Berpikir Divergen

oleh
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Faizal Tanjung

(Pemerhati Pendidikan)

Gaya berpikir konvergen dan divergen sangat penting. Keduanya muncul dalam proses pendidikan. Dewasa ini gaya berpikir konvergen cenderung lebih menonjol. Karena kultur akademik kita lebih berpihak pada perilaku konformis. Padahal dunia berubah sangat cepat. Untuk menjawab perubahan ini dibutuhkan berpikir kritis, berpikir lateral, kreatif dan berpikir divergen. Salah satu Kompetensi Abad ke-21. Tuntutan penguasaan kompetensi berpikir divergen sejalan dengan sabda Rasulullah saw. “Didiklah anak-anakmu untuk jamannya bukan jamanmu, untuk generasinya bukan generasimu.

Berpikir konvergen memang masih dibutuhkan untuk pengembangan berpikir logik dan linier. Untuk menanamkan nilai-nilai yang bersifat konservatif, baik itu nilai religius, kemanusiaan, sosial maupun kebangsaan. Model pembelajaran behavioristik dan sosial sangat relevan.

Sebaliknya, berpikir divergen sangat dibutuhkan saat ini dan mendatang. Suatu metode berpikir yang menghasilkan ide-ide kreatif dengan alternatif solusi. Kecakapan berpikir yang dibutuhkan di era Desrupsi. Era yang kental dengan perubahan dan kemajuan. Kecakapan berpikir ini juga menanamkan kecakapan evaluatif, kritis, kreatif dan inovatif sangat diutamakan. Yang kini sering disebut kecakapan Higher Order Thinking (HOT). Pembelajaran menggunakan sinektetik dan transfer of principles.

Mengingat siswa, guru dan sekolah sebagai agen perubahan, maka kecakapan berpikir divergen harus dimiliki oleh semua. Kecakapan ini memungkinkan siswa menjadi independent learners, problem solvers dan life long learners.

Tenaga kependidikan, guru, siswa dan orangtua berkolaborasi dan bersinergi membangun kontrak bersama untuk keberhasilan mencapai visi pendidikan. Selanjutnya merekonstruksi implementasi kurikulum sebagai aksi, mengkondisikan proses pembelajaran, menyediakan fasilitas dan menerapkan sistem evaluasi belajar, dan menyiapkan IT yang kondusif. Di sini sangat dibutuhkan komitmen dan keberanian melakukan perubahan. Siswa harus dikondisikan untuk berinovasi. Yang dimulai dengan learning by making, bukan sekedar learning by doing.

Pemberdayaan institusi perlu terus diupayakan untuk hasilkan inovasi-inovasi. Inovasi yang dihasilkan harus pertimbangkan nilai moral dan kemanusian. Guru tidak harus menuntut satu jawaban benar terhadap suatu persoalan. Tetapi bisa beri siswa untuk jawaban alternatif. Yang penting siswa memberikan justifikasinya.

Perubahan mindset sangatlah diperlukan. Bahwa yang selama ini siswa sebagai konsumen karya inovasi, kini dan mendatang siswa harus ikut bagian dalam proses inovasi. Untuk itulah gaya berpikir divergen harus dikondisikan dalam seluruh proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan tetap memberikan kesempatan untuk pengembangan berpikir konvergen sesuai dengan kepentingan.


Editor : Armin

Publizher : Iksan