Musibah Silih Berganti, Saatnya Muhasabah!

oleh
Ketgam : Miranda Anugrah Usman
Ketgam : Miranda Anugrah Usman
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Miranda Anugrah Usman

(Mahasiswi Universitas Halu Oleo)

 Sepanjang tahun 2018 ini menjadi tahun kesedihan yang mendalam bagi ummat Islam. Bagaimana tidak, kedzaliman demi kedzaliman terus terjadi dan menimpa saudara kita di berbagai belahan dunia. Mulai dari Palestina, Suriah, Burma, bahkan terakhir di penghujung tahun ini gempar berita tentang saudara seiman kita di Uyghur, Xinjiang China yang mendapat perlakuan keji dari antek-antek komunis biadab. Dimana mereka dipaksa untuk menanggalkan akidahnya dan dilarang untuk menjalankan ibadah sebagaimana layaknya ummat muslim.

Kesedihan yang amat mendalam kita rasakan saat melihat perlakuan para laknatullah alaih yang menyiksa saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia. Namun apa yang bisa kita perbuat untuk mereka? Apakah dengan  mengirimkan doa sudah cukup untuk menghilangkan penderitaan mereka ? Tentu tidak. Ummat harus sadar bahwa kita harus mempunyai kekuatan besar agar dapat melawan perlakuan-perlakuan hina yang terus digencarkan terhadap ummat selama ini.

Diammnya kita sebagai ummat Islam di Indonesia, sepertinya telah mendatangkan teguran demi teguran dari Allah SWT. Berbagai bencanapun datang silih berganti di tanah air, dimulai dengan adanya Gempa berkekuatan 6,9 SR yang menghantam pulau Lombok pada tanggal 5 Agustus dan peristiwa naas ini telah menelan 468 korban jiwa.

Sebulan setelahnya gempa bumi kembali mengguncang Palu dan sekitarnya berkekuatan 7,7 SR dan tsunami setinggi 1,5-3 meter di Donggala, Palu yang membawa kehancuran pada akhir September lalu. Tak hanya mengalami gempa dan tsunami, daerah ini juga mengalami fenomena alam yang dikenal dengan likuifaksi yang menelan beberapa daerah dan menjadi catatan kelam bencana Alam di tanah Air. Lebih dari 330 ribu orang kehilangan tempat tinggal dari bencana ini.

Menjelang tutup tahun, kembali lagi terjadi banjir rob-tsunami pada 22 Desember di Selat Sunda. Jumlah korban tsunami yang menerjang daerah Banten dan Lampung sebanyak 222 meninggal dunia, 843 luka dan 28 orang hilang (BNP,23/12). Akibat tsunami tersebut, sebanyak 558 unit rumah rusak, 9 hotel rusak berat, 60 warung kuliner dan 350 perahu rusak (Terkini.id 24/12/18).

Dengan adanya musibah yang datang silih berganti ini, seharusnya kita lebih dapat bermuhasabah diri. Sudah berapa banyak maksiat yang kita lakukan di hadapan Allah dan telah berapa lama kita berpaling dari hukum-Nya. Seharusnya dengan adanya bencana  mematikan ini kita menjadi lebih sadar bahwa ini merupakan kesempatan yang Allah berikan agar kita dapat memperbaiki diri dan menghabiskan waktu kita di dunia dengan fokus untuk menerapkan aturan-Nya secara kaffah dalam kehidupan saat ini.

Salah satu penyebab terjadinya musibah terus menerus biasanya terjadi akibat dari berbagai kemaksiatan manusia dan pelanggaran mereka terhadap syariat Allah SWT. Terutama yang dilakukan oleh para penguasa dalam wujud berbagai tindakan dzalim yang mereka lakukan. Sebagaimana telah diperingatkan oleh Allah SWT dalam firmannya surah Ar-Rum (30) : 41 “telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali“

Allah Swt. dalam ayat tersebut telah memberitakan kepada kita bahwa kerusakan yang terjadi di bumi merupakan ulah dari tangan-tangan kita sendiri tak terkecuali para pemimpin negeri ini. Bagaimana tidak, setiap kebijakan yang mereka ambil maka akan berdampak panjang bagi kehidupan negeri ini. Lalu bagaimana bila kebijakan yang diambil tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. ?

            Berangkat dari sinilah, kita harus lebih menekankan dan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah kehidupan kita tak terkecuali dengan mengkritik setiap kebijakan yang diambil oleh pemimpin negeri ini apabila tidak sesuai dengan syariat dan aturan-aturan yang berasal dari sang khaliq yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dengan meninggalkan semua hukum jahiliyah, mencampakkan hukum (thogut) buatan manusia dan berpaling untuk menegakkan hukum-hukum Allah melalui sebuah institusi besar yaitu Khilafah ala minhaj an-nubuwwah, in syaa Allah setiap musibah yang menimpa ummat saat ini akan berakhir berkah dan saudara-saudara kita yang tengah mengalami penindasan di berbagai belahan duniapun akan tentram hidup didalamnya.

Menjadi renungan bagi kita dari QS. Al-Maidah ayat 49, “Dan hendaklah kamu berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayaimu atas sebagian yang Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang Allah turunkan) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka karena dosa-dosa mereka.” Wallahu’alam bi ash-shawab (***)


Editor : Randa

Publizer : Iksan