, , ,

Narkoba Mengintai Negara Perlu Waspada

Ketgam : Mariana, S.Sos
Ketgam : Mariana, S.Sos

Oleh : Mariana, S.Sos

( Guru SMP S Antam Pomalaa – Kolaka )

 

Narkoba semakin mengancam generasi muda Sulawesi Tenggara( Sultra). Pekan lalu, Badan Narkotika Nasional Provinsi ( BNNP) Sultra berhasil meringkus kurir sabu bernama Daeng Sutte alias MA. Dia Tertangkap di Warung Coto Makassar, Jalan Poros Kolaka –Kendari, Desa Abeli Sawah, Kecamatan Anggamoloare, Kabupaten Konawe.Sabu yang dibawa seberat 5 kilogram. Kepala badan BNNP Sultra, Brigjen Pol Bambang Priyambadha menyatakan “ Kami berhasil menyelamatkan 25 ribu jiwa,”. Belakangan, fakta menarik terungkap. Ternyata, peredaran narkoba di Sultra dikendalikan di Makasar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kabid Pemberantasan BNNP Sulsel, AKBP Ustim Pangarian mengungkapkan,bandar narkoba di Kota Makassar punya jaringan nasional hingga internasional.( KENDARIPOS.CO.ID,29 Jan 2019).

Sesungguhnya kejahatan narkoba adalah sesuatu yang sangat mendesak untuk segera dihentikan peredarannya sebab jika tidak maka ancaman kehancuran peradapan suatu bangsa menjadi sesuatu yang niscaya sebab narkoba telah merusak sendi sendi kehidupan dan menjeremuskan manusia terutama generasi muda pada kerusakan mental dan syaraf. Sehingga potensi intelektual dan karakter pejuang dalam diri generasi menjadi sirna.

Telah dipahami bersama bahwa kebanyakan dari sasaran empuk narkoba adalah generasi muda yang potensi akalnya masih dalam tahap perkembangan, sayangnya serangan narkoba telah melumpuhkan akal cerdas mereka sehingga potensi pemikir dan petarung menjadi hilang. Dengan narkoba banyak remaja menjadi sakit mental dan susah untuk berfikir cerdas bahkan cenderung menjadi budak dan sangat berpotensi untuk dimanfaatkan dan dijajah, sikap kritis dan idealis dalam membela dan mengelola negerinya menjadi tak berarti. Generasi yang kecanduan narkoba akan rentan terkena banyak masalah, depresi, gangguan pola makan dan tidur, masalah ekonomi dan sosial,cenderung menyendiri dan tak memiliki semangat untuk belajar dan berfikir bahkan tidak memiliki semangat hidup.Dapat dibayangkan jika narkoba kemudian menyasar generasi emas suatu bangsa maka dapat dipastikan bahwa negeri itu akan karam sebab potensi pemikirnya telah dimatikan sejak dini.

Mengingatkan kembali tragedi perang candu yang dialami China sehingga berhasil di kuasai oleh Inggris, dimana saat itu bangsa-bangsa barat khususnya Inggris, Prancis, Rusia dan Amerika tengah menggencarkan perdagangan opium  ke negeri China, yang saat itu dibawah kekuasaan dinasti Qing. Menurut beberapa catatan, subtansi perang candu sesungguhnya bukan menjadikan China sebagai jajahan, akan tetapi lebih ditujukan kepada kepentingan perdagangan barat sekaligus melemahkan daya juang  rakyat. Candu atau opium kini disebut narkoba adalah sarana merusak bangsa karena dapat menghancurkan daya juang sebuah bangsa. Dan kerap kali, ia dijadikan modus kolonialisme imprealisme guna merusak moral sebuah bangsa. Karena kecanduan narkoba akhirnya daya juang untuk melawan penjajah menjadi sirna, apa yang nampak dihadapan baik benar atau salah menjadi samar, jangankan untuk melawan bahkan untuk berdiri saja sudah tak mampu. Orang yang telah kecanduan narkoba akan bersujud memohon untuk terus menerus diberikan narkoba bahkan kalaupun itu pada musuh yang nyata di hadapannya, inilah keberhasilan perang proxy atau perang asimetris narkoba, tanpa disadari bangsa itu telah direnggut kejayaannya. Maka bangsa yang kecanduan pada akhirnya menjadi sasaran empuk untuk di musnahkan eksistensinya.

Maka Indonesia harus tetap waspada sebab secara posisi geografis Indonesia sangat strategis menjadi jalur lalu lintas dunia, bukan tidak mungkin Narkoba masuk melalui jalur lalu lintas yang ada di Indonesia dan itu sudah terbukti dengan banyaknya benda-benda haram narkoba yang ternyata di selundupkan oleh orang-orang yang berasal dari luar negeri dengan modus berdagang. Disamping itu perang proxy atau perang asimetris sangat memungkinkan terjadi di negeri ini, Indonesia di anugrahi kekayaan alam yang sangat melimpah, mulai dari tambang minyak, emas, kekayaan laut, hutan, juga budaya dan wisatanya, memungkinkan bagi bangsa-bangsa lain untuk berebut posisi menjadi pemenang untuk merenggut kekayaan Indonesia. Karena itu Negara harus punya power untuk dapat menghentikan laju perkembangan narkoba lintas batas Negara, sebelum narkoba itu menjangkiti seluruh akar negeri ini.

Kejahatan Narkoba Lintas Provinsi bahkan jaringannya sampai lintas Negara menjadi sulit diberantas atau bahkan tak dapat diberantas dengan menggunakan sistem hukum saat ini, sebab ada kepentingan yang mengikatnya yakni asas manfaat, dalam hukum kapitalisme apapun boleh diproduksi, dijual dikonsumsi dan di  distribusi asalkan memiliki nilai guna bagi segelintir orang dan tentunya mendatangkan manfaat materi bagi produsen. Halal haram atau baik dan tidaknya bagi tubuh menurut standar agama dan kesehatan bukanlah acuan, sebab selama ada yang butuh maka barang tersebut akan terus diproduksi. inilah logika sistem kapitalisme, acuan atau dasar dalam memproduksi barang adalah nilai guna.

Disamping itu asas sekulerisme telah menihilkan peranan pencipta dalam aspek kehidupan, tak ada agama, tak ada Pencipta dalam aktivitas hidup, semuanya manusia yang atur selama itu menguntungkan logika manusia maka apapun itu akan diraih, padahal kadangkala standarisasi untung itu selalu bersifat pragmatis tanpa memikirkan efek jangka panjang. sebagai contoh narkoba pragmatisnya diproduksi dan diedarkan dapat keuntungan materi begitupun di konsumsi untungnya dapat ketenangan sesaat merasa bahagia dan senang tapi lanjutannya jangka panjangnya merusak tubuh, sistem syaraf lumpuh, merusak kehidupan sosial dan ekonomi, bahkan merusak peradapan manusia secara menyeluruh di alam semesta. Sayangnya, akar dari kejahatan narkoba ini sulit untuk di pahami sebab  kaca mata yang digunakan adalah kapitalis sekuler, dimana paham ini telah terinternalisasi dalam diri dan menjadi acuan dan dasar dalam setiap lini kehidupan dan dalam segala aturan, padahal dengan paham ini manusia telah tersandera untuk mencapai kemajuan yang hakiki termasuk dalam masalah pemberantasan narkoba lintas batas Negara.

Negara Wajib Menjaga Akal Rakyatnya

Sesungguhnya Negara memiliki kewajiban dalam menjaga Akal rakyatnya, dengan memberikan regulasi yang mencegah rakyatnya agar tidak terjebak pada hal-hal yang mebahayakan bagi kesahatan dan merusak mentalnya, begitupun juga Negara sebagai benteng pertahanan, maka wajib mengawasi dan mengatur masuknya bangsa asing berikut barang-barang dagangan yang mereka bawa ke dalam negeri. Disamping itu, juga menolak kerjasama pada Negara-negara yang telah nyata-nyata membuat konspirasi untuk menghancurkan dan berniat menancapkan hegemoni dan  kekuatannya di dalam negeri. maka secara keseluruhan hal yang harus dilakukan suatu Negara adalah Pertama: meningkatkan ketakwaan setiap individu masyarakat kepada Allah. Ketakwaan setiap individu masyarakat akan menjadi kontrol bagi masing-masing sehingga mereka akan tercegah untuk mengkonsumsi, mengedarkan apalagi membuat narkoba. Kedua: menegakkan sistem hukum pidana Islam dan konsisten menerapkannya. Sistem pidana Islam, selain bernuansa ruhiah karena bersumber dari Allah SWT,juga mengandung hukuman yang berat. Pengguna narkoba dapat dipenjara sampai 15 tahun atau dikenakan denda yang besarnya diserahkan kepada qâdhi (hakim) (al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât, hlm. 189).

Jika pengguna saja dihukum berat, apalagi yang mengedarkan atau bahkan memproduksinya; mereka bisa dijatuhi hukuman mati sesuai dengan keputusan qâdhi (hakim) karena termasuk dalam bab ta’zîr. Ketiga:merekrut aparat penegak hukum yang bertakwa. Dengan begitu maka akan dapat mengatasi masalah narkoba yang mengakar di negeri ini. Wallahu a’lam. ( ***)


Editor     : Armin

Publizer : Iksan