Dilema Antara 01 dan 02

  •  
  •  
  •  

Oleh : Umul Amalia

(Mahasiswa UM)

Pemilihan umum (Pemilu)tinggal esok hari. Perhelatan akbar ini akan digelar 17 April mendatang. Kampanye kedua kubu pasangan calon 01 dan 02 kian digencarkan. Segala cara dilakukan mulai dari cara yang halus hingga cara-cara yang kasar sekalipun. Akibatnya, saling serang antara pendukung pun tak terelakkan.

Rakyat yang pro Jokowi-Ma’ruf akan mengunggulkan keberhasilan Bapak Joko Widodo selama menjabat periode 2014-2019 dalam bidang infrakstruktur. Di sisi lain, bagi rakyat yang kontra dan tidak menginginkan Bapak Joko Widodo menjabat dua periode justru berbalik mengkritisi pembangunan tersebut yang dinilai menyengsarakan masyarakat biasa. Sementara itu, di lain pihak bagi yang mendukung Prabowo-Sandi akan mengunggulkan ketegasan Bapak Prabowo Subianto dan keramahan Bapak Sandiaga Uno yang katanya sangat cocok ketika disandingkan bersama. Namun demikian, tidak sedikit pula yang menyinggung perihal Calon Presiden nomor urut 02 yang terlibat dalam tragedi 1998.

Menariknya, media sosial seolah menjadi lahan paling apik untuk kampanye. Kemunculan beragam hastag yang ada di media sosial menjadi salah satu bukti antusiasme masyarakat terhadap pemilu kali ini. Beberapa hastag yang sempat viral di media sosial diantaranya #2019GantiPresiden, #2019PrabowoSandi, #RezimHoax, #RezimSabun, dan lain sebagainya. Tak ayal hal ini semakin menciptakan dilema antara harus memilih paslon 01 atau paslon 02.

Masyarakat pun dituntut harus menentukan pilihan. Jika memilih 01, maka berarti menolak 02.Begitupun sebaliknya, mendukung paslon 02, berarti menginginkan kejatuhan bagi paslon 01. Namun, satu hal yang pasti, setiap orang tentu menginginkan pemimpin yang bisa  membawa bangsa ini menuju peradaban terbaik di dunia. Karena seorang pemimpin menjadi peran krusial dalam permasalahan ini. Maka tak heran banyak mayarakat yang sangat mendambakan pemimpin yang mampu mensejahterakan seluruh rakyatnya, bukan hanya rakyat yang berkedudukan.

Sejak merdeka sejatinya Indonesia sudah mengalami 6 kali pergantian kepemimpinan dengan 3 era yang berbeda. Setiap menjelang pemilihan umum calon-calon pemimpin mulai bermunculan. Janji-janji manis diobral hingga membuat masyarakat terpedaya dan akhirnya menggantungkan harapan kepada siapapun pemimpin yang terpilih. Terus seperti itu, berulang kali, namun masyarakat lagi dan lagi menelan pil pahit janji para penguasa yang tak sesuai realita. Terlebih saat mindset hari ini yang senantiasa diarahkan dan berorientasi pada uang dan jabatan,  keraguan seringkali menghampiri benak setiap manusia. Bisakah masyarakat kembali menaruh harapan kepada pemegang tampuk kekuasaan di masa mendatang?  Bagaimana jika kekecewaan kembali hadir seperti yang sudah-sudah? Karena hal ini, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya bersikap apatis dan tidak mau tahu urusan perpolitikan.

Kepemimpinan dalam Islam

Islam sebagai ideologi punya pandangan yang khas tentang kepemimpinan. Sebagaimana syarat wajib seorang pemimpin yang disebutkan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Hukm fil al-Islam yaitu: (1) Muslim; (2) laki-laki; (3) dewasa (baligh); (4) berakal; (5) adil (tidak fasik); (6) merdeka; (7) mampu melaksanakan amanah kepemimpinan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah rasulullah saw.

Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al-afkar as-Siyasiyyah juga menyebutkan beberapa karakter seorang pemimpin yaitu Pertama, berkepribadian kuat. Kedua, bertakwa. Orang yang bertakwa akan selalu menyadari keberadaan Allah yang senantiasa memonitor apa yang dia lakukan dan akan merasa takut ketika melanggar ketentuan Allah. Ketiga, memiliki sifat welas kasih. Ini diwujudkan dengan sikap lemah lembut dan bijak yang tidak akan menyakiti rakyatnya. Abu Musa al-Asyari ra., saat diutus menjadi wali/gubernur di Yaman, mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:Gembirakanlah (rakyat) dan jangan engkau hardik. Permudahlah (urusan) mereka dan jangan engkau persulit.” (HR. Al-Bukhari).

Kelima, penuh perhatian kepada rakyatnya. Keenam, istiqomah memerintah dengan syariah islam. Sebab, islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Hukum yang termaktub dalam Kitabullah dan as-Sunnah bukanlah buatan manusia, melainkan Pencipta alam semesta yang tidak punya kepentingan terhadap dunia. Dengan demikian, kemungkinan untuk masuknya kepentingan pribadi/kelompok/golongan di dalam hukum-hukum islam tidak akan terjadi.

Selain sosok pemimpin yang mumpuni, juga dibutuhkan suatu sistem kepemimpinan ideal yang menutup pintu segala kecurangan dan keserakahan manusia. Sistem kepemimpinan semacam ini hanya ada di dalam islam, atau lebih dikenal dengan istilah Islamiyah. Sebuah sistem pemerintahan islam yang di dalamnya menerapkan syariah secara kaffah yang didasarkan pada dua prinsip utama yakni kedaulatan di tangan syariah dan kekuasaan di tangan rakyat.

Kekuasaan adalah kewenangan untuk mengangkat kepala negara. Kewenangan ini ada di tangan rakyat yang dilakukan melalui sebuah mekanisme bernama baiat. Dalam islam, rakyat berhak menentukan pemimpin di antara mereka untuk mengatur urusan mereka dengan syariah islam.

Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi untuk membuat hukum. Islam telah menetapkan bahwa hak membuat hukum hanya milik Allah. Manusia, termasuk Khalifah, tidak memiliki wewenang dan hak sama sekali untuk membuat hukum. Khalifah hanya bertugas melegalisasi hukum yang digali oleh para mujtahid untuk kemudian diterapkan di tengah-tengah masyarakat.

Perundang-undangan yang ada di dalam sistem islam hanya bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Hal ini berlandaskan pada firman Allah:

“Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sebelum menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (TQS. An-Nisa’: 65)

Dengan demikian yang dibutuhkan masyarakat saat ini bukan hanya sosok pemimpin yang berkarakter, tetapi juga dukungan dari sistem pemerintahan yang tepat. Jika dikembalikan pada dilematik pemilihan umum 2019, maka seharusnya masyarakat lebih kritis terhadap sistem pemerintahan yang bertahta di negeri ini dan prihatin akan sistem yang memungkinkan segala jenis kecurangan bermain di dalamnya.

Lebihdari itu, jika memang masyarakat menginginkan kesejahteraan dan solusi tuntas atas seluruh problematika yang terjadi, maka sudah sepatutnya bersama-sama berjuang untuk menerapkan kembali sistem kepemimpinan syar’i yang akan menerapkan seluruh syariah islam dalam setiap lini kehidupan.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat  Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raf: 96). Wallahu’alam bishawab []


Editor : Armin | Publizher : Iksan


Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co