Kado Awal Tahun.  Harga Pangan Masih Melonjak

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Dwi Agustina Djati, S.S

(Pemerhati Berita)

Beberapa harga komoditas pangan mengalami kenaikan pada awal tahun 2019.Seperti harga daging kambing naik Rp2.785 menjadi Rp115.000 per kg.Selain daging kambing, beberapa harga komoditas yang mengalami kenaikan, yaitu Beras IR.I (IR 64) harga naik Rp59 menjadi Rp11.735 per kg, Beras IR.42/Pera harga naik Rp155 menjadi Rp12.643 per kg, Cabai Rawit Merah harga naik Rp750 menjadi Rp48.611 per kg.

Sedangkan harga komoditas yang mengalami penurunan, yaitu Daging Sapi Murni harga turun Rp1.502 menjadi Rp118.111 per kg. Selain itu juga Beras Setra I/Premium harga turun Rp100 menjadi Rp12.230 per kg dan Cabai Rawit Hijau harga turun Rp308 menjadi Rp28.388 per kg.(detik finance)

Kenaikan harga pangan seoalah menjadi sesuatu yang biasa terjadi.Setiap tahun kurang lebih 3-4 kali harga pangan mengalami kenaikan. Hari-hari besar umat beragama seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru memnjadi momentum berullang akan kenaikan harga. Ini masih ditambah jika kondisi dollar naik dan isu kelangkaan pangan terjadi.Jika harga pangan melonjak, sekali lagi rakyat yang merasakan efek kenaikan, meski tiap tahun gaji naik sekian persen tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meroket.

Pada akhirnya para bapak mencari tambahan pendapatan, ibu-ibu dipaksa keluar mencari nafkah meninggalkan anak-anak mereka dalam pengasuhan orang lain. Efek selanjutnya generasi pelanjut tanpa control, maka mereka berjalan tanpa arah dan tuntunan orang tua.Maka jangan heran jika banyak aak-anak depresi dan berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri.Betapa luar biasanya efek kenaikan harga pangan.Hingga mengarah pada kemerosotan akhlaq anak negeri.

Akar Masalah Kenaikan Harga Pangan

Banyak factor memang berkaitan dengan lonjakan harga pangan.Pertama, Stok pangan tidak memenuhi permintaan pasar, Kedua, gagal panen akibat cuaca,hama penyakit dan bencana, ketiga, penimbunan barang oleh mafia perdagangan dan keempat, masalah distribusi barang.Untuk persoalan pertama biasanya pemerintah menggandalkan impor untuk memenuhi permintaan pasar dala negeri, padahal di tingkat petani barang berlimpah, biasanya untuk produk bahan pangan dan sayuran.

Untk factor kedua sepertinya pemangku negeri ini seakan tak siap melakukan antisipasi.Negeri ini di kelilingi banyak gunung berapi dan dua musim, sehingga ancaman bencana pun sesungguhnya sudah bisa diprediksi. Pun demikian dengan factor ketiga dan keempat. Seharusnya mampu untuk diatasi dengan aturan undang-undang dan jeratan sanksi.

Ketegasan dalam pelaksanaan hokum saya kira akan mampu menyelesaikan persoalan. Sedang masalah distribusi yang tidak merata ini juga persoalan teknis yang bisa diatasi jika pemetaan permintaan tiap daerah jelas, sekaligus akses pembangunan seperti jalur transportasi dan moda transportasinya siap sedia.

 

Islam Menyelesaikan Lonjakan Harga Pangan

Sebagai seperangkat system kehidupan yang paripurna Islam mampu mengatasi harga pangan. Factor dominan yang terjadi di Indonesia terkait masalah lonjakan harga adalah penimbunan dan distribusi barang yang tidak merata. Jika terkait dengan masalah stok barang, hal ini bisa dilakukan dengan dua cara yakni peningkatan produksi dan impor.

Impor menjadi solusi jika memang produksi mengalami kegagalan atau tetap tidak mampu memenuhi permintaan pasar. Impor bukanlah target utama. Di masa lalu negeri ini mampu melakukan banyak ekspor barang pangan, maka sangat dimungkinkan dengan revousi 4.0 kejayaan itu akan bisa diulang.

Islam tidak membenarkan penimbunan dengan menahan stok agar harganya naik. Abu Umamah al-Bahili berkata: “Rasulullah SAW melarang penimbunan makanan” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi). Jika pedagang, importir atau siapapun menimbun, ia dipaksa untuk mengeluarkan barang dan memasukkannya ke pasar. Jika efeknya besar, maka pelakunya juga bisa dijatuhi sanksi tambahan dengan mempertimbangkan dampak dari kejahatan yang dilakukannya.Di samping itu Islam tidak membenarkan adanya intervensi terhadap harga.

Rasul bersabda: “Siapa saja yang melakukan intervensi pada sesuatu dari harga-harga kaum Muslimin untuk menaikkan harga atas mereka, maka adalah hak bagi Allah untuk mendudukkannya dengan tempat duduk dari api pada Hari Kiamat kelak (HR Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi)

Mekanisme pasar dalam pandangan Islam berjalan alami.Semua tergantung pada permintaan dan penawaran. Saat permintaan naik, penawaran tetap maka harga akan naik, sebaliknya jika permintaan turun dan penawaran tetap maka harga akan turun. Ekonom Islam Ibnu Taimiyah mengatakan “Mekanisme harga adalah proses yang berjalan atas dasar gaya tarik menarik antara konsumen dan produsen. Baik dari pasar output (barang) ataupun input (factor produksi). Sedangkan harga adalah sejumlah uang yang menyatakan nilai tukar suatu unit benda tertentu”.

Jika terjadi ketidakseimbangan supply dan demand (harga naik/turun drastis), negara melalui lembaga pengendali seperti Bulog, segera menyeimbangkannya dengan mendatangkan barang dari daerah lain. Inilah yang dilakukan Umar Ibnu al-Khatab ketika di Madinah terjadi musim paceklik.Ia mengirim surat kepada Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu di Bashrah yang isinya: “Bantulah umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam !Mereka hampir binasa.”

Selanjutnya, dalam Islam, distribusi menjadi salah satu bagian yang penting.Mendistribusikan barang kepada seluruh wilayah, sehingga tidak ada penimbunan di suatu wilayah dan kekurangan di wilayah yang lain. Pun system control penguasa terhadap pasar juga patut untuk dikritisi. Memaksimalkan fungsi lembaga pengendali sebagai control distribusi barang sangat diperlukan hari ini.

Apalagi jika menyangkut barang kebutuhan primer yang dibutuhkan setiap lapisan masyarakat. Sebagaimana kebutuhan akan beras, sayuran, daging, minyak, tepung terigu dan tempe. Jika semua dijalankan sesuai mekanisme Islam harapannya harga tidak akan mengalami lonjakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Wallahu’alam bi showab.(***)


Editor : Armin

Publizer : Iksan