Prostitusi Artis Buah Penerapan Sistem Demokrasi Kapitalis

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Mutia Kanza

(Ibu Rumah Tangga)

Tertangkapnya dua selebriti, Vanessa Angel dan model berinisial AS, ketika diduga tengah ‘melayani’ tamu mereka di Surabaya, Jawa Timur, memperpanjang daftar selebriti di Indonesia yang disinyalir terjun ke dunia prostitusi online.Menurut polisi, Vanessa memasang tarif Rp80 juta sekali kencan, sementara AS mematok harga Rp25 juta.

Sosiolog Imam Prasodjo menilai, praktik prostitusi yang dilakoni oleh selebriti tercipta sebagai dampak era kapitalisme global.”Segalanya bisa jadi komoditi, bisa diperjualbelikan, termasuk imaji.”Menurut Imam, sosok selebriti yang tidak hanya berpenampilan menarik, tetapi juga punya ketenaran, berpendidikan, dan memiliki karier, memiliki nilai jual yang lebih di mata konsumen bisnis prostitusi. Mereka dianggap terbuai imaji dari sosok tersebut.(bbc.com, 06/01/19).

Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jawa Timur menetapkan dua orang tersangka dalam kasus prostitusi online yang melibatkan artis. Kedua orang yang ditetapkan tersangka adalah mucikari yang berasal dari Jakarta Selatan, berinisial TN (28) dan ES (37).

Direktur Kriminal Khusus Polda Jatim Kombes Pol. Ahmad Yusep Gunawan mengungkapkan, kedua tersangka biasa mempromosikan artis dan selebgram melalui akun instagram-nya, terkait jasa layanan prostitusi. Yusep pun menduga, banyak artis dan selebram yang terlibat dalam prostitusi online tersebut. (Republika.co.id, 06/01/19).

Semakin maraknya kasus artis Indonesia yang terlibat prostitusi merupakan bukti bahwa sistem Demokrasi Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini tidak mampu mengatasai persoalan tersebut. Pasalnya sistem Kapitalisme Demokrasi sebagai pengagung nilai kebebasan termasuk di antaranya kebebasan berperilaku memiliki pemahaman bahwa setiap orang memiliki otoritas penuh atas tubuhnya.

Sehingga apabila ada seorang artis yang menjual dirinya kepada pria hidung belang atas kehendak dirinya sendiri maka perbuatan itu  tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal meskipun menjadi penyebab kerusakan moral secara masif. Justru perbuatan tersebut bagian dari Hak Asasi Manusia yang tidak boleh diganggu.

Disamping itu dalam sistem Kapitalisme Demokrasi standar kebahagiaan seseorang adalah materi. Sehingga terlibatnya artis dalam dunia prostitusi dianggap  hal yang wajar karena dunia artis tidak lepas dari gaya hidup mewah. Sehingga mereka butuh pekerjaan sampingan untuk bisa memenuhi kebutuhan gaya hidup glamor dan hedonisme.

Sistem Kapitalisme Demokrasi telah menjadikan seseorang termasuk artis meyakini bahwa kebahagiaan bersumber dari barang-barang mewah dan fasilitas wah yang mereka miliki dan dapatkan.

Dalam kasus Vanessa Angle dirinya hanya ditetapkan sebagai saksi dalam kasus prostitusi online tersebut sehingga ia tidak harus ditahan. Polisi baru menetapkan mucikari sebagai tersangka.

Bahkan melalui akun isntagramnya pengacara kondang Hotman Paris menjelaskan menurutnya di dalam Undang-Undang di Indonesia tidak ada pasal yang meyatakan bahwa tindakan prostitusi online merupakan tindakan pidana sebab kedua belah pihak sama-sama mendapat keuntungan dan si korban tidak tereksploitasi (tribunnews.com, 08/01/19).

Terbukti bahwa kita tidak akan pernah bisa berharap sistem Kapitalisme Demokrasi mampu mengatasi secara serius berbagai tindakan kemaksiatan termasuk prostitusi online. Justru ketidak tegasan hukum dalam sistem ini menjadi penyebab semakin tumbuh suburnya kemaksiatan tersebut.

Sudah saatnya umat mencampakan sistem rusak Kapitalisme Demokrasi dan menggantinya dengan sistem Islam yang akan menutup setiap celah kemaksiatan dengan penerapan sanksi yang tegas berdasarkan al Quran dan as Sunnah.Umat seharusnya kembali hidup dengan penerapan Islam Kaffah dalam bingkai Khilafah Minhajjin Nubuwah.Wallahu a’lam bi ash-shawab.(***)


Editor : Armin

Publizer : Iksan