Bullying  Memangsa Generasi, Butuh Solusi

  •  
  •  
  •  

Oleh: Dewi Puspita, S.Si

(Pemerhati Perempuan dan Remaja)

Baru-baru ini publik dikejutkan dengan viralnya pem-bullyian seorang siswi SMP berinisial A oleh 12 siswi yang masih berseragam putih abu-abu di Kota Pontianak.   Bermula dari cek cok hingga kekerasan yang berujung dirawatnya korban di rumah sakit.

Data bidang pendidikan, kasus anak pelaku kekerasan dan bullying yang paling banyak terjadi. “Dari 161 kasus, 41 kasus di antaranya adalah kasus anak pelaku kekerasan dan bullying,” ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti kepada Tempo pada Senin, 23 Juli 2018 (tempo.co, 23/07/2018).

Betapa bullying telah membudaya di kalangan generasi masa kini. Tak hanya di Indonesia, sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal pediatrik “JAMA” menemukan bahwa angka bullying di Korea Selatan sangatlah tinggi. Dari 1750 sekolah yang menjadi sampel survey penelitian ditemukan 40% murid di Korea Selatan pernah terlibat dalam aktivitas bullying dengan pembagian 14% sebagai korban, 17% sebagai pelaku, dan 9% merupakan korban sekaligus pelaku (yukepo.com, 08/09/2017).

Kementerian Pendidikan Jepang memaparkan fakta mengejutkan tentang kecenderungan pelajar tingkat sekolah dasar dan menengah melakukan bunuh diri. Dari hasil penelitian, tercatat ada 250 pelajar sekolah dasar hingga menengah atas bunuh diri selama periode 2016-2017. Salah satu alasan kasus bunuh diri ini karena ratusan pelajar itu menjadi korban bullying. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 1986 atau 30 tahun lalu, dimana 268 anak-anak mati bunuh diri ( CNN Indonesia, 06/11/2018).

Tingginya angka bunuh diri tak hanya dialami Jepang, tapi negara serumpunnya di Asia Timur seperti Korea Selatan. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) Korsel bahkan memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi dari Jepang. Pada 2017, angka kematian akibat bunuh diri di Korsel mencapai 26,9 per 100 ribu orang, sementara Jepang 18,5 dan Filipina 3,2. Selain Korsel, bunuh diri menjadi faktor utama meningkatnya angka kematian di Hong Kong (CNN Indonesia, 06/11/2018).

Bullying, Bukan Kasus Biasa

Bullying merupakan istilah dari bahasa asing yang ketika diterjemahkan dalam kamus bahasa Indonesia sebagai perundungan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) rundung mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan. Perundungan artinya suatu perlakuan yang mengganggu, mengusik terus menerus serta menyusahkan.

Perilaku ini akan memberikan pengaruh yang besar terhadap psikologi anak, di antaranya depresi, gangguan kecemasan, gangguan kesehatan fisik, mengucilkan diri, rasa tidak aman saat berada di lingkungan sekolah. Bahkan di Jepang, usai ya masa liburan sekolah adalah hal yang paling menakutkan bagi korban bullying. Di antara jenis-jenis perundungan, ejekan, dan fitnah atau umpatan adalah yang paling banyak dialami murid. Jumlahnya mencapai 62,5 persen. Bullying secara online dengan komputer dan ponsel juga meningkat 3,3 persen, dengan kenaikan tertinggi terjadi di sekolah menengah atas (kompas.com, 27/10/2017).

Akar Permasalahan

Melihat persoalan ini, menunjukkan generasi masa kini tidak lagi memiliki rasa empati. Gaya hidup liberalisme (serba bebas) dan matrealistis telah menyulap segalanya dinilai dengan kaca mata materi. Jika memiliki segalanya dengan seenaknya memperlakukan teman yang dianggap rendah. Men-bully dianggap hal menyenangkan. Hal ini menggambarkan krisis kepribadian. Lalu jika generasi muda seperti ini, apa yang diharapkan dari masa depan bangsa? Akankah negara kita akan dipimpin oleh generasi yang bahkan tidak peduli terhadap sesamanya? Siapa yang bertanggungjawab menuntaskan persoalan ini? Bahkan di negara maju pun kasus bullying terus meningkat.

Hukum yang ditegakkan tak mampu membuat para pelaku bullying jera. Hal ini juga karena pelakunya masih di bawa umur dan dilindungi boleh Undang-Undang yang berlaku. Di lain sisi, anak-anak pelaku bully sejatinya telah melanggar HAM.

Islam Tuntaskan Masalah Bullying

Islam memandang generasi muda sebagai tunas harapan masa depan sebuah peradaban. Jika generasi mudanya baik cemerlang akan berbanding lurus dengan kegemilangan peradabannya. Oleh karena itu syariat Islam memberi solusi tuntas baik dari lingkup keluarga, masyarakat dan negara. Keluarga sebagai benteng pertahanan pertama harus kokoh. Didikan orang tua akan memengaruhi kepribadian anak. Maka semestinya dalam ramah keluarga anak ditempat agar memiliki kepribadian Islam yang kokoh dengan akhlak mulia.

Dalam lingkup masyarakat harus ada ketakwan sehingga terbentuk masyarakat yang di dalamnya saling menasihati dalam kebenaran. Kontrol  masyarakat akan sangat membantu mewujudkan suasana keimanan. Selain itu, negara memiliki peran strategis dalam menangani setiap problematika. Hukum yang diterapkan harus mampu memberi efek jera agar tak ada lagi korban dan generasi muda dapat terlindungi dari perbuatan yang tak mulia dan mengancam generasi ini.

Sejarah telah menjadi saksi meskipun sejarawan yang tidak objektif berusaha menutupinya. Betapa abad kecemasan islam tidak tercipta begitu saja melainkan hasil dari penerapan syariat islam yang kaffah (total), menyelenggarakan sistem pendidikan berbasis akidah islam serta kurikulum berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah telah mampu mencetak  generasi unggul nan berakhlak mulia yang menguasai banyak bidang (polymath). Tak hanya sekedar ilmuan, mereka juga ulama, ahi hadits, dan ahli fiqih. Merekalah generasi dambaan umat, dimana penemuan teknologi dan ilmu pengetahuan tak membuat mereka salah jalan meraih ridho-Nya serta setiap lembaran kisah hidupnya tercurahkan untuk Islam. Lalu jika kita memiliki aturan Islam sebagai panduan terbaik dan terlengkap untuk mengerahkan potensi generasi menjadi hebat dambaan  umat, untuk apa mencari aturan yang lain. Wallahu’alam bishowab.


Editor : Armin | Publizher : Iksan


Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co