Perzinahan Semakin Marak, RUU PKS Sebagai Solusi?

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Nur Syamsiyah

(Aktivis Malang Raya)

Kian marak, kasus perzinahan terjadi di penjuru kota negeri ini. Banyak korban berjatuhan di kalangan wanita-wanita  muda. Bahkan menjadi hal yang tak asing lagi, jika pelaku pemerkosaan, pencabulan, dan tindakan asusila lainnya dilakukan oleh para pelaku yang masih berusia dini.

Sebagaimana yang dilansir oleh BANGKAPOS.com, Kamis (24/05/2018), anak kelas 5 SDmenghamili siswi kelas 8 SMP di Tulungagung membuat heboh masyarakat.Kehamilan siswi SMP tersebut baru diketahui saat gurunya mengantarnya ke Puskesmas untuk diperiksa, Sabtu (19/5/2018). Usia kandungannya kala itu sudah menginjak 6 bulan.Para tetangga sudah mencoba mengingatkan orang tua siswa SD tersebut, namun respon ayahnya justru membuat tetangganya terbelalak.

“Bapaknya bilang, biar jadi bahan percobaan burung anaknya yang baru sunat. Kalau sudah hamil begini kan baru tahu rasa dia,” ujar salah satu tetangga kepada SURYAMALANG.com.

Di Bengkulu, seorang bapak hamili anak kandungnya sendiri lantaran ia juga sering menonton film porno. RE (40) menghamili anaknya yang berusia 16 tahun (BETVNEWS, 5/06/2018). Ibu korban memeriksakan anaknya ke puskesmas sebab mencurigai tubuh anaknya mirip orang hamil dan hasilnya positif hamil 8 bulan. Pelaku mengakui pencabulan dilakukan sebanyak 8 kali di kamar mandi dan kamar korban.

Tak kalah mirisnya, siswi SD keguguran di sekolah saat pelajaran jam pelajaran sekolah berlangsung, Kamis (8/11/2018).  Pelaku berinisial K (58) adalah paman korban yang merawatnya sejak orangtua korban meninggal. Modusnya pelaku masuk ke kamar korban yang tertidur lalu melakukan tindakan asusila. K mengaku sering melakukan tindakan bejatnya tersebut selama satu tahun sejak 2017.

Di Pasuruan, Jawa Timur, tiga bocah SD paksa siswi buka baju dan ancam pakai cutter (FaktualNews.co, 25/01/2019). Teman sekelasnya pun yang berjumlah 27 anak tak mau menolongnya karena diancam para pelaku, sehingga aksi itu tetap terjadi. Kejadian ini berlangsung ketika guru tak ada dalam kelas.

Kasus demi kasus bermunculan tiada henti, hawa nafsu manusia semakin membrutal bak tak memiliki akal sehat. Karena tingginya angka kekerasan seksual di Indonesia, sehingga kaum feminis bernafsu mendorong RUU P-KS. Ada apa dengan RUU P-KS? Benarkah ia solusi dari maraknya kasus perzinahan di Indonesia ini?

RUU tersebut menggunakan frasa dan narasi “kekerasan seksual”. Jika ditilik dari sisi terminologi, maka penggunaan istilah tersebut akan sangat jelas mereduksi makna “zina” yang sesungguhnya. Sebab, mafhum mukhalafah alias azas contrarios (pemahaman terbalik, red.), jika perbuatan seksual dengan penggunaan kontrasepsi atau perilaku aborsi, tidak bisa disebut kekerasan perkosaan jika asasnya suka sama suka, alias tidak ada paksaan ataupun kekerasan.

Dengan demikian, kasus perzinahan di negeri ini tak kan mampu terselesaikan dengan adanya RUU P-KS tersebut. Bahkan, hal itu akan membuat angka kekerasan seksual semakin meningkat karena para predator seksual akan semakin bebas melakukan aksinya. Didukung juga dengan konten-konten pornografi yang mudah diakses oleh siapapun (termasuk bocah SD) menjadi salah satu penyebab terdorongnya manusia melakukan tindakan asusila.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan.” (TQS. Al-Isra’: 32)

Seharusnya penanganan kejahatan seksual dilakukan secara preventif dan kuratif. Tanpa upaya preventif, apapun langkah kuratif yang dilakukan, seperti menjatuhkan sanksi hukum yang berat, tidak akan pernah efektif.  Sesungguhnya penanggulangan kejahatan seksual, wajib dikembalikan kepada Syariah Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah institusi Islam.

Dengan tiga pilar pelaksanaan Syariah Islam, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan penegakan hukum oleh negara, insya Allah semua jenis kejahatan sosial akan dapat dikurangi atau bahkan dilenyapkan dari muka bumi dengan seizin Allah.

Walhasil, kejahatan ini tidak akan terjadi bila masyarakat memiliki keyakinan bahwa sekecil apapun perbuatan buruk, akan diketahui oleh Allah dan pasti mendapatkan balasan di hari akhirat. Keterikatan pada hukum syariat mampu mencegah perbuatan zalim apapun dan terhadap siapapun.  Wallahu a’lam


Editor : Armin

Publizher : Iksan