, ,

SDA Diobral, Siapa yang Diuntungkan?

Kunthi Mandasari
Kunthi Mandasari

Oleh: Kunthi Mandasari

Pejabat merupakan kepanjangan tangan rakyat. Namun apa jadinya jika mereka berkhianat? Menurut wakil ketua komisi pemberantasan korupsi (KPK), Laode M. Syarief, yang menyoroti banyaknya korupsi di sektor SDA. “Banyak sekali SDA di Indonesia dijual murah oleh pejabat. Dan ingat, yang ditangkap itu hanya sebagai kecil dan sebagian besar belum tertangkap.” Ungkapnya lagi, “Lebih dari 20 pejabat diproses KPK terkait sektor kehutanan, ada beberapa kasus yang kerugian negaranya mencapai RP 1,2 triliun,” (okezone.com, 25/01/2019).

Bukan rahasia lagi jika negeri ini menderita karena korupsi. Bisa dibayangkan berapa pundi-pundi rupiah yang mereka kantongi. SDA tersebut mereka jual secara murah meriah kepada swasta dan asing. Tanpa berpikir panjang bahwa SDA bisa dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan rakyat Indonesia. Para pejabat justru sibuk menjadi makelar untuk mendapatkan keuntungan. Karena asas yang digunakan adalah manfaat semata.

Liberalisasi di berbagai sektor SDA melalui UU Minerba, pada akhirnya mempermudah asing untuk mengeruk kekayaan alam. Mulai dari hulu hingga ke hilirnya. Sekulerisme yang diterapkan di negeri ini membentuk pribadi individualis. Memperturutkan ketamakan untuk meraup kekayaan.

Rakyat yang menjadi tanggung jawabnya mereka abaikan. Rakyat yang semestinya menikmati harus rela gigit jari. Terhimpit kebutuhan yang kian melambung tinggi. Serta bergelung dengan kemiskinan yang senantiasa setia menemani.

Padahal kekayaan alam merupakan kepemilikan umum. Karena mampu memenuhi hajat hidup orang banyak. Maka hukumnya haram jika dikuasai oleh perorangan. Apalagi untuk mengelolanya sengaja diperjual-belikan. Dari Ibnu al-Mutawakkil bin ‘Abdul-Madân, dari Abyadl bin Hammâlr.a, bahwasanya ia berkata:

“Sesungguhnya dia (Abyadl bin Hammâl) mendatangi Rasulullah saw, dan meminta beliau saw agar memberikan tambang garam kepadanya. Ibnu al-Mutawakkil berkata,”Yakni tambang garam yang ada di daerah Ma’rib.” Nabi saw pun memberikan tambang itu kepadanya. Ketika, Abyad bin Hamal ra telah pergi, ada seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, “Tahukan Anda, apa yang telah Anda berikat kepadanya? Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir”. Ibnu al-Mutawakkil berkata, “Lalu Rasulullah saw mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya (Abyadl bin Hammâl)”. (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, IbnMajah, IbnHibban)

Sesungguhnya keberkahan hidup tidak akan mampu terlaksana jika aturan Allah sang maha kuasa dinomor duakan. Hanya melalui jalan ketakwaan, agar Allah melimpahkan keberkahan dari berbagai penjuru arah. Bukan hanya individu yang taat namun juga masyarakat serta Negara yang tunduk taat terhadap aturan-Nya. Melalui penerapan syariatnya diatas bumi ini. (***)


Editor     : Armin

Publizer : Iksan