Ruu-pks, Solusi Tuntaskah untuk negeri Ini ?

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Sayyidah Hanifah

(Mahasiswa Universitas Negeri Malang)

Kasus penemuan mayat wanita tanpa identitas di selokan irigasi di Dusun Batu, RT 02/RW 03, Desa Secang, Kabupaten Magelang, yang ternyata korban tersebut adalah mahasiswi UPN Yogyakarta, yang dibunuh oleh pacarnya sendiri, di kos pelaku.  Sepasang kekasih yang melakukan aborsi terhadap janin yang dikandungnya karena merupakan hasil hubungan di luar nikah. Kasus lainnya, pencabulan terhadap anak perempuan berusia 13 tahun yang dilakukan oleh  pamannya sendiri.Kejadian ini merupakan tindakan yang sudah sering terjadi di Indonesia.

 Satu tahun berapa kali mendengar berita seperti ini, mendengar kabar wanita yang diperkosa, dibunuh, dan hamil di luar nikah. Sebegitu mudahnya seseorang dalam melakukan pembunuhan. Dimana awal dari semua ini adalah tidak  adanya pengetahuan dan pengawasan yang dilakukan orang tua terutama, masyarakat dan  negara. Beginilah hari ini ketika seseorang diberi kebebasan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka akan berbuat sesuai apa yang mereka inginkan.

Rancangan Undang-undang Penghapusan kekerasan seksual atau yang bisa disebut RUU-Pks adalah solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan kekerasan seksual saat ini yang dapat juga menghalagi untuk berbuat segala macam bentuk kejahatan kepada orang lain, khususnya wanita. RUU-Pks yang bertujuan agar dapat menjadi pelindung terhadap orang lain dengan memberi kebebasan terhadap seorang individu, dan jika dilihat dari pasal-pasal di dalam rancangan lebih mendepankan kaum minoritas yang ada di Indonesia.

Oleh karena itu, dengan adanya RUU-Pks yang di dalam rancangannya, lebih mengarah kepada individu memiliki kebebasan untuk dirinya sendiri dan dalam pasalnya terdapat kata-kata yang multi tafsir, seperti jika bukan karena pemaksaan maka hal itu bisa jadi boleh, karena itu merupakan otoritas yang dimiliki seseorang terhadap dirinya sendiri. RUU-Pks ini diwujudkan hanya pada perlindungan wanita saja, padahal dalam hal perlindungan negara semua orang berhak untuk mendapatkan perlindungan yang sama, tidak membedakan siapa orang, jenis kelamin dan usia.

Sebagaimana RUU-Pks ini dibuat untuk memberi kemudahan seorang individu dalam memenuhi apa yang mereka inginkan dengan cara yang mereka suka, tanpa adanya hambatan atau sesuatu yang menghalangi untuk memenuhi keinginannya. Begitu juga, ketika islam yang menjadi halangan untuk mewujudkan keinginan, maka mereka tidak ingin diataur oleh Islam.

Para pembuat RUU-Pks ini, mereka menganggap kebebasan adalah setiap individu terhadap individu itu sendiri, tidak boleh ada yang menghalangi atau melarang, dan itu lahir dari sekulerisme, pemisahan pengaturan agama dengan pengaturan kehidupaan di dunia.

Adapun sekulerisme ini melahirkan konsep-konsep dalam kehidupan, salah satu konsep tersebut yaitu feminisme yang mereka itu meminta bahwa kedudukan laki-laki dan wanita itu sama, dari segala aspek manapun. Begitu juga, ketika mereka ingin perlindungan karena kekerasan seksual yang terjadi hari ini semakin banyak, tetapi itu sebenarnya tidak cukup.

Adanya penghapusan kekerasan seksual tidak akan dapat terhenti jika, kekerasan itu hanya sebagian kecil dari kejahatan seksual yang terjadi hari ini dengan kasus kejadian yang banyak, baik itu yang terlihata atau tidak .

Jika demikian, akankah tindak kekerasan seksual akan terselesaikan dengan RUu-PKs atau bahkan semakin runyam?, karena  Islam menghukumi orang-orang yang melakukan kejahatan yang dapat membahayakan diri orang lain.  Islam dengan hukum yang ada memberi keadilan baik kepada korban atau pelaku, dengan adanya rajam untuk pezina. Hukum islam tidak hanya  semata-mata penebus dosa orang  yang melakukan, tetapi juga menjadi penyegah bagi orang lain untuk tidak melakukannya.

Islam agama yang rahmatan lilalamin yang dapat menuntaskan segala permasalahan hingga ke akarnya. Islam dengan kesempurnaanya menjawab segala permasalah yang terjadi hari ini, akan dapat terselesaikan. Jika manusia kembali mengambil islam sebagai dasar dari setiap kehidupan sekaligus sebagai pengatur kehidupan di dunia.

Islam ketika diterapkan oleh sebagai  negara, telah telahapai peradaban paling gemilang selama 14 abad lamanya. Permasalahan seksual atau kejahatan seksual akan terselesaikan dengan penerapan Islam sesuao hukum syara’ disertai dengan adanya ketakwaan individu, kontol masyarakat dan peran negara.


Editor : Armin

Publizher : Iksan