Poligami, haruskah dihakimi?

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Halifah

(Mahasiswi Jurusan FKIP Bahasa Inggris – Universitas Lakidende)

Belum lama ini, poligami sempat menjadi perbincangan hangat media sosial di Indonesia. Penyebabnya adalah karena salah seorang penyanyi beken tanah air sekaligus anggota PSI yaitu Giring Ganesha atau lebih dikenal dengan nama Giring Nidji membuat iklan untuk PSI (Partai Solidaritas Indonesia) soal menentang poligami. Dalam videonya, vokalis Nidji itu menunjukkan ketidaksukaannya dan sangat menentang  dengan adanya poligami. (detikHot Selasa, 18 Des 2018)

Lalu, apa sih poligami itu?

Dilansir dari wikipedia, poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yg bersamaan.

Berkaitan dengan perceraian poligami, dalam hal ini pemerintah diwakili Dirjen Bimas Islam Depag Prof Nasaruddin Umar membeberkan, catatan pengadilan Agama diseluruh Indonesia menunjukkan, pada 2004 terjadi 813 perceraian akibat poligami. Setahun kemudian angka itu naik menjadi 879 kasus dan pada 2006 melonjak menjadi 983. Peningkatan yang cukup drastis, bukan?

Faktor penyebab banyaknya perceraian poligami adalah karena setelah berpoligami, salah satu isteri merasa tidak dinafkahi, entah itu isteri pertama atau isteri kedua. Kemudian banyak juga isteri yang tidak bisa menerima bahwa suaminya kawin dua, sehingga mengajukan cerai gugat dipengadilan. Faktor lainnya adalah salah satu isteri merasa tidak diperlakukan dengan adil. Hal ini tentu saja murni datangnya dari personalnya (lelaki yang melakukan poligami), bukan pada praktik poligami itu sendiri.

Selain itu, sekulerisasi yang berhasil meracuni pemikiran umat sekarang ini sangat mampu membuat kita terlena dengan pemikiran yang membuat kita semakin menjauhkan kita dengan Islam. Poligami yang sudah nyata dibolehkan didalam Islam, diangkat menjadi problematika yang dianggap menjatuhkan harkat dan martabat wanita, sedangkan perselingkuhan, perzinahan, LGBT yang sudah sangat nyata benar-benar menjatuhkan martabat bukan hanya wanita, tapi manusia secara keseluruhan , dibolehkan dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM).

Ya benar, dalam pandangan Islam, poligami adalah suatu hal yang dibolehkan. Hal ini berdasarkan pada dalil Q.S An-Nisa yang artinya :

“maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi dua, tiga atau empat, kemudian jika kamu takut tidak akan berbuat adil, maka kawinilah seorang saja.” (TQS. An-Nisa: 4)

Dalam hal ini Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali berpendapat bahwa :

Artinya, “Bagi kalangan Syafi’iyah dan Hanbaliyah, seseorang tidak dianjurkan untuk berpoligami tanpa keperluan yang jelas (terlebih bila telah terjaga [dari zina] dengan seorang istri) karena praktik poligami berpotensi menjatuhkan seseorang pada yang haram (ketidakadilan). Allah berfirman, Kalian takkan mampu berbuat adil di antara para istrimu sekalipun kamu menginginkan sekali.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang memiliki dua istri, tetapi cenderung pada salah satunya, maka di hari Kiamat ia berjalan miring karena perutnya berat sebelah.’ …

Bagi kalangan Hanafiyah, praktik poligami hingga empat istri diperbolehkan dengan catatan aman dari kezaliman (ketidakadilan) terhadap salah satu dari istrinya. Kalau ia tidak dapat memastikan keadilannya, ia harus membatasi diri pada monogami.

Berdasar firman Allah, ‘Jika kalian khawatir ketidakadilan, sebaiknya monogami,’”

(Lihat Mausu’atul Fiqhiyyah, Kuwait, Wazaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, cetakan pertama, 2002 M/1423 H, juz 41, halaman 220).

Beberapa ulama kontemporer juga memberi pendapat seperti Syaikh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad Al-Madan (beliau-beliau adalah ulama terkemuka Al-Azhar Mesir) lebih memilih memperkuat penjelasannya. Syekh Muhammad Abduh melihat kondisi Mesir pada masa itu memilih mengharamkan poligami. Syekh Muhammad Abduh mengatakan haram melakukan poligami bagi seorang yang merasa khawatir akan berlaku tidak adil (Muhammad Abduh, Al-Manar juz IV, halaman 350).

Poligami juga pernah terjadi dimasa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, misalnya dalam sejarah kehidupan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam melakukan praktik poligami, sebelumnya Beliau beristrikan hanya satu orang selama 28 tahun, yaitu Khadijah, barulah setelah Khadijah meninggal Rasulullahpun menikahi beberapa wanita. Kebanyakan dari mereka yang diperistrikan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam adalah janda mati, kecuali Aisyah Radiallahu Anha.

Dalam kitab Ibn Al-Katsir, sikap beristri lebih dari satu wanita yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam adalah upaya transformasi sosial. Mekanisme beristri lebih dari satu yang dilakukan oleh Nabi Mubammad Shalallahu Alaihi Wassalam adalah untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu nilai sosial perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristeri sebanyak mereka suka.

Sebaliknya, Nabi Muhammad membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam beristeri lebih dari satu wanita.

Berdasarkan fakta diatas, poligami merupakan hal yang memang dibolehkan dalam Islam dalam hal ini bertujuan untuk mensejahterakan wanita-wanita serta mengangkat harkat dan martabat mereka. Praktik poligami menuntut pelaku mampu berlaku adil, praktik poligamipun bisa saja diharamkan, misalnya poligami yang menjadikan isteri dan anak-anak terlantar atau poligami yang membuat sisuami berlaku zalim (tidak adil) tentu hal yang tidak diperbolehkan dalam Islam.

Oleh karenanya, apabila ada yang merasa harus menentang poligami, karena dianggap tidak adil dan menghancurkan perasaan wanita, maka pahamilah poligami secara keseluruhan, sehingga tidak terjadi lagi kebutaan pada Syariat yang berujung penentangan tak beralasan.


Editor : Armin

Publizer : Iksan