Kepemimpinan yang Sesuai Syari’at Islam Akan Memancarkan Keberkahan dari Allah

oleh
Ketgam : Gambar ilustrasi
Ketgam : Gambar ilustrasi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Nurita Sari

“Bukan akhir pekan biasa”, mengapa? Karena di hari Minggu, 17 Feb 2019 KPU (Komisi Pemilihan Umum) mengadakan salah satu agendanya berupa Debat Capres putaran kedua dengan tema energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup, dan infrastruktur. Program debat adalah salah satu rangkaian acara dalam rangka pemilu di bulan April 2019.

Dalam acara tersebut, Kedua kandidat presiden masing-masing berkesempatan menyampaikan visi misi yang berkaitan dengan tema, menjawab pertanyaan dari panelis, serta beradu argumen dalam segmen debat terbuka. Acara yang menyediakan 600 kursi undangan serta disiarkan oleh 6 stasiun televisi tersebut diharapkan mampu menyampaikan kepada rakyat Indonesia tentang profil calon pemimpinnya, baik dari segi kepribadian, kepemimpinan, serta program kerja yang hendak dijanjikan untuk kemajuan bangsa.

Debat capres yang seharusnya dipenuhi dengan berbagai macam program unggulan dan solusi untuk permasalahan dalam hal energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup, dan infrastruktur, nyatanya hanya menyajikan banyak informasi kebohongan. Salah satu kebohongan yang menjadi perbincangan khalayak ramai adalah pernyataan tentang kebakaran hutan dan lahan. Pernyatan yang disampaikan terdengar begitu menenangkan bagi rakyat, seolah negara kita dalam keadaan sejahtera dan tak bermasalah “Kebakaran lahan gambut tidak terjadi lagi dan ini sudah bisa kita atasi.

Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran lahan, hutan, kebakaran lahan gambut dan itu adalah kerja keras kita semuanya,” kata Jokowi di panggung debat kedua, di Hotel The Sultan, Senayan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). Lebih lanjut Jokowi menyatakan penyebab tak ada kebakaran hutan dan lahan karena penegakan hukum yang tegas. Dia juga menyebut ada 11 perusahaan yang telah diberi sanksi. “11 Perusahaan yang diberikan sanksi denda sebesar Rp 18,3 triliun takut urusan dengan yang namanya kebakaran hutan,” ujar Jokowi. ( www.detik.com )

Akan tetapi fakta yang ada justru berbanding terbalik, BNPB atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana merekapitulasi bencana alam, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan di tahun 2019 ini tercatat sudah terjadi beberapa kali karhutla. ( www.detik.com )

Sementara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Green Peace Indonesia dalam akun Twitter resminya, menyebut belum ada sebelas perusahaan itu yang membayar ganti rugi ke negara. “Jokowi sebut telah memenangkan gugatan perdata terhadap 11 perusahaan yang harus membayar ganti rugi akibat kerusakan lingkungan dan kebakaran lebih 17 triliun. Namun belum ada yang membayar ganti rugi pada negara sepeserpun,” tulis Green Peace Indonesia dalam akun resminya. ( www.gelora.com )

Entah rentetan informasi yang tak berdasarkan fakta tersebut di ucapkan karena kurangnya informasi atau memang bertujuan untuk membohongi rakyat. Yang jelas kebohongan itu tidak hanya terjadi sekali dua kali, namun berkali-kali dan dilakukan dengan sangat telanjang. Lantas, apabila sesuatu sudah di awali dengan kebohongan, apakah mungkin akan menghadirkan keberkahan?

Ada banyak makna dari kata keberkahan, salah satu makna keberkahan menurut para ulama adalah bertambahnya kebaikan. Sesuatu yang apabila dipergunakan lalu membawa banyak manfaat, mendorong kita berbuat baik, menenangkan hati dan membuat kita semakin bersyukur kepada Allah maka ia adalah perkara berkah. Namun bila sebaliknya, apa yang telah kita pergunakan lalu mendatangkan masalah, menjadi malas berbuat kebaikan, membuat hati resah dan keras, serta kufur nikmat Allah maka pasti tiada keberkahan dalam perkara tersebut.

Keberkahan tidak hanya untuk perkara makanan, pekerjaan, ilmu, akan tetapi juga bisa dalam hal pasangan, keturunan (anak) bahkan pemimpin. Sekarang bagaimana cara agar Allah melimpahkan keberkahanNya, mari kita simak surat cintaNya dalam Al Qur’an berikut : “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..”.(QS Al A’raf ayat 96)

Berdasarkan kutipan ayat di atas, kuncinya adalah beriman dan bertaqwa maka Allah akan limpahkan keberkahan. Sosok yang menjadi pusat perhatian dari sebuah bangsa tentu saja sang pemimpin. Jika seorang pemimpin beriman dan bertaqwa, maka kemungkinan besar rakyatnya juga pasti beriman dan bertaqwa. Mengapa? Sebagaimana peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” seperti itu pula posisi pemimpin dengan rakyatnya. Seorang pemimpin harus menjadi sosok yang memberi tauladan bagi rakyatnya. Pemimpin yang beriman dan bertaqwa tentu hanya takut kepada Allah. Dia akan sangat berhati-hati dalam bertutur maupun bertindak.

Jangankan berbohong di hadapan khalayak ramai, bermaksiat dalam kesendirian pun tidak akan terjadi apabila sang pemimpin memiliki keimanan yang kuat dan rasa takut yang teramat besar kepada Allah SWT. Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang beriman bisa berbohong tanpa rasa takut sedikitpun, kriminalisasi ulama, dan membuat kebijakan yang bertentangan dengan syariat seperti melegalkan transaksi riba, perzinahan serta kebijakan lainnya. Pemimpin yang seperti itu tidak menjadikan keimanan dan ketaqwaan sebagai landasan hidupnya dan kepemimpinannya.

Sekarang pertanyaannya adalah, apabila ucapan dan perilaku seorang pemimpin sudah tidak mencerminkan ketakutan pada Allah, apakah mungkin ada keberkahan dalam kepemimpinannya?

Munculnya banyak masalah, meningkatnya kejahatan, rakyat yang tak bermoral, penegakan hukum yang carut marut, keadaan negara yang jauh dari kata aman dan sejahtera, itu ada sebagian dari akibat apabila suatu negara tidak dipimpin dengan landasan iman dan taqwa. Sebagai hasilnya adalah tidak akan ada keberkahan, melainkan kerusakan. Kepemimpinan macam ini, tidak akan pernah dirindukan oleh rakyat.

Lantas bagaimana ciri dari kepemimpinan yang diberkahi? Kepemimpinan yang diberkahi tentu akan mendatangkan banyak kebaikan. Negara yang aman dan sejahtera, rezeki yang melimpah, ditegakkannya keadilan, tiada musibah, rakyat yang beradab, serta solusi yang mudah untuk permasalahan yang ditemui. Jika keadaan negara seperti ciri di atas tentu saja sang pemimpin akan dirindukan oleh rakyatnya.

Sayangnya, di zaman demokrasi seperti sekarang, sangat sulit rasanya mencari pemimpin yang hanya takut kepada Allah SWT. Tujuan pengabdian kepada rakyat hanyalah hiasan retorika belaka. Maka wajar saja jika tiada keberkahan dalam kepemimpinannya. Para calon pemimpin berlomba-lomba untuk mendapatkan jabatan yang sudah lama di idamkan dengan berbagai macam cara.

Melihat begitu gigihnya mereka untuk menjabat, mustahil rasanya jika tujuan mereka murni mengabdi, tanpa disertai ambisi pribadi dan berbagai macam “kepentingan”. Umat memang diperintahkan untuk berpikir positif dan optimis, akan tetapi umat juga harus cerdas dan kritis terhadap janji-janji para pemimpin. Jika sudah terlihat jelas kesalahannya maka wajib bagi umat untuk mengkritik dan menyampaikan nasihat sebagai pengamalan perintah amar ma’ruf nahi munkar.

Kepemimpinan hakekatnya harus memberi keteladanan. Seorang pemimpin harus memiliki karakter dan perilaku yang mencontohkan kebaikan. Perbuatan seorang pemimpin harus sesuai dengan apa yang telah di ucapkan. Seorang pemimpin akan sangat sadar bahwa kepemimpinannya kelak akan dipertanggungjawabkan.

Keimanan dan ketaqwaan tentunya harus tercermin dari kesholehan akhlak pada manusia terlebih kepada Allah, bukan hanya kesholehan lisan. Kesholehan pribadi tercermin dari ucapan dan perbuatan yang selaras serta kebijakan yang tentu saja tidak menyalahi syariat agama. Kepemimpinan seperti inilah yang akan memancarkan keberkahan dari Allah SWT.

Wallahu ‘aalambishowab


Editor : Armin

Publizher : Iksan