Perayaan Tahun Baru Jurus Jitu Perusak Akidah

oleh
Ketgam : Risnawati
Ketgam : Risnawati
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Risnawati

(Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah)

Tepat jam 12 malam terompet akan ditiup. Semburat warna warni pesta kembang api akan menghiasi langit. Tak ketinggalan, hingar bingar pertunjukan musik satu paket dengan pesta pora. Hingga dentuman lonceng tahun baru dibunyikan, gemuruh teriakan ‘Happy New Year’ mulai menggema. 

Dilansir dalam Jakarta, Kompas.com – Perayaan malam Tahun Baru 2019 di wilayah Jakarta Utara rencananya akan terpusat di kawasan Danau Sunter, Senin (31/12/2018) mendatang.

“Kami lokalisir di Danau Sunter semua. Sudah, ke Danau Sunter saja untuk sama-sama melepas tahun 2018 untuk ke 2019,” kata Wakil Wali Kota Jakarta Utara Ali Maulana Hakim di kantornya, Senin (17/12/2018).

Ali menuturkan, perayaan malam Tahun Baru di Danau Sunter akan dimeriahkan oleh hiburan berupa sajian musik dan budaya khas Betawi.

Masyarakat pun diundang untuk menikmati ikan bakar bersama-sama. “Semua komponen masyarakat diundang. Ini sebenarnya kegiatan kebersamaan meramaikan malam tahun baru, tetapi kami isi dengan lomba bakar ikan,” kata Ali.

Kendati dipusatkan di Danau Sunter, Ali menyebut tiap kelurahan di Jakarta Utara juga boleh mengadakan perayaan Tahun Baru dengan gaya masing-masing. Ali menambahkan, Jalan Danau Sunter Selatan di sisi utara Danau Sunter akan ditutup selama perayaan malam Tahun Baru.

Bagi mayoritas manusia di seluruh dunia, tahun baru memang menjadi perayaan yang sangat populer. Cara merayakannya pun sangat beragam, mulai dari konvoi di jalanan, pesta kembang api, konser musik, hingga pesta minuman keras pun dapat terlaksana sesuka hati. Semuanya bersuka ria menyambut perayaan tahun baru seolah menjadi suatu hal yang sangat dinanti-nanti.

Itulah yang akan kita temui setiap malam pergantian tahun. Energi yang begitu kuat menggiring milyaran manusia di penjuru dunia untuk ikut terlena didalamnya, terbuai dengan sukacitaannya. Yang membuat miris, umat Islam turut serta memeriahkan, tanpa memahami sejarah dan dasar di balik perayaan tahun baru masehi ini.

Namun tahukah Anda, akan sejarah perayaan tahun baru masehi yang sebentar lagi akan dirayakan ini?

Perayaan Tahun Baru

Sepekan setelah Natal, 25 Desember, tibalah tahun baru Masehi tanggal 1 Januari. Umat kristiani biasa menggabungkan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru. Tak sedikit umat Islam yang latah terjebak promosi kekafiran dengan mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru juga.

Banyak keyakinan batil (mitos/khurofat) yang ada pada malam tahun baru. Di antaranya, siapa yang meneguk segelas anggur terakhir dari botol setelah tengah malam akan mendapatkan keberuntungan. Jika dia seorang bujangan, maka dia akan menjadi orang pertama menemukan jodoh dari antara rekan-rekannya yang ada di malam itu. Keyakinan lainnya, di antara bentuk kemalangan adalah masuk rumah pada malam tahun tanpa membawa hadiah, mencuci baju dan peralatan makan pada hari itu adalah tanda kesialan, membiarkan api menyala sepanjang malam tahun baru akan mendatangkan banyak keberuntungan, dan bentuk-bentuk khurafat lainnya.

Sesungguhnya keyakinan-keyakinan batil tersebut diadopsi dari keyakinan batil Nasrani. Yang hakikatnya, mengadopsi dan meniru budaya batil ini adalah sebuah keharaman. Karena siapa yang bertasyabbuh (menyerupai) kepada satu kaum, maka dia bagian dari mereka.

Dalam sejarahnya Gaisus Julius Caesar, adalah seorang kaisar Romawi orang pertama yang membuat penanggalan kalender pada  tahun 45 SM. Lalu dalam perkembangannya, seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius kemudian memanfaatkan penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus.

Pope (Paus) Gregory III mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa. Bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja.

Orang Romawi mempersembahkan hari itu (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke masa depan dan sebuahnya lagi menghadap ke masa lalu. Tahun Masehi sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Kristen. Masehi adalah nama lain dari Isa Al Masih.

Seiring muncul dan berkembangnya agama Nashrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan suci sepaket dengan Natal. Itulah sebabnya ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu, “Merry Christmas and Happy New Year”. Padahal, tahukah kita bahwa ini adalah bentuk tasyabuh?

Pandangan Islam Tentang Tasyabbuh

At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya.

Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.

Maukah kita dikatakan sebagai orang yang termasuk dari golongan mereka? Tentu saja tidak. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim tidak ikut-ikutan untuk merayakan perayaan tahun baru.

Sebab dalam Islam kita diajarkan untuk mensyukuri waktu yang diberikan untuk menjadi manusia yang lebih taat. Bukan justru menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan dunia semata. Karena hal itu merupakan perbuatan yang disukai oleh setan. Sebagaimana firman Allah Swt: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra: 27).

Alhasil, tradisi merayakan tahun baru dengan berbagai cara; langsung atau tidak- telah ikut-ikutan memeriahkan syi’ar agama kafir. Syi’ar kekufuran semakin besar dan menjadi-jadi. Tanpa disadari umat Islam banyak terjebak pada tindakan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang kafir dalam perayaan tersebut. Di sisi lain, tradisi perayaan tahun baru dihiasi dengan berbagai kemaksiatan dan perkara yang disenangi syetan. Muslim yang baik hendaknya menghindari lagkah-langkah syetan. Semoga kita semua terhindar dari segala perbuatan yang sia-sia. Wallahu a’lam bi ash-shawab. (***)


Editor     : Armin

Publizer : Iksan