Tsunami Banten dan Urgensi Muhasabah

oleh
Ketgam : Zulhilda
Ketgam : Zulhilda
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Zulhilda, S.Pd

(Pemerhati Sosial)

Bencana tsunami yang terjadi pada sabtu 22 Desember 2018 lalu telah memporak-porandakan daerah Banten dan sekitarnya. Bencana ini telah memakan korban sedikitnya 200 orang meninggal dan ratusan lainnya luka-luka. Tsunami ini terjadi disalah satu pantai di Banten yang dimana pada saat itu sedang berlangsung suatu acara gathering oleh salah satu PLN didaerah tersebut.Sebelumnya BMKG setempat sempat memberikan peringatan mengenai gelombang tinggi untuk tidak berada disekitar Selat Sunda pada periode 22 hingga 25 Desember. Dilansir dari Brilio.net pada Senin, 23 Desember 2018 kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, ” jangan berada di pantai Selat Sunda itu, jangan kembali dulu,” ujarnya saat melangsungkan konferensi pers mengenai tsunami ini.

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo nugroho mengatakan bahwa bencana tsunami ini merupakann fenomena yang langka. Melalui akun twiternya  Ia mengatakan bahwa tsunami ini ada kaitannya dengan erupsi gunung anak krakatau dan gelombang pasang saat purnama. Anehnya, letusan gunung anak krakatau juga tidak besar. “Fenomena tsunami di Selat Sunda termasuk langka. Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. Tremor menerus namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigaikan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu. Itulah sulitnya menentukan penyebab tsunami di awal kejadian,” cuitan akun Twitter @Sutopo_PN

Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat mengenai penyebab utama terjadinya tsunami Banten. Jika ditelisik lebih mendalam bencana ini bukan semata-mata merupakan gejolak alam akan tetapi bencana ini merupakan teguran dari Allah SWT agar kita bermuhasabah dalam menyikapi setiap musibah yang melanda kita. Sebagaimana firman Allah SWT dalam TQS Ar-rum [30]:41 :

Telah tampak kerusakan didaratan dan dilautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Alah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan -Nya).

 

Harus disadari bahwa tsunami Banten beberapa waktu lalu merupakan musibah akibat kesalahan yang kita lakukan sehingga mengundang murka Allah SWT. Maraknya kemaksiatan yang terjadi dimana-mana bisa jadi merupakan salah satu penyebab terjadinya tsunami di Banten. Musibah yang melanda negara kita bisa dicegah bahkan dihentikan yakni dengan cara menerapkan syariat Allah SWT dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal ini pemerintah sangat bertanggung jawab dalam menerapkan segala bentuk hukum untuk menindaki setiap perkara maksiat yang masih marak terjadi. Jika pemerintah memutuskan hukuman bagi pelaku maksiat maka bisa dipastikan bahwa kemaksiatan di negeri ini bisa terminimalisir. Dalam hal ini Rasul SAW bersabda:

“Satu hadd (hukuman) yang ditegakkan dimuka bumiadalah lebih baik untuk manusia dari pada mereka diguyur hujan tiga puluh atau empat puluh pagi. (HR.Ahmad)”.

Akan tetapi, tidak ada langkah tegas dari pemerintah untuk kemudian menghentikan segala bentuk maksiat yang terjadi sehingga musibah masih kerap melanda negeri kita. Beberapa hari berselang bencana tsunami Banten ada beberapa wilayah lain dari negeri ini juga dilanda bencana. Ini menjadi bukti bahwa betapa pentingnya seorang pemimpin untuk kemudian menjatuhkan hukuman atau mengeluarkan perintah untuk menghukumi para pelaku maksiat agar Allah menimpakan kebaikan bagi negeri kita. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehing kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka kerjakan” (TQS Al-Araf[7]:96).

Akan tetapi yang terjadi pemerintah seakan buta atas kejadian-kejadian yang menimpa negeri ini sebagai akibat dari perilaku maksiat yang masih dilakukan segelintir orang. Sehingga musibah yang melanda bumi pertiwi tidak lantas menjadi ‘cambuk’ bagi kita  untuk lebih bermuhasabah diri. Wallahua’alam. (***)


Editor     : Randa

Publizer : Iksan