Menjadi Pemimpin Ambisi atau Ibadah?

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Ulfah Sari Sakti,S.Pi

(Jurnalis Muslimah Kendari)

 Setiap pernyataan yang dilontarkan seseorang tentunya memiliki alasan dan tujuan tertentu, begitu pula dengan pernyataan Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti tentang pemilihan presiden (Pilpres) bukan urusan ibadah.  Abdul Mu’ti menghimbau agar masyarakat tidak terlalu fanatik terhadap Pilpres.  Menurutnya Pilpres bukanlah urusan ibadah sehingga masyarakat tidak perlu mencampuradukan agama dengan politik.

Apalagi mengistilahkan perang.  Mu’ti menerangkan Pilpres merupakan agenda politik lima tahunan yang sudah berulang kali dilaksanakan di Indonesia.  Oleh sebab itu, masyarakat seharusnya menyikapi dan berpartisipasi secara wajar serta tidak berlebihan.  “Pemilihan presiden merupakan wilayah muamallah duniawiah, bukan masalah ibadah.  Umat memiliki kebebasan untuk memilih sebagaimana mereka melaksanakan muamalah, yang lainnya seperti bisnis, bertetangga dan sebagainya,” kata Mu’ti.  (Kendari Pos/28/2/2019).

Berbeda dengan Bapak Mu’ti, sebagai seorang muslim, saya berpendapat bahwa Pilpres merupakan bagian dari kegiatan ibadah dan menjadi seorang pemimpin adalah ibadah, karena pemimpin dalam hal ini presiden diberi amanah untuk mensejahterakan rakyatnya dengan berpedoman pada hukum-hukum Allah yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Dengan kata lain tujuan hidup di dunia semata-mata untuk beribadah dan mengharap ridha Allah swt. Karena itu pemimpin yang amanah merupakan pemimpin yang melayani kebutuhan rakyatnya.  Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad saw.  “Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut.  Oleh karena itu, pemimpin hendaklah melayani dan menolong orang lain untuk maju” (HR Abu Naim Bahwa).            Kebijakan-kebijakan dari pemimpin yang amanah tentunya akan selalu berpihak pada kesejahteraan rakyatnya, seperti Sabda Rasulullah Muhammad saw dalam HR Abu Daud, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, padang rumput, air dan api”.

Selain itu sehubungan dengan pernyataan karena Pilpres bukanlah ibadah, sehingga masyarakat tidak perlu mencampuradukan agama dengan politik menurut saya tidaklah demikian pasalnya Islam bukan hanya sebagai agama tetapi juga merupakan ideologi, yang mana di dalamnya tergambar secara lengkap tata cara mulai dari ibadah shalat hingga politik Islam.

Perlu diingat pemimpin yang amanah tentunya menyandarkan segala aktivitasnya pada agama, sehingga tujuan politiknya pastinya sesuai syariat, dengan demikian kepemimpinan dan politik merupakan bagian dari agama Islam yang tidak dapat dipisahkan.

Politik Islam adalah ri’ayah syu’unil ummah bil hukmi syar’i yaitu mengurusi urusan umat sesuai dengan hukum syariat, bukan kehendak penguasa.  Termasuk didalamnya mengoreksi penguasa, tatkala penguasa tidak lagi menjalankan syariat Islam.  Karena itu jika politik dipisahkan dari Islam maka jangan heran jika kesengsaraan dan malapetaka akan datang.

Semua hal tersebut dapat terlaksana jika sistem pemerintahan Demokrasi-Kapitalis-Sekuler seperti saat ini dapat tergantikan dengan sistem Islam.  Wallahu’alam bishowab[].


Editor : Armin

Publizher : Iksan