Mewujudkan Indonesia Maju

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Rima Septiani

( Mahasiswi PGSD UHO)

Atmosfir Pemilu 2019, kini semakin memanas. Para kubu pendukung Paslon semakin terlihat geraknya dalam mengkampanyekan Capres dan Cawapres, baik itu memaparkan visi dan misi, atau pun meyakinkan pada khalayak terkait program-program kerja untuk membangun Indonesia lebih baik. Seperti slogan Indonesia maju yang digaungkan pasangan calon Presiden Joko Widodo-Maruf-Amin, merupakan sebuah wujud optimisme yang sudah berhasil.Demikian disampaikan Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf Amin,  Erick Thohir dalam konvensi rakyat mengangkat tema ‘Optimis Indonesia Maju’ di Sentul Internasional Convention Center. “Indonesia maju bukan hanya slogan. Ini merupakan sebuah transformasi dari harapan besar bangsa Indonesia” ujarnya.

Erick Thohir memastikan bahwa pertahanan Jokowi adalah Capres yang mendengarkan kebutuhan rakyat.  Sebab, dia salah satu Capres yang berasal dari rakyat biasa sehingga mulai mampu membawa perubahan untuk bangsa Indonesia.

( www.rmol.com/26/2/2019).

Benarkah, Indonesia Sudah Maju?

Pertanyaan selanjutnya, apakah Indonesia merupakan  negara maju ?Melihat realitas yang terjadi saat ini, kita bisa mengambil kesimpulan sendiri, bahwa Indonesia masih berada dalam keterpurukan. Para ahli juga mengungkapkan itu. Pakar pengamat juga menyampaikan bahwa Indonesia masih dalam kondisi yang masih memprihatinkan dari berbagai aspek kehidupan, seperti sosial, ekonomi, sosial maupun politik pemerintahan. Bahkan tataran internasional mengakui bahwa Indonesia belum termasuk negara maju.

Sejak tahun 1945sampai sekarang belum ada perubahan signifikan yang ditunjukan oleh kinerja pemerintah dalam membangun Indonesia maju. Salah satunya pemberantasan masalah utang. Kebiasaan pemerintah untuk berutang dalam rangka meningkatkan pembangunan infrastruktur Indonesia, masih saja menjadipolemik. Hasilnya pun tak berdampak signifikan terhadap rakyat. Alih alih membuat rakyat tercengang, malah rakyat dibuat kecewa.

Contoh kecil kita bisa melihat bagaimana pembangunan infrastruktur itu dilakukan, bukan untuk  kepentingan rakyat, namun untuk dijadikan lahan bisnis semata oleh para kapitalis. Padahal infrastrukutr seperti pelabuhan, bandara, jalan, sekolah, dan bendungan merupakan pelayanan prioritas untuk mendukung keberlangsungan dan pertumbuhan kegiatan sosial ekonomi suatu masyarakat. Sebab, keberadaan infrastruktur sangat menunjangkemajuan sosial dan ekonomi suatu negara. keberadaannya sangat membantu dan memudahkan aktifitas masyarakat, maka hal ini wajib bagi negara untuk menyediakannya.Melihat fakta Indonesia hari ini, masyarakat justru menanggung beban secara langsung dan tidak langsung melalui pungutan pajak dalam penggunaan infrastruktur, seperti tarif tol yang semakinmahal,fasilitas umum, jalan, rumah sakitdan sebagainya.

Di Indonesia kita bisa menyaksikan masyarakat terkatung-katung karena abainya penguasa terhadap urusan rakyat. Realitasnya, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Inilah yang dinamakan konsentrasi kekayaan,  dimana peredaran harta kekayaan atau materi tidak merata pada lapisan masyarakat.Menurut Lembaga Oxfam, harta total empat orang terkaya di Indonesia , sebesar 25 miliar dolar AS, setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Kekayaan 40 ribu orang terkaya di Indonesia sebesar Rp. 60 Triliun(71,3 miliarr USD) atau setara dengan 10,33% PDB. Hal itu setara dengan kekayan 60 % penduduk atau 140 juta orang.

Disisi lain, rakyat merasa tak terlindungi dengan berbagai keputusan pemerintah. Terbukti setiap ada kebijakan baru yang dikeluarkan, menimbulkan pro kontra diantara masyarakat dan banyak mendapat kritikan  dari masyarakat. Pernyataan pemerintah berpihak pada rakyat itu tidak sepenuhnya benar, terbukti banyak kebijakan atau kewenangan pemerintah yang  dinilai memojokkan rakyat. Semua kalangan masyarakat turut menjadi korban akibat ulah rezim saat ini. Inikah definisi Indonesia maju?

Kemerosotan rakyat diberbagai bidang, merupakan bukti kegagalan pemerintah dalam melayani kepentingan umum rakyat. Penguasa saat ini belum mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap rakyat, justru penguasa saat ini menjadi abai dalam hal keberpihakan terhadap urusan rakyat dan lebih banyak berkiblat terhadap kepentingan barat, yaitu menjaga kepentingan kaum penjajah.

Di antaranya kepentingan ekonomi maupun kepentingan politik, budaya, sosial dan hukum. Hegemoni mereka akan terus menancap di negeri ini, jika penguasa masih membuka kran melayani kepentingan para kapitalis.  Mereka dibiarkan leluasa untuk menguasai sumber-sumber vital kekayaan alam Indonesia dan rakyat dibuat tak berdaya akan hal tersebut.

Inilah buah dari penerapan sistem kapitalisme dan sekularisme. Pangkal dari segala masalah dan penderitaan rakyat Indonesia. Sistem kehidupan sekuler ini adalah sistem yang tidak akan pernah menerima Islam sebagai sudut pandang serta solusi permasalahan umat. Namun Islam hanya dipajang sebagai agama spiritual semata. Sistem yang berjalan saat ini tak mampu membuahkan hasil yang mengubah masyarakat. Sehingga berharap Indonesia maju melalui sistem sekuler saat ini hanya utopis semata.

Publik sudah sangat faham dengan kinerja pemerintah yang tidak mampu menbangun Indonesia. Sejak awal kepemimpinan, pemerintah tak terlihat bekerja untuk rakyat, namun untuk pemilik modal. Rezim saat ini dibutakan dari cahaya Islam serta tak mau mengambil ideologi/sudut pandang Islam sebagai aturan negara dalam mengurusi kepentingan rakyat.

Sudah saatnya umat sadar bahwa untuk mewujudkan Indonesia maju, perlu ada langkah solutif untuk mencapai hal tersebut. Ingatlah,  Indonesia hanya akan maju dan bangkit dengan kembali pada jati diri sebagai umat Islam yang menerapkan sistem Islam secara kaffah.  Sistem yang dipimpin oleh seorang Khalifah dengan menerapkan Al-Qur’an dan As -Sunnah sebagai sumber hukum mutlak.

Kembali Pada Ideologi Islam

Dengan menengok sejarah Islam,  Negara Khilafah (kepemimpinan Islam)merupakan negara maju dan madiri, ini dibuktikan dalam sejarah keemasan Islam. Khilafah mampu menjadikan peradaban islam  saat itu menjadi mercusuar bagi seluruh alam. Dunia takjub dengan keberadaan Islam sebagai imperium yang mampu menyebarkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

Bukan khayalan semata, pengaturan kehidupan dengan ideologi Islam, justru membawa pada puncak kegemilangan. Inilah gambaran, bagaimana ideologi Islam mampu membuat dunia tercengang dengankehadiran Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan.

Jejak khilafah sebagai “world class city”, dibuktikan dengan melihat Andalusia yang merupakan wilayah yang sangat maju.  Di Cordoba sendiri, sudah terdapat 113.000 rumah, 600 mesjid, 300 pemandian, 50 rumah sakit, 80 sekolah umum ,17 sekolah tinggi serta  perpustakaan umum, yang sebagian dengan koleksi di atas setengah juta buku.

Pada era pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid dan Al Ma’mun yang merupakan pengantar puncak peradaban Islam, dunia Islam meengalami kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan budaya yang luar biasa pesat. Kemajuannya ditandai dengan berdirinya Bayt al Hikmah yang merupakan pusat studi, perpustakaan, sekaligus universitas terbesar di dunia saat itu yang mampu menghasilkan sederet ilmuwan Muslim yang melegenda. yang menjadi sumber inspirasi bagi dunia.

Saat itu seseorang yang berhasil membuat suatu karya ilmiah, dalam sejarahnya mereka memberikan emas seberat karya yang telah dirumuskan, sehingga banyak dari masyarakat Islam yang tertarik dengan mengadakan penelitian ilmiah, seperti penelitian medis. Bisa dikatakan, tidak ada peradaban lain di muka bumi yang bisa menandingi pesatnya ilmu pegetahuan di dunia Islam, dari mulai Eropa, Cina, hingga India, semuanya salut dengan kegigihan Khalifah yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan melebihi peradaban manapun saat itu.

Inilah gambarankegemilanganperadaban Islam yang merupakan hasil dari penerapan ideologi Islam secara kaffah.Wallahu ‘Alam bis shawwab


Editor : Armin 

Publizher : Iksan