SDA Sultra Dalam Cengkraman Korporasi?

oleh
Ketgam : Gambar ilustrasi
Ketgam : Gambar ilustrasi

Oleh : Rosmiati

Pemerintah Sulawesi Tenggara (Sultra) sedang mengevaluasi 397 Izin Usaha Pertambangan (IUP). Hasil dari evaluasi ini hanya ada 287 yang aktif mengurus kesempurnaan izin. (Rakyat Sultra,com 22/04/2019).

Sebelumnya pada Februari 2019, Kepala Bidang Mineral dan Batubara, Yusmin, mengutarakan beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa penambang. Diantaranya, ada 12 IUP yang tidak aktif atau dibiarkan tanpa dikelola. Selain itu, perusahaan ini juga tidak pernah mengajukan rencana kegiatan anggaran biaya (RKAB). Lalu tidak memiliki kepala teknik tambang (KTT), tidak membayar jaminan reklamasi, dan masih memiliki utang kepada Negara berupa iuran tetap dan royalti (Inilahsultra.com 12/02/2019).

Disamping itu, terkait pendapatan provinsi dari hasil tambang ini masih terbilang kurang dan tidak sesuai dengan jumlah yang dihasilkan. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang diterima oleh pemerintahan provinsi Sulawesi Tenggara kian rendah. Hal ini diakui beliau akibat  dari manipulasi  dan kongkalikong dalam pemuatan ore juga karena tak adanya transparansi perusahaan dalam membuat laporan atau mengolah data-data yang bersangkutan.

Beliau juga menambahkan bahwa terdapat pula permainan Syahbandar dengan pengusaha tambang. Syahbandar akhirnya berani mengeluarkan surat izin berlayar (SIB) kepada tongkang milik perusahaan, sementara pengangkutan ore belum mendapatkan surat verifikasi (SKV) dari Dinas ESDM Sulawesi tenggara. Padahal verifikasi inilah nantinya yang akan menghasilkan berapa royalty yang harus diberikan kepada Negara. Ketika verifikasi ini lost maka sudah barang tentu tak ada pemasukan royalti kepada negara.

Ironinya lagi tambang-tambang di sultra dikuasi hampir oleh segelintir pengusaha. Sebut saja 12 IUP diatas itu dimiliki oleh satu orang pengusaha yang mana perusahaannya tersebar di beberapa wilayah di Sultra.

Sulawesi Tenggara memang tak bisa dinafikan keberlimpahan hasil bawah tanahnya. Namun sayangnya, hasil ini tak bisa dinikmati langsung oleh segenap masyarakat Sultra. Yang ada malah rakyat menerima abu dan limbah hasil pengolahan tambang yang justru menjadi penyebab hilangnya mata pencaharian sebagian masyarakat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah kekayaan alam harusnya berkorelasi dengan tingkat kesejataraan masyarakat?.

 Adanya privatisasi kekayaan alam

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini SDA kita banyak diolah oleh korporasi swasta maupun asing yang mana negara berlepas tangan darinya. Sebagaimana yang terjadi di Sultra, diakui oleh Kepala Dinas ESDM, bahwa sebagian besar izin tambang di Sultra dikuasai oleh segelintir pengusaha. Bahkan ada 12 IUP dikuasai oleh satu pengusaha (Inilahsultra.com 12/02/2019). Dalam skala nasional pun demikian. Sebagaimana yang dikisahkan dalam sebuah film dokumenter baru-baru ini.

Tak disadari bahwa aktivitas inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa rakyat tak bisa merasakan dampak positif dari  kekayaan alam negerinya sendiri. Hal ini pun menjadi lumrah dan biasa dalam sistem kapitalisme saat ini. Aturan main didalamnya menghendaki bahwa hasil alam itu boleh dikuasai oleh segelintir orang. Ketika ia mempunyai modal besar maka silahkan dia mengolah SDA sesukanya.

Dalam sistem ini pun negara dapat dikatakan tak berdaya menghadapi para pemilik modal. Sebagaimana apa yang diungkapkan oleh Yusmin diatas. Para pengusaha masih saja bertindak nakal dan curang dalam mengolah hasil alam bangsanya sendiri.  Padahal hakikatnya merekalah yang seharusnya membangun bangsa ini demi kemaslahatan bersama. Namun, akibat terdidik oleh sistem sekuler kapitalis maka harapan ini jauh dari kenyataan hari ini. Selama ini kita selalu beranggapan bahwa kecurangan itu datang dari pihak asing. Ternyata anak bangsa sendiri pun mampu untuk berbuat curang. Semua akibat dari sistem kapitalis. Dimana setiap orang berambisi besar untuk mengejar keuntungan materi semata tanpa peduli apakah jalan yang ditempuh tersebut bertentangan dengan aturan yang berlaku atau tidak.

Maka selama sistem pengolahan hasil alam masih pro terhadap kepentingan segelintir orang maka mustahil rakyat biasa menikmati hasilnya. Padahal sejatinya, air, tanah, beserta komponen yang terkandung di dalamnya itu adalah juga milik rakyat. Maknanya rakyat juga mempunyai hak untuk menikmatinya  Sebagaimana yang sudah Rasulullah Saw ingatkan dalam sabdanya, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang gembalaan, dan api. Harga ketiganya adalah haram”. (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadis diatas dikatakan bahwa harga dari ketiganya haram. Maka dalam hal ini rakyat tidak boleh dibebani ataupun dirugikan dari adanya anugerah Tuhan ini. Sehingga disini, Negara hadir sebagai pengolah dan membagikan hasil yang diolahnya kepada masyarakat seluruhnya tanpa pandang bulu. Pendistribsian hasil alam ini tidak harus dalam bentuk materi. Namun bisa dengan mensubsidi biaya pendidikan, kesehatan, sosial dan kebutuhan hidup lainnya sehingga rakyat dapat merasakan dampak dari pemanfaatan sumber daya alam ini. Alhasil tak ada lagi  kemiskinan dan kemelaratan akibat ketidakmampuan rakyat menjama infrastruktur yang ada dengan alasan tak mempunyai cukup uang.

Hakikatnya penguasa itu bertindak sebagai pengatur dan pengayom rakyatnya. Memudahkan urusan rakyat itulah kewajibannya yang kelak akan dimintai persaksiannya di hadapan Allah Swt. Jika selama kepemimpinanya ada rakyat yang terzalimi maka kelak Allah Swt pun akan memberatkan urusannya di akhirat. Sebagaimana hadis Nabi Saw, “ Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur (wali) dari urusan umatku, kemudian ia memberatkan mereka, maka beratkanlah ia. Siapa saja yang menjadi pengatur (wali) dari urusan umatku, kemudian ia lemah-lembut kepada mereka , maka lemah lembutlah Engkau keapadanya”. (HR. Muslim)

Begitu pula dengan jalannya pengolahan hasil alam harus benar-benar diperhatikan jangan sampai hanya menguntungkan segelintir orang namun menyengsarakan banyak pihak. Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat yang terkena dampak negatif  dari aktivitas tambang.

Wallahu’alam


Editor :  Randa | Publizher : Iksan


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart