Perempuan Lokomotif Perubahan Bangsa

  •  
  •  
  •  

Oleh : Mariana, S.Sos

( Guru SMPS Antam Pomalaa – Kolaka )

 Direktur Rumpun Perempuan Sultra (RPS), Husnawati, menyatakan, menjelang pemilu, perempuan harus menjadi pemilih yang cerdas untuk menghadirkan pemilu yang sehat guna berkontribusi menciptakan suasana aman dan nyaman selama masa pemilu berlangsung. “Selama ini dalam penyelenggaraan pemilu, perempuan selalu menjadi bagian yang tidak pernah menjadi perhatian khusus, maka jadilah perempuan pemilih yang cerdas, apakah visi misi capres ada hubungannya dengan kepentingan perempuan,” tuturnya dalam dialog publik yang dilaksanakan di salah satu kafe di Kendari, Rabu (3/4/2019). (DETIKSULTRA.COM).

Betul bahwa perempuan harus menjadi pemilih cerdas supaya tidak terjebak pada politik pragmatis dan penuh intrik, tidak mudah tergerus oleh isu-isu hoax dan pencitraan yang dilakukan, juga tidak mudah tergiur dengan sogokan amplop recehan. Karena itu mencerdaskan perempuan secara politik butuh rutinitas dan political will dari perisai negeri ini yakni penguasa, sebab jika perempuan mau dicerdaskan secara politik maka harus ada edukasi sejak dini tentang pentingnya berpolitik secara cerdas bukan hanya pada saat mendekati pemilu atau memilih pemimpin tapi perempuan cerdas itu haruslah dalam segala aspek dan perannya dalam rangka meraih kemaslahatan masyarakat.

Perempuan adalah lokomotif bangsa artinya perempuanlah penggerak perubahan bangsa sebab dengan peranan perempuan generasi emas akan dilahirkan, generasi cerdas yang siap berkompetisi dan berkolaborasi dalam pentas percaturan dunia, sebab itu peran perempuan sangat multidimensi. Peran yang paling penting adalah sebagai ibu, pengurus dan pendidik anak-anaknya agar generasi yang dilahirkan dan di didiknya menjadi pemimpin yang cerdas yang dapat melindungi rakyatnya dan itu hanya dapat terjadi jika perempuan yang melahirkannya adalah perempuan yang cerdas sebagaimana ibunda Sultan Muhammad al- Fatih yang mengantarkan Muhammad al-Fatih sebagai legendaris karena keberhasilannya menaklukan konstantinopel pada usia yang relatif muda yakni 21 tahun.

Ibu Sultan Muhammad Al-Fatih telah mengajari anaknya tentang Geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia berkata , “Engkau wahai Muhammad akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Muhammad kecil pun bertanya , “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar ini wahai ibu?” “ Dengan Alquran, kekuatan,persenjataan dan mencintai manusia”,jawab sang bu penuh hikmat.

Pun dengan perempuan di balik keberhasilan Thomas Alva Edison yang membawanya menjadi pesohor karena banyak keberhasilan yang telah diraihnya salah satunya adalah penemu lampu pijar, pada masa  kecilnya ia adalah seorang yang tuli dan bodoh disekolahnya, sampai sekolah menyerah padanya tapi Ibunya memberikan motivasi, mengajar dan mendidiknya sehingga ia berhasil sukses berkat perempuan yakni ibunya yang sabar dan cerdas yang terus mendukung dan membimbingnya. Masih banyak kisah lain yang menginspirasi betapa perempuan memegang peranan penting penggerak perubahan bangsa pencetak generasi unggul.

Kecerdasan yang dimiliki perempuan tentu bukan hanya dinilai dari aspek terjunnya dia dalam dunia politik praktis dan pragmatis hanya sekadar memilih, tentu ini adalah penilaian yang sangat tidak komprehensif sebab peran perempuan lebih dari itu bahkan yang terpenting adalah memperbaiki kecerdasan domestiknya yakni kecerdasan sebagai ibu dan pengurus rumah tangganya karena ditangan perempuanlah akan lahir pemimpin cerdas yang akan menjadi perisai bagi rakyat dan negaranya. Hanya saja sangat disayangkan peran domestik ini sering diabaikan bahkan dianggap remeh oleh kaum feminis karena tidak menghasilkan pundi-pundi kekayaan.

Perempuan sebagai lokomotif perubahan juga diberikan kesempatan untuk berkiprah dalam ranah publik asalkan tidak menciderai kehormatan dan mengabaikan peran utama dia dalam sektor domestik misalnya menjadi pendidik, ilmuan, tenaga medis,dll. Bahkan perempuan juga diberikan hak untuk memilih pemimpin dan melakukan koreksi terhadap kebijakan penguasa yang keliru sebagaimana dimasa Khalifah Umar bin Khattab, para perempuan mengoreksi kebijakan Khalifah Umar atas pembatasan mahar yang ditetapkan oleh Umar dan Umar menerima masukan kaum perempuan, contoh kehidupan politik dan pemerintahan yang harmonis dan jauh dari egoisme dan pencitraan.

Perempuan harus cerdas memilih supaya tidak terjebak pada euforia sesaat yang menyesatkan yang berujung pada kedustaan dan kedunguan dan juga tidak menjadi korban php dari kebijakan pemimpin yang doyan manipulasi kata tapi gagal menyejahterakan rakyatnya karena kebijakan yang penuh tipu-tipu, perempuan pun harus cerdas memilih pemimpin agar tidak tersengat racun berbisa penampilan fisik dan gaya sopan merakyat padahal aslinya doyan jual aset rakyat dan pro terhadap asing dan aseng. Perempuan harus cerdas memilih pemimpin, yakni pemimpin yang akan menjaga harta, darah dan kehormatan rakyatnya bukan pemimpin yang rajin menggusur warganya, memberikan sertifikat fiktif dan bukan pula pemimpin yang rajin bagi-bagi kartu.

Perempuan pun harus cerdas memilih pemimpin yang dapat memperhatikan rakyatnya secara menyeluruh bukan hanya kepentingan perempuan tapi rakyat secara menyeluruh bukan pemimpin yang hanya membela kepentingan pribadi, golongan, dan partainya. Perempuan harus cerdas memilih pemimpin yakni pemimpin yang membela kepentingan rakyatnya bukan membela kepentingan asing dan membuang rakyatnya, pemimpin yang amanah dan tunduk pada aturan Penciptanya bukan pemimpin yang taat pada aturan internasional dan tunduk pada kebijakan asing, perempuan harus cerdas memilih pemimpin yakni pemimpin yang mampu membuka akses pekerjaan bagi rakyatnya bukan pemimpin yang mengundang pekerja asing tapi menelantarkan rakyatnya.

Karena itu perempuan cerdas adalah perempuan yang memiliki pemikiran komprehensif yang mengglobal menyangkut segala sesuatu, perempuan cerdas bukan hanya terkait memilih pemimpin Negara tapi menyangkut segala aspek, baik ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, dll, terlebih statusnya sebagai ibu dan pengurus rumahnya dia harus mampu menjadi pendidik yang cerdas bagi generasi yang akan dilahirkannya.

Perempuan pun harus cerdas dalam memahami segala sesuatu yang terjadi, bukan terjebak pada isu gender dan selalu merasa paling didiskriminasi karena faktanya laki-laki pun mengalami hal yang sama, kemiskinan, kebodohan, ditelantarkan, kelaparan dan korban kekerasan, misalnya saja masalah ekonomi sesungguhnya adalah problem sistemik, konsekuensi dari penerapan kebijakan kapitalistik liberal yang diterapkan dalam sistem demokrasi sekuler.

Konsekuensinya kekayaan alam yang seharusnya dikelola oleh Negara justru banyak dikelola oleh swasta lokal maupun asing akibatnya distribusi kekayaan mengalir pada mereka dan rakyat tidak mendapatkan apapun, bahkan kebijakan utang riba sebagai urat nadi sistem kapitalis telah membuat perempuan maupun laki-laki sengsara karena mereka harus menanggung risiko kehidupan yang berat dari aspek pajak , kebutuhan pokok yang semakin melambung tinggi, lapangan pekerjaan sulit yang berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas, begitupun beban stres para perempuan maupun laki-laki meningkat tajam sehingga keluargapun menjadi berantakan puncaknya angka perceraian semakin tinggi.

Karena itu perempuan harus cerdas memahami situasi yang ada bahwa persoalan gender tidak memiliki korelasi langsung terhadap persoalan yang menimpa perempuan, sebab faktanya yang menderita bukan hanya perempuan tetapi lelaki juga. Perempuan dan laki-laki hanyalah obyek penderita akibat kebijakan yang dilahirkan dari sistem sekuler kapitalis yang orientasi tertingginya berada pada modal maka siapapun punya modal dia akan dapat eksis dan semakin menonjolkan diri dan kepentingannya sebaliknya yang tidak punya modal maka siap-siap digusur dan dipinggirkan.

Dalam sistem kapitalis sekuler tak ada lagi batas humanisme, sebab batas moralitas dan kemanusian diukur dari manfaat materi yang akan diperoleh. Karena itu menyalahkan gender terhadap apa yang menimpa perempuan adalah tidak bijaksana karena itu perempuan harus cerdas memilih pemimpin yang akan memperjuangkan hak-hak rakyatnya secara menyeluruh baik dia berstatus laki-laki mapupun perempuan sebab permasalahan mendasar yang terjadi adalah permasalahan yang menimpa manusia bukan jenis kelamin.

Karena itu perempuan adalah lokomotif perubahan bangsa, perempuan adalah penggerak yang akan melahirkan pemimpin berkualitas, yang amanah, mencintai dan melindungi rakyatnya, perempuan adalah pendidik yang mencerdaskan pemimpin suatu negeri, perempuan adalah penasehat yang akan melakukan koreksi terhadap kebijakan penguasa yang keliru. Karena itu jadilah perempuan yang cerdas yakni perempuan yang hanya taat pada Allah Dan RasulNya. Dan Perempuan  yang akan melahirkan pemimpin peradapan gemilang, pemimpin yang cerdas dan hanya takut pada Allah dan RasulNya. Wallahu ’alam (***)


Editor : Armin | Publizher : Iksan


Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co