Politik Uang VS Politik Islam

oleh

Oleh: Nurcahya Ummu bilal

(Ibu Rumah Tangga)

Politik uang (money politic) kerap kita temui dalam percaturan politik praktis di zaman ini. Sehingga tidak mengherankan
menjadi sesuatu hal yang patut dilakukan dalam sistem demokrasi saat ini. Politik uang atau money politik yang salah satunya
kerap kita temukan adalah uang serangan fajar, dari beberapa caleg dan capres. Bahkan bisa beberapa kali datang mengetuk
setiap pintu rumah masyarakat. Belum lagi politik curang yang mulai terhembus ditengah-tengah masyarakat, dan sangat viral
dibincangkan di sosial media, karena banyaknya kasus kecurangan yang terungkap. Penggelembungan suarapun kerap terjadi.

Berbagai cara dilakukan untuk memperoleh kekuasaan. Bahkan terdapat oknum caleg yang melakukan pembakaran kotak
suara karena suaranya yang hanya sedikit. Sehingga masyarakat harus turun langsung kelapangan untuk mengawal, baik itu
mengawal kantor KPU sampai menjaga kotak suara.

Politik uang bahkan telah marak di semua wilayah. Baik dari ibukota sampai daerah. Sebagaimana yang telah dilansir news
kompas.com, 15/04/2019, Aiman Witjaksono mengatakan “Tak perlu pergi jauh bagi saya untuk menemukan praktik politik
uang seperti ini. Saya hanya mengembara dalam radius sekitar 5 kilometer dari pusat Ibukota Jakarta dan menemukan praktik
politik uang secara terang benderang”. Hal selaras juga dikabarkan oleh Detiknews terkait politik uang. "Ada 19 kasus.

Kemarin 13, tambahan datanya hari ini ada 6 lagi," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes
Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Pusat, Rabu (17/4/2019). Bahkan salah satu kasus juga terjadi di Buton
Selatan Sulawesi tenggara. Petugas menangkap dua pria di depan Mapolsek Batauga, pada 16 April 2019, pukul 23.30 Wita.
"Bukti kartu nama caleg DPR RI Dapil Sultra inisial UA, kartu nama caleg DPRD Buton, Wakatobi, Buton Tengah, Buton
Selatan, Baubau inisial W, uang Rp 3 juta pecahan Rp 20 ribu dan Rp 10 ribu, uang Rp 4,5 juta pecahan Rp 10 ribu dan Rp 5
ribu," terang Dedi.

Inilah secuil fakta yang tampak dipermukaan dan di beritakan oleh media, yang tentu saja masih banyak kasus serupa yang
tidak terlaporkan.

Hal ini sangat disayangkan terjadi ditengah-tengah masyarakat. Demi mendapatkan suara, para caleg menghalalkan berbagai
macam cara untuk memperoleh suara. Walaupun hal itu adalah perbuatan yang tidak etis dan memalukan, bahkan diharamkan
oleh Allah SWT.

Tentu dalam hal ini yang salah adalah caleg yang menyuap karena sistem demokrasi yang sarat kecurangan,
dan juga masyarakat sebagai penerima suap yang terkesan mendiamkan dan menikmati serta memanfaatkannya, karena
kondisi perekonomiannya yang terpuruk. Sungguh mereka telah menciptakan monster-monster politik yang tidak pernah ada
dalam Islam. Allah SWT melaknat siapa saja yang melakukan hal ini. Rasulullah SAW bersabda “ Laknat Allah kepada
pemberi dan penerima suap ” (HR. Ahmad)

Semua ini terjadi akibat masyarakat khususnya umat Islam telah jauh meninggalkan, melupakan bahkan hanya mengetahui
politik uang saja. Umat hari ini seolah menganggap politik itu kotor karena sarat akan kecurangan dan kepentingan individu
seperti fakta yang terjadi saat ini. Padahal, Rasulullah Saw telah mencontohkan politik taqwa dalam sistem Islam. Sehingga,
jika masyarakat secara umum menyadari adanya politik Islam maka tidak akan ada politik-politik kotor sebagaimana yang ada
saat ini. Sebab ketakwaan akan menghilangkan perbuatan-perbuatan curang para caleg dan mencegah masyarakat menerima
suap, sehingga mereka jauh dari perkara-perkara kemaksiatan dalam berpolitik.

Maka tidak seharusnya para caleg maupun capres meraih kekuasaan dengan cara-cara yang bathil, melanggar hukum Allah.
Sebab, jika mereka melakukan semua itu, maka kita bisa menerka bagaimana mereka jika nanti terpilih menjadi pemimpin
dalam masyarakat. Karena dalam meraih kekusaan saja mereka bisa melakukan kecurangan untuk memuluskan
kepentingannya. Maka sudah dapat dipastikan pada saat mereka menjabat mereka tak akan segan-segan berbuat curang hingga
dzolim kepada rakyatnya.

Begitupula masyarakat yang juga harus menghindari politik uang ini. Sebab, jika masyarakat saat ini memilih karena
menerima suap, maka sudah bisa dipastikan bahwa jika yang mereka pilih terpilih menjadi pemimpin, maka tentu pemimpin

tersebut akan berpihak kepada pemilik modal, yang telah memberikan modal kepada caleg maupun capres dalam hal ini para
kapitalis. Sebab tidak ada makan siang gratis. Pemimpin-pemimpim semacam ini kelak saat menjabat, sehingga tidak
mengherankan jika meraka lebih memperhatikan kepentingan para kapitalis daripada kepentingan rakyatnya.

Maka sudah seharusnya kita mengakhiri politik uang ini dengan merubahnya menjadi politik Islam. Politik yang diterapkan
oleh negara, parpol sampai ke masyarakat umum secara sistematis. Sebab hakikatnya politik Islam adalah politik takwa, yang
jabatan dan kekuasaannya adalah amanah dari Allah, sehingga harus diatur dengan hukum Allah. Baik dalam proses pemilihan
maupun ketika menjabat. Karena pada akhirnya kelak kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Yang
semua itu hanya akan ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Jika hal ini dapat diterapkan maka akan kita rasakan bagaimana nikmatnya berpolitik yang dapat membuahkan pahala dan
ridho Allah SWT, sehingga kedamaian dapat dirasakan diseluruh kalangan dan lapisan masyarakat. Wallahu’alam Bissawab.


Editor : Randa | Publizher : Iksan


 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart