Prostitusi Marak Freesex Merajalela, Salah Siapa?

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Drg Endartini Kusumastuti

(Praktisi Kesehatan Kota Kendari)

Kasus prostitusi online kembali marak. Tertangkap tangannya beberapa artis di sebuah hotel di Surabaya, mewarnai berita tentang rusaknya kehidupan sosial masyarakat kita di awal tahun 2019. Belum lepas dari ingatan kita, kasus serup dengan artis sebagai obyek pekerjanya. Alih-alih menjadi sebuah aib di negeri ini, makin banyak bertebaran di sosial media pihak yang melakukan pembelaan terhadap mereka. Lebih parah lagi ada yang membandingkannya dengan pekerjaan seorang ibu rumah tangga.

Di era milenial pertarungan opini melalui sosial ini, seolah kita diarahkan untuk memaklumi dan memberikan ruang kepada ara pesohor itu untuk mengekspresikan kebebasan tubuhnya sebagai hak miliknya pribaditermasuk dalam menentukan ‘harga dirinya’ dri segi materi. Justru ketika ada yang berpendapat bahwa itu adalah perbuatan maksiat, dan memintanya untuk segera bertaubat, menuai bully-an dari netizen lainnya. Ironis memang.

Masih terkait kehidupan freesex yang merajalela dengan bisnis di balik itu semua, seperti yang dilansir oleh detiksultra, di Kendarimenjelang malam tahun baru pembelian kondom di apotek habis. (https://detiksultra.com/malam-tahun-baru-kondom-di-apotek-habis-sejak-sore). Hal ini makin menunjukkan bahwa kehidupan yang serba bebas, di kalangan masyarakat sudah menjadi sebuah fenomena yang umum, bukan lagi menjadi aib.

Masyarakat digiring seolah menjadi hal biasa untuk menghabiskan malam tahun baru bersama dengan freesex sebagaimana kehidupan di Barat yang serba liberal. Wanita di era ini makin ditanamkan untuk bisa mengekspresikan dirinya di ruang publik termasuk dalam hal pribadi seperti seksual.Wanita seolah sangat berharga ketika dia memiliki sesuatu yang bisa diperolehnya secara materi. Semakin besar materi yang dia dapat, semakin berhargalah dia.

Jika kita mencermati arah opini yang berkembang saat ini, masyarakat seolah semakin digiring, bahwa kebebasan berekspresi adalah hak setiap individu yang harus dijaga dan dipupuk. Ketika seseorang melakukan kemaksiatan dalam sudut pandang Islam, beberapa pihak pun menilai untuk tidak menyudutkan seseorang karena perbuatan itu, meski tahu perbuatan itu salah.

Apalagi di negeri ini, yang sistem hukumnya bergantung kepada pemilik modal dan warisan barat yang amat menjunjung tinggi kebebasan. Perbuatan perzinahan tidak akan pernah masuk delik kriminalitas, disandingkan dengan pembunuhan, perampokan dan pencurian. Tetapi masuk dalam delik aduan. Selama tidak ada pihak yang mengadu, alias suka sama suka, maka kasusnya tak akan pernah terjadi.

Bila hal ini dibiarkan tanpa adanya perubahan ataupun upaya pencegahan, bukan tidak mungkin beberapa tahun mendatang negeri ini akan musnah, karena generasinya telah rusak tergerus dalam hal pergaulan bebas yang tak ada batasnya. Negeri ini penduduk dengan mayoritas muslim, tapi tak menjadikan Islam sebagai sandaran dan poros dalam hidupnya. Akibatnya banyak kerusakan yang terjadi, termasuk generasi mudanya.

Negarapun seolah tak ada upaya untuk membuat kondisi ini berubah. Karena tiap tahun, fenomena freesex, prostitusi selalu menjadi polemik di masyarakat. Negara seolah tak berperan dalam menangkis gelombang kebebasan di kalangan masyarakat yang semakin rusak. Berbagai musibah dan ujian tak menjadi peringatan untuk berhijrah menjadikan aturan Allah sebagai satu-satunya Pengatur dalam sendi kehidupan.

Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, “Tenanglah… belum datang saatnya bagimu.” Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian… maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!” Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu.

Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.

Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, “Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian’.”

Sistemsaatinijelastak akan mampu memberikan solusi bagi kasus ini. Alih-alih memberikan solusi, bahkan semakin rusak dari masa ke masa. Ketika aturan yang diterapkan tak mampu membuat jera pelakunya, dan tak mampu menghentikan kemaksiatan di masyarakat, maka sudah menjadi sebuah kewajiban bagi negara untuk mengembalikan negeri ini menjadi sebuah negeri yang baldatun thayyobatun warabbun ghaffur, sebuah negeri yang dirahmati Allah karena menerapkan aturanNya.(***)


Editor : Armin 

Publizer : Iksan