Derita Uighur, Sampai Kapan?

oleh
www.viva.co.id
www.viva.co.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Sri Rahayu, S.Si

( Aktivis Muslimah)

Sejak beberapa tahun terakhir, kekerasan terhadap muslim Uighur terus meningkat. Belum lama ini Uighur kembali menjadi sorotan Internasional setelah santer diberitakan bahwa pemerintah komunis China telah menahan muslim Uighur di sebuah kamp penahanan.

Dalam laporan Amnesti Internasional, sekitar satu juta penduduk Uighur mengalami penyiksaan dan tidak diketahui nasibnya ketika dimasukkan ke kamp penahanan yang disebut sebagai sekolah re-edukasi. Bahkan pihak keluarga mengaku tak lagi mendapat kabar setelah keluarga mereka dimasukkan ke kamp tersebut (www.bbc.com, 20/12/2018).

Pemerintah China menyangkal berbagai tuduhan yang ada. Perang melawan terorisme menjadi dalih untuk melakukan persekusi terhadap muslim Uighur. Mereka menyatakan bahwa orang-orang yang dijebloskan ke kamp penahanan adalah ekstrimis dan teroris yang harus diberi pendidikan ulang.

Namun, World Uighur Congress menyatakan dalam laporannya bahwa para tahanan dijebloskan ke penjara tanpa ada dakwaan. Mereka tidak diberi makan cukup. Dipaksa untuk meneriakkan slogan komunis dan bersumpah setia kepada presiden China, Xi Jinping.

Seperti yang dialami oleh salah seorang etnis Uighur yang ditangkap pada 3 November lalu. Padahal ia tidak melakukan apa-apa. Ia dipaksa untuk menandatangani dokumen yang menyangkal adanya  penyiksaan di dalam kamp tersebut. Belakangan diketahui kondisi kesehatannya memburuk berdasarkan hasil kunjungan keluarganya pada 13 Desember lalu (www.bbc.com, 20/12/2018).

Tak hanya melakukan penahanan, pemerintah komunis China juga melakukan pengrusakan masjid di wilayah Ningxia barat laut. Menyegel sejumlah masjd sehingga orang-orang sulit melakukan sholat. Melarang pelaksanaan berbagai praktik agama, diantaranya larangan memelihara janggut dan memakai jilbab di ruang publik. Larangan memberi nama islami kepada bayi yang lahir. Bahkan muslim Uighur dilarang berpuasa dan dipaksa mengkonsumsi makanan dan minuman haram.

Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh pemerintah komunis China adalah karena kebencian mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Berbagai upaya keji dilakukan untuk mencabut identitas Islam dari Muslim Uighur di wilayah Xinjiang.

Bungkamnya Pemimpin Muslim Dunia

Kedzaliman yang dialami Muslim Uighur tentu sangat menyakiti hati ummat Islam. Berbagai protes telah dilakukan di berbagai negara. Namun ironisnya, pemimpin muslim dunia seolah tutup mata terhadap apa yang menimpa muslim Uighur.

Dilansir dari www.eramuslim.com, 12/09/2018, bungkamnya pemimpin dunia terkait hal ini cukup mengejutkan. Dari 49 negara dengan mayoritas penduduk muslim di seluruh dunia, tidak ada satupun yang meminta kejelasan atau mengutuk China atas eskalasi pelanggaran HAM ini.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia pun tak berani bersuara terkait persoalan Uighur. Kedekatan pemerintah dengan China menjadi salah satu ganjalan sehingga Indonesia tidak berani mengecam negeri tirai bambu tersebut.

Peneliti Kebijakan Luar Negeri dan Politik Asia Tenggara dari Internasional Institute for Strategic Studies (IISS), Aaron Connelly menganggap Jokowi akan berpikir dua kali sebelum menyinggung China terkait hal ini di depan publik. Salah satunya karena kerja sama ekonomi terutama modal Beijing yang cukup besar tertanam di Indonesia.

Connelly menilai, Jokowi sendiri masih ingin menarik insiatif China untuk bekerja sama dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Hal ini tidak mungkin dilakukan jika China merasa tersinggung dengan Indonesia.

Senada dengan Connelly, pengamat politik internasional dari Universitas Indonesia, Agung Nurwijoyo, menganggap Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa selain menggunakan jalur dialog dan diplomasi untuk membujuk China bersikap terbuka dalam menjelaskan situasi Xinjiang. Soft diplomacy lebih baik digunakan dalam isu ini karena teguran keras kepada pemerintah China bisa mengganggu hubungan bilateral antara kedua negara (www.cnnindonesia.com, 21/12/2018).

Sungguh bungkamnya pemimpin muslim dunia telah mengecewakan ummat Islam. Kerjasama berbasis hutang dengan China telah menimbulkan ketergantungan yang tinggi terhadap negara komunis tersebut. Pemimpin muslim dunia menjadi kerdil dihadapan China. Jangankan mengirim pasukan, bersikap tegas saja tidak bisa. Selama negeri-negeri muslim berada dibawah tekanan China tidak akan ada keberanian untuk bersuara dan melakukan perlawanan.

Khilafah Solusi Tuntas Persoalan Muslim Uighur

Sungguh Uighur telah lama menjerit meminta pertolongan. Namun tak satupun negeri Muslim yang berani menolong mereka. Padahal Allah Subhanahu Wata’ala telah menyatakan dalam firman-Nya yang artinya ” Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan ” (TQS. Al Anfal : 72). Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menolong mereka. Bukankah mereka adalah saudara kita? Maka tidak pantas bagi kita untuk menzalimi mereka atau membiarkan mereka terzalimi.

Sesungguhnya kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah komunis China adalah kejahatan yang diorganisir oleh negara, maka butuh kekuatan seimbang untuk melawannya. Ummat butuh kekuatan negara yang bisa menghimpun seluruh potensi ummat Islam yang mampu membebaskan kaum muslim Uighur dari penyiksaan. Dan negara itu tidak lain adalah Khilafah.

Mengapa harus Khilafah? Karena Khilafah adalah junnah/perisai. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :” Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia ” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Khilafah ibarat tameng yang akan melindungi ummat Islam dari serangan musuh dan akan membebaskan seluruh ummat Islam dari penjajahan negara-negara Kafir.

Sejarah telah mencatat bagaimana perlakuan tegas Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang menyatakan perang terhadap Yahudi Bani Qoinuqa’ yang telah melanggar kehormatan seorang muslimah. Hingga mereka diusir keluar dari Madinah. Pun yang dilakukan oleh Khalifah Al Mu’tashim Billah. Demi membebaskan seorang muslimah yang dipenjara oleh Romawi.

Beliau mengirim tentara yang ujungnya telah sampai di tempat musuh sedangkan pangkalnya masih di ibukota Khilafah. Maka luluh lantak pasukan Romawi dibuatnya.

Sungguh apa yang menimpa muslim Uighur dan negeri-negeri muslim lainnya semakin menunjukkan urgensitas Khilafah sebagai pelindung ummat Islam.  Sudah saatnya kaum muslimin seluruh dunia menghilangkan sekat-sekat yang menghalangi persatuan mereka. Sudah saatnya ummat Islam bersatu dibawah satu kepemimpinan ummat yang akan mengakhiri penderitaan bukan hanya kaum muslim Uighur tapi juga muslim Rohingya, Palestina, Suriah dan negeri-negeri muslim lainnya. Wallahua’lam.(***)


Editor : Armin

Publizer : Iksan