,

Nasib Buruh Tergadai Karena Investasi

Surfida
Surfida

Oleh: Surfida, S.Pd.I

Baru – baru ini rakyat Indonesia di kagetkan dengan sebuah vidio yang beredar di sosmed. Vidio tersebut berisi tentang buruh yang melakukan demo di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabupaten Morowali. Sehingga menimbulkan banyak komentar di masyarakat. Rakyat menganggap bahwa yang demo tersebut adalah para Tenaga Kerja Asing (TKA), karena dalam vidio yang berdurasi 2 menit 5 detik, terdengar suara yang menarasikan bahwa aksi tersebut didominasi oleh pekerja asing asal China. Namun, ada juga vidio yang menyebut demo itu untuk menolak dominasi pekerja asing. (CNN Indonesia, Kamis, 23/1/2019).

Selain itu, Ketua Muhammadiyah bidang ekonomi, Anwar Abbas ikut menanggapi tentang video yang beredar tersebut. Beliau mengungkapkan bahwa “Itu menimbulkan tanda tanya dan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Pertama, masyarakat bertanya-tanya betulkah demo itu terjadi di Morowali Sulawesi Tengah? Kedua, kalau betul kenapa yang demo itu kelihatan hampir seluruhnya berwajah dari Tiongkok,” katanya kepada Kiblat.net melalui siaran persnya pada Jumat (24/01/2019).

“Kalau benar mereka itu adalah tenaga kerja dari Tiongkok, mengapa hal itu bisa terjadi? Apa tidak ada tenaga kerja di tanah air yang bisa mengerjakannya? Pemerintah hendaknya dapat menjelaskan hal ini,” sambungnya.

Karena pro-kontra tersebut, menteri ketenagakerjaan (Menaker) Muhammad Hanif Dhakiri memberikan klarifikasi melalui akun twitternya. Beliau mengatakan bahwa demo tersebut dilakukan oleh pekerja lokal. Para buruh tersebut menuntut kenaikan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK). Sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia,”Selamat pagi. Demo buruh di Morowali bukan demo TKA China. Juga bukan demo menolak TKA China. Demo buruh di Morowali terkait Upah Minimum Sektoral (UMSK) Kabupaten setempat, yang saat ini sedang ditangani otoritas terkait di sana. Jangan termakan hoaks. Jangan ikut sebarkan hoaks. Waspadai adu domba,” ujar Hanif melalui akun Twitter pribadinya @hanifdhakiri, Jumat (25/1/2019).

Menurut data BPS, TKA di Indonesia didominasi oleh China, Jepang, Korea Selatan, India, Malaysia, Amerika Serikat, Thailand, Australia, Filipina, Inggris, Singapura dan negara lainnya. TKA setiap tahun mengalami peningkatan. Dari tahun 2015 sampai tahun tahun 2018 lalu. (wartakotalive.com, senin 30/4/2018)

Oleh karena itu, walaupun pemerintah mengatakan bahwa hoaks tentang TKA membanjiri Indonesia, tetapi pada kenyataannya, TKA sudah membanjiri Indonesia, sehingga para pekerja lokal sulit mendapatkan pekerjaan. Seandainya mereka mendapat pekerjaan, jabatannya hanya sebagai pekerja kasar dengan gaji yang sangat rendah. Sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang kini harganya semakin meroket. Maka wajar mereka melakukan aksi menuntut kenAikan gaji.

Investasi Penjajah Gaya Baru

Saat ini hidup dalam kesejahteraan masih dalam khayalan. Karena Indonesia masih memakai sistem kapitalisme yang mengutamakan keuntungan pribadi. Dimana dalam sistem ini yang lebih menonjol adalah kapital (modal) untuk memperkaya dirinya. Ditambah lagi pemerintah kita masih mempermudah TKA masuk ke Indonesia. Dengan masuknya TKA kenegara kita, rakyat akan susah mendapat pekerjaan yang layak. Jika dapat, mereka hanya sebagai buruh kasar.

Apalagi saat ini, negara kita dalam hal membangun hanya mengutamakan modal investasi dari negara asing. Dan negara yang paling besar berinvestasi ke Indonesia adalah negara China (Tiongkok). Pemerintah saat mengahadiri Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) pada Mei 2017 silam di Beijing, maka Indonesia langsung ikut serta dalam program One Belt and One Road (OBOR). OBOR ini adalah program pemerintah China yang baru, yaitu jika China berinvestasi kenegara lain, maka yang diberikan bukan saja uang atau saham. Akan tetapi, para pekerjanya juga harus dari sana beserta bahan bangunannya, misalnya baja, besi.( validnews.com).

Maka dari itu, jika pemerintah ketika membangun infrastruktur dengan menggunakan modal investasi, sudah dipastikan bahwa pekerjanya dan bahan-bahan bangunannya bearasal dari China. Jika sudah seperti ini, rakyat Indonesia hanya sebagai penonton. Rakyat hanya sebagai penanggung utang, pembayar utang melalui pajak, sehingga  infrastruktur yang dibangun juga saat dilewati harus bayar. Juga para perusahaan alat-alat bangunan akan gigit jari karena barang hasil produksinya tidak laku jika di jual.

Memang sangat disayangkan jika SDA yang dimiliki Indonesia harus dikerjakan orang asing, karena semua keuntungan akan disedot oleh negera yang memberikan dana. Selain itu, keuntungannya juga akan membayar bunga utang yang semakin membengkak. Akan tetapi pemerintah tidak memikirkan itu, mereka hanya memikirkan kepentingan pribadinya. Pemerintah kita juga tidak belajar dari negara Srilanka. Akibat investasi dari China, bandara yang dibangun melaui program OBOR itu menjadi mandek, dan pada akhirnya bandara tersebut resmi menjadi milik China. Begitulah sistem kapitalisme bekerja, negara penjajah akan berlindung dibalik investasi yang di gelontorkannya.

 “WALLAHU’ALAM BISHOWAB” (***)


Editor     : Armin

Publizer : Iksan