,

Mengatasi Islamophobia, Mungkinkah?

oleh

Oleh : Anggita Safitri

(Mahasiswi UHO)

Islamophobia semakin tak terbendung. Semenjak peristiwa penyerangan yang terjadi di Selandia baru, banyak kejadian serupa yang dilakukan oleh orang-orang yang phobia dengan Islam. salah satunya yang terjadi pada empat masjid di Birmingham, Inggris, dengan menggunakan palu godam sebagaimana berita yang diterbitkan oleh BBC.com (22/03/2019).

 Dewan Masjid Birmingham mengeluarkan pernyataan bahwa “Kami sangat terkejut mendengar sejumlah masjid dirusak dini hari tadi. Masjid-masjid di Birmingham adalah tempat beribadah, ketenangan dan sumber perdamaian dan sumber ketenangan. Kami sangat dikejutkan oleh aksi kebencian atau teror seperti ini.”

Realita kebencian terhadap Islam juga dikutip dari media online Republika.co.id (23/032019), Jika Pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan, membakar salinan Alquran, Jumat (22/3). Hal itu dia lakukan sebagai bentuk protesnya atas sejumlah Muslim yang menunaikan Shalat Jumat di depan gedung parlemen negara tersebut. Dilaporkan laman Anadolu Agency, sejumlah Muslim di Denmark menggelar aksi solidaritas untuk para korban penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pekan lalu. Mereka berkumpul dan sempat menunaikan Shalat Jumat di muka gedung parlemen Denmark.

Perlu diingat jika Islamophobia telah terjadi jauh sebelum penembakan di selandia baru tersebut. Ustadz Adnin Armas menyebutkan, Islamophobia bisa jadi tidak hanya terjadi di Eropa dan Amerika, tetapi juga di Indonesia. Hal itu disampaikan dalam tabligh akbar di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan. “Ini menjadi tantangan bagi umat Islam saat ini. Pernah dalam sejarah, umat Islam menjadi peradaban yang paling unggul. Kita patut bertanya mengapa itu terjadi dan apa solusinya agar kita bisa bangkit lagi,” ujarnya (Republika.co.id, 01/05/2015).

Di Indonesia saat ini ketakutan dan diskriminasi terjadi terhadap organisasi tertentu yang memperjuangkan islam dan dijadikan sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan dengan menyerang lawan dengan menggunakan kebohongan atau hoaks (baca tribunnews.com, 25/03/2019).

Bagaimana mungkin negeri yang mayoritas muslim sendiri takut akan ajaran Islam dan mendiskriminasinya serta hanya menjadikannya sebagai alat untuk memperoleh sebuah kekuasaan yang menghasilkan materi yang bersifat sementara?. Mestinya seorang pemimpin yang beriman kepada Allah harus menjadi pelayan rakyat yang mengatur urusan ummat serta menjadi pemimpin dengan cara yang baik, karena semuanya pasti akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.

Islamofobia memang sengaja diciptakan untuk menebar ketakutan terhadap simbol Islam dan ajaran Islam. Islamofobia hanya bisa dihentikan bila Islam diterapkan secara kaffah karena bersumber dari Sang Pencipta yang membawa rahmat atas sekalian alam, sesuai fitrah manusia, menentramkan dan membawa damai.

Sejarah telah membuktikan bahwa dengan penerapan Islam kaffah maka, seorang pemimpin akan mengayomi semua agama dan ras, hingga tak ada xenofobia (takut keberadaan orang asing).

Dalam Islam semua diatur dari urusan individu sampai tataran negara, sehingga memberikan keadilan bagi rakyat, kedamaian, kesejahteraan dan keamanan. Sikap yang berbeda dengan saat ini, dimana dunia Barat tidak menampakkan keadilan bagi kaum muslimin di new zealand, suriah, palestina dan rohingya. Saat umat Islam jadi korban Islam tertuduh sebagai teroris. Sedangkan penguasa muslim  tetap bungkam terhadap peristiwa buruk yang kerap menimpa kaum muslim.

Maka sudah sepantasnya umat menyadari jika hanya dengan penerapan Islam kaffah akan hadir junnah (perisai) yang akan melindungi mereka dari segala kemudaratan dan memberantas Islamophobia secara tuntas, serta tentu saja akan menghadirkan pemimpin yang peduli terhadap semua urusan rakyatnya. Wallahua’lam bi ash-shawab.


Editor : Armin | Publizher : Iksan


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart