Manusia yang Lupa Akan Hakikatnya

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Lia Destia

Manusia merupakan makhluk yang terbaik dan paling tinggi derajatnya dibanding dengan makhluk ciptaan Allah SWT yang lain. Namun meskipun disebut sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya, manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Manusia tetap memiliki keterbatasan dari berbagai hal, karena yang sempurna hanyalah Allah SWT, Sang Pencipta dan Sang Maha Segalanya. Itulah sebabnya, sifat Allah SWT sebagai Tuhan kita adalah Tak Terbatas.

Layaknya sebuah smartphone yang diciptakan oleh manusia, tentu smartphone sangat berbeda dengan manusia. Begitu juga manusia yang diciptakan oleh Allah SWT, manusia memiliki keterbatasan sedangkan Allah SWT tidak terbatas. Maka dari itu, sesungguhnya tak pantas bila kita menyombongkan diri, melupakan Pencipta. Padahal sejak lahir manusia telah diberikan banyak sekali rizki, mulai dari waktu, kesehatan, makanan, minuman bahkan untuk menjalani hidup supaya sampai ke surga pun manusia diberi petunjuk berupa Al Qur’an dan Hadits supaya tetap di dalam koridor agama-Nya karena Allah SWT tak mau manusia tersesat dan akhirnya terjerumus ke jalan yang salah. Sungguh benar, Allah Maha Penyayang.

Namun terkadang karena keterbatasannya, manusia juga bisa lupa akan hakikatnya yang hanyalah makhluk ciptaan dan tak layak mengintervernsi apa yang telah disampaikan Penciptanya. Seperti kabar yang baru-baru ini tengah menjadi perbincangan diberbagai media. Dilansir dari nasional.tempo.co (Minggu, 03/03/2019), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berencana akan mensosialisasikan usulan untuk penghapusan kata ‘kafir’ terhadap nonmuslim di Indonesia. Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan bahwa sosialisasi ini akan disebarkan kepada pihak terkait.

“Sosialisasi itu dilakukan baik ke internal NU maupun pihak-pihak eksternal NU,” ujar Robikin.Usulan penghapusan kata kafir ini tercetus dalam sidang komisi bahtsul masail maudluiyyah yakni Musyawarah Nasional Alim Ulama NU. Sidang ini mengusulkan supaya NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang nonmuslim.

Pimpinan sidang, Abdul Moqsith Ghazali mengatakan bahwa sebutan ‘kafir’ terhadap nonmuslim memiliki unsur kekerasan teologis. “Dianggap mengandung unsur kekerasan teologis, karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tapi ‘muwathinun’ atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain,” katanya.

Terlepas dari berita diatas, mari kita bahas kata ‘kafir’ didalam Al Qur’an. Kata ‘kafir’ memang digunakan oleh umat muslim untuk orang nonmuslim karena dalam Al Qur’an, Allah SWT pun menyebut mereka yang bukan beragama Islam dengan sebutan ‘kafir’ dan kata ‘kafir’ disebutkan sebanyak 525 kali didalam berbagai bentuk kalimat.

Biasanya umat muslim menyebut ‘kafir’ ketika mereka tengah berbincang hanya dalam lingkungan umat seagamanya, misalkan ketika seorang ustadz sedang memberikan tausiyah maupun ketika sekelompok umat muslim tengah berdiskusi soal ilmu agamanya. Bila seorang muslim berada di tengah kelompok yang didalamnya terdapat orang bukan beragama Islam, maka muslim tersebut pun menyebutnya dengan sebutan ‘nonmuslim’. Itulah bentuk menghargai umat muslim terhadap nonmuslim, karena meskipun kata ‘kafir’ bukanlah kata yang kasar dan mengandung kekerasan teologis seperti yang diberitakan diatas, namun masih banyak yang salah paham dengan makna dari kata ‘kafir’ itu sendiri, bahkan umat muslim pun masih banyak yang memahaminya.

Banyak yang mengartikan kata ‘kafir’ dengan sesat dan berbagai hal buruk lainnya. Padahal kata ‘kafir’ dalam bahasa Arab secara harfiah berarti orang yang menutupi. Apakah sebutan ‘orang yang tertutup/menutupi’ merupakan sebutan yang mengandung kekerasan? Bukankah nonmuslim menutup atau menolak mempercayai agama Islam? Di dalam Islam sebutan ‘kafir’ ditujukan pada orang yang menolak mempercayai bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Lalu dari sisi mana kekerasan yang terkandung dalam kata ‘kafir’? Bila kata ‘kafir’ disebut mengandung kekerasan teologis, apakah Allah SWT Sang Pencipta berarti mengajarkan manusia unsur kekerasan? Subhanallah.

Selain itu, bahkan agama lain pun memiliki sebutan untuk orang-orang diluar agamanya. Misalnya Yahudi yang menyebut nonYahudi sebagai goyim (http://nazarenejudaism.com), kemudian Hindu yang menyebut non Hindu sebagai maitrah (http://inputbali.com) dan berbagai agama lainnya. Lalu dimana titik permasalahannya bila muslim juga memiliki sebutan untuk orang nonmuslim?

Dari uraian diatas, semoga kita semua memahami. Hakikat manusia hanyalah ciptaan yang sesungguhnya sangat terbatas. Allah SWT merupakan Sang Maha Mengetahui, maka apapun yang diperintahkan, yang dilarang oleh-Nya tidak akan pernah salah atau mencelakakan kita. Justru kitalah yang seharusnya lebih memperdalam lagi ajaran Islam supaya memahami dan tidak menyalahartikan. Wallahu ‘alam.


Editor : Armin 

Publizher : Iksan