Bencana Tak Sekedar Musibah, Tapi Muhasabah

oleh
Lia Amalia
Lia Amalia
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Lia Amalia

(Anggota SWI Kolaka)

Republika.Co.Id, Bandung — Bencana tsunami menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda, di antaranya di pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan. Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Wawan Irawan, mengatakan sementara ini pihaknya tak bisa menyimpulkan dulu tsunami tersebut terjadi akibat krakatau atau bukan.

“Kalau dari sisi kegempaan jelas itu tsunami bukan karena letusan Krakatau. Tapi yang perlu kita cek itu apakah ada longsoran tubuh dari Krakataunya sendiri. Sehingga menyebabkan tsunami,” ujar Wawan kepada wartawan, Ahad (23/12).

Menurut Wawan, kalau tsunami tersebut disebabkan oleh Gunung Krakatau, seharusnya kalau terjadi longsoran ada letusan yang besar sekali sehingga terjadi tsunami. Sejauh ini, memang pernah terjadi tsunami yang dipicu oleh Krakatau. “Itu ya pada saat letusan 1883. Salah satunya ada longsoran Krakataunya. Besarannya di atas 6 BE nya,” katanya.

Bencana kembali terjadi, bukti bahwa pemerintah kurang memperhatikan mitigasi bencana. Mitigasi bencana  menurut UU No.24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, dalam hal ini ancaman gempa bumi,serta bertujuan  mengurangi dan mencegah resiko kehilangan jiwa serta perlindungan terhadap harta benda dengan pendekatan struktural dan nonstruktural.

Mitigasi bencana adalah istilah yang di gunakan untuk menunjuk pada semua tindakan untuk mengurangi dampak dari satu bencana yang dapat dilakukan  sebelum bencana itu terjadi, Mitigasi bencana mencakup baik perencanaan dan pelaksanaan tindakan-tindakan untuk mengurangi  resiko-resiko yang membahayakan yang diakibatkan oleh ulah maanusia dan bahaya alam yang sudah di ketahui, serta proses perencanaan untuk respon yang efektif terhadap bencana-bencana yang benar-benar terjadi.

Melihat pentingnya upaya mitigasi bencana alam tersebut tampaknya harus segera dilakukan oleh semua pihak yang diprakarsai oleh departemen sosial. Mitigasi gempa tersebut harus dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan semua pihak, sehingga kerugian fisik, jiwa dan harta benda, dapat di minimalkan.

Berbagai kejadian mengenaskan yang terjadi dalam bencana tersebut adalah merupakan pengalaman berharga. Seringkali  penyesalan itu  terulang lagi hanya karena tidak ada inisiatif untuk memulai mitigasi bencana yang sangat penting.

Meskipun pada umumnya bencana alam tidak mungkin dicegah, akan tetapi lebih baik lagi jika dilakukan usaha-usaha pencegahan atau pengurangan bencana alam. Maka dari itu peran pemerintah sangat di butuhkan, harusnya pemerintah tidak abai akan usaha mitigasi bencana tersebut, seperti memperkuat bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan, pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi, pendidikan kepada masyarakat tentang gempa bumi, sehingga masyarakat tau apa yang akan di lakukan jika sekiranya akan terjadi bencana gempa.

Namun jika di perhatikan pemerintah hanya bergerak pasca gempa namun seolah abai terhadap usaha pencegahan, padahal sudah menjadi tugas pemerintah untuk menanggulangi bencana, ini terjadi sebab pemerintah mengadopsi sistem kapitalis yang hanya memikirkan materi atau keuntungan yang bisa didapatkan dari masyarakatnya tanpa memikirkan apa yang masyarakat butuhkan untuk hidup sejahtera, hanya memperdulikan diri sendiri, tanpa menghiraukan kemaslahatan umat.

  Bencana, ulah manusia

Bencana seolah tak pernah mau beranjak dari negeri ini,masih terasa duka yang menimpa saudara-saudara kita yang ada di Lombok yang diguncang  oleh gempa dengan kekuatan 7,0 SR yang mengakibatkan ratutan korban meninggal dunia, ribuan penduduk mengungsi dan rumah-rumah yang rusak. Kemudian disusul bencana gempa dan tsunami yang menimpa saudara-saudara kita yang ada di Sulawesi tengah tepatnya di Palu dan Donggala dengan kekuatan 7,4 SR dengan ketinggian tsunami kurang lebih 5 meter, tak hanya itu gempa tersebut mengakibatkan likuifaksi yang menelan banyak korban jiwa, rumah dan bangunan lainnya.

Dan kabar duka kembali menimpa Indonesia dengan bencana tsunami yang terjadi di Banten dan sekitarnya. Berbagai macam bencana telah terjadi di Indonesia maka dari itu sudah saatnya pemerintah benar-benar melakukan tindakan serius untuk menanggulangi bencana, setidaknya untuk meminimalkan jumlah korban dan kerusakan yang diakibatkan oleh bencana tersebut.

Allah SWT berfirman : “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia  supaya  Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya) (TQS ar-Rum ayat 41).”

Sudah sangat jelas bahwa apa yang terjadi di bumi adalah ulah dari manusia itu sendiri yang tak memelihara lingkungan,berlaku sesuka hati tanpa melihat dampak yang akan timbulkan dari perilaku mereka, Kemudian memisahkan agama dari kehidupan menjadi salah satu turunnya murka Allah, sebab manusia tak lagi mengadopsi hukum Allah dalam setiap permasalahan mereka.

Pemerintah sudah seharusnya mengubah sistem kapitalisme-sekularisme  yang di adopsi agar masyarakat benar-benar terurusi secara keseluruhan,melayani masyarakat sesuai dengan Islam dan memberikan ketenangan pada masyarakatnya dengan sistem Islam yang mengatur segala bentuk  permasalahan yang di hadapi masyarakat sekarang ini. Termasuk penanggulangan bencana yang kurang maksimal menjadi faktor utama yang tak menemukan solusi tuntas.

Allah telah mengatur segala sesuatu untuk kelangsungan umat manusia di bumi, termasuk juga alam, maka dari itu sebagai manusia tugas kita untuk mengikuti seluruh aturan Allah. Dengan menerapkan Islam Kaffah dalam kehidupan baik dalam pemerintahan maupun pada masyarakat itu sendiri. Wallahu ‘alam.(***)


Editor : Armin 

Publizer : Iksan