum tentang perdaran miras menjadikan negara-negara kapitalis berlomba-lomba mengimpor miras ke Indonesia. Bahkan, pemasok miras terbesar ke Indonesia adalah Inggris, Singapura, dan Belanda (Liputan6.com).

Pun, pelegalan miras dengan alasan melindungi kepentingan turis adalah sesuatu yang miris. Pemerintah memikirkan wisatawan tapi memutup mata akan rusaknya bangsa ini akibat peredaran miras yang di legalkan.

Ketika miras sudah menjadi candu dalam kehidupan, akut dalam kerusakan dan penderitaan, maka dibutuhkan pengobatan yang tepat, tidak bersifat sementara namun harus mendasar agar dapat menjadi solusi dalam kehidupan.

Islam datang dengan aturan yang sangat tegas tentang pelarangan peredaran miras. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (TQS al-Maidah: 90)

Ya, khamar (minuman keras) adalah segala minuman yang memabukan sehingga nabi muhammad SAW menyebutnya ‘ummul khobais’ (sumber atau induk dari keburukan). Dengan segala leburukan yang di timbulkan khamar, tidak mengherankan islam memndang khamar sebagai (kunci dari segala keburukan). Karena ketika akal sudah tertutupi oleh pengaruh khamar, ia akan bertindak diluar kontrol, perkelahian, pembunuhan, pemerkosaan, mengganggu dan meresahkan lingkungan, dan segala kejahatan akan di lakukan.

Islam melarang peredaran miras tujuan untuk menyelamatkan umat manusia dari keburukan karena itu, Allah melaknat peminumnya, penyajinya, pedagangnya, pembelinya, pemeras bahan-bahannya, atau penyimpannya, pembawa dan penerimanya (lihat HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar).

Aturan Islam yang melarang dan mengharamkan miras merupakan aturan yang paripurna yang dapat memberantas peredaran miras. Inilah satu-satunya aturan yang dapat menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran dan kerusakan yang ditimbulkan oleh miras. Alhasil, harapan untuk hidup aman dari kriminalitas dan kekerasan akan dapat diwujudkan sepanjang masa. Wallahu a’lam bish-shawab. (***)


Editor     : Armin

Publizer : Iksan