Merindu Kepemimpinan Syar’i

oleh

Oleh : Sayyidah Hanifah

(Mahasiswa Universitas Negeri Malang)

Seorang yang ahli dalam memimpin suatu hal adalah salah satu syarat seseorang dapat dikatakan pemimpin. Pemimpin adalah orang yang paling berkuasa dan bertanggungjawab atas segala yang dipimpinnya, baik diri sendiri, keluarga, masyarakat hingga negara. Sebagaimanapara pemimpin sejati kapanpun terdahulu hingga sekarang.

Sebagaimana dalam sabda Rasulullah:“Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka dan doa orang yang dizalimi.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang dimana AllahSWTridlo terhadap dirinya. Pemimpin yang ketika diberi amanah untuk  memimpin suatu wilayah dia akan menjadi pemimpin yang mencurahkan segenap tenaga untuk mengurusi urusan masyarakat dengan syariat yang telah Allah SWT turunkan untuk menjadi pedoman kehidupan manusia yaitu Islam. Seoeang pemimpin juga adalah penguasa yang bertanggungjawab atas rakyatnya.

Seorang pemimpin muslim seharusnya tidak perlu cemas bagaimana menjadi seorang pemimpin yang amanah karena Rasulullah SAW telah mencontohkan. Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi seorang rasul dan suami yang menyayangi istrinya dengan adil. Akan tetapi, Rasulullah SAW juga sebagai seorang pemimpin sebuah negara, yang di Madinah sebagai ibukota NegaraIslam.

Sebagaimana di dalam Al-Qur’an Allah SWT Berfirman:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh.” [QS al-Ahzâb (33): 21]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata di dalam kitabnya tentang ayat ini, “Ayat yang mulia ini merupakan pondasi/dalil yang agung dalam meneladani Rasûlullâh Saw dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau. Orang-orang diperintahkan meneladani Nabi Saw dalam perang Ahzâb, dalam kesabaran, usaha bersabar, istiqamah, perjuangan, dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Rabbnya. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada beliau sampai hari Pembalasan”

Pribadi Rasulullah Saw adalah orang yang luar biasa. Akhlak beliau tiada tandingan.  Karena itu, pribadinya tak perlu disangsikan.Lebih dari itu, Rasulullah Saw adalah sosok negarawan sejati, yang mengimplementasikan ajaran Islam secara menyeluruh. Dahulu, hanya dalam waktu 23 tahun, beliau telah menghasilkan tiga karya besar yang belum pernah dicapai oleh pemimpin manapun di seluruh dunia.

Tiga karya besar tersebut yang pertama, mengesakan Allah SWT. Nabi Muhammad saw. telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semula mempercayai banyak Tuhan menjadi bangsa yang bertauhid. Hanya meyakini satu Tuhan, yakni Allah SWT.

Kedua, menyatukan umat. Nabi Muhammad saw. telah berhasil menjadikan bangsa Arabyang semula terpecah-belah, sering bermusuhan dan banyak terlibat peperangan antarsuku dan antarkabilahmenjadi  bangsa yang bersatu-padu dalam satu ikatan akidah Islam.

Ketiga, menyatukan negara/pemerintahan. Nabi Muhammad saw. telah berhasil menyatukan kepemimpinan bangsa Arabyang sebelumnya terpecah-belah dalam banyak kepemimpinan suku/kabilah dan kerajaan-kerajaan kecildi dalam satu pemerintahan Islam (Daulah Islam) yang kekuasaannya meliputi seluruh Jazirah Arab dan sekitarnya.

Keberhasilan Rasulullah Muhammad Saw sebagai negarawan tentu tidak lepas dari peranbeliau. Menurut Imam al-Qarrafi (684 H) dalam karyanya, Anwar al-Buruq fi Anwa’i al-Furuq, setidaknya ada tiga peranan yang dilakukan secara bersamaan oleh Nabi Muhammad Saw yaitu: (1) peran sebagai pengemban risalah Islam (pemimpin umat); (2) peran sebagai kepala negara (pemimpin rakyat); (3) peran sebagai qadhi (hakim) atas setiap sengketa yang terjadi di tengah-tengah warga negara.

Pertama: Sebagai pengemban risalah Islam, Nabi Saw berdakwah di tengah-tengah masyarakat dengan metode penyampaian dakwah yang khas: (1) Dengan hikmah (bil hikmah), yaitu dengan kata-kata yang tegas dan benar, yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil; (2) Dengan nasihat yang baik (al-maw’izhah al-hasanah); (3) Dengan membantah orang-orang yang menentang beliau dengan argumentasi yang jauh lebih baik (jadilhum billati hiya ahsan).

Yang kedua: Sebagai kepala negara (pemerintahan), Rasulullah Muhammad Saw hanya memerintah dengan Islam; hanya dengan menerapkan syariah Islam; atau hanya merujuk pada wahyu Allah SWT. Dengan itu kepemimpinan Rasulullah Saw sangat jauh dari kezaliman. Sebab kezaliman hanya akan terjadi saat seseorang, khususnya pemimpin, tidak berhukum kepada hukum Allah SWT.

Memimpin masyarakat dengan selalu merujuk pada al-Quran, itulah salah satu wujud kepemimpinan yang benar-benar tulus/loyal, bukan hanya kepada rakyat, tetapi terutama semata-mata kepada Allah SWT. Sebaliknya, pemimpin yang tidak benar-benar tulus/loyal memimpin rakyat adalah mereka yang dalam memimpin tidak merujuk pada al-Quran.

Yang Ketiga: Sebagai qadhi (hakim), Rasulullah Saw selalu mengadili setiap perkara dengan seadil-adilnya. Tanpa pilih-kasih. Tanpa diskriminasi. Termasuk terhadap keluarga beliau sendiri.

Islam juga mengatur syarat terpenuhinya seseorang dapat menjadi pemimpin umat muslim adalah seorang muslim, laki-laki, merdeka, baligh, berakal, adil, dan memiliki kemampuan dalam memimpin.Syarat pemimpin dalam islam tidaklah dapat terpenuhi dengan cara apapun jika yang menopang peminpinnya bukan dari sistem slam itu sendiri. Kita dapat melihat bahwa kondisi yang akan mempengaruhi orang-orang yang ada di dalammya.


Editor : Armin | Publizher : Iksan


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart