Sepotong Roti Kenangan Di Jalur Gaza

  •  
  •  
  •  

Mahardika Irwan

(Mahasiswi Ilmu dan Teknologi Pangan UHO)


 

Sepotong roti yang kau berikan kepada saudara muslim  di Gaza tak akan mampu menyelesaikan penderitaan mereka. Mereka butuh seorang Khalifah sebagai junnah (perisai) yang akan menangkal segala marabahaya. Sosok yang hanya ada tatkala Daulah (Negara) ada.

Bukannya mereka tak butuh roti itu. Tapi yang lebih urgen adalah perlindungan dan pembelaan dari sebuah Negara Islam yang tidak terikat oleh ikatan nasionalisme. Ikatan yang dapat membelenggu siapa saja yang menganutnya.

Pertanyaannya, Apakah kita sudah mengambil tempat menjadi salah satu orang yang membantu mewujudkan keinginan mereka? Hanya aku, kamu dan Sang Pencipta yang tahu

Kembali kaum muslim Gaza dibombardir oleh Israel. Tak henti-hentinya serangan udara nyaris menguasai banyak titik di Gaza. Kumparan.com– Diberitakan AFP, hingga minggu (5/5) malam, roket Israel terus menghantam kawasan Gaza. Akibatnya sebanyak 23 warga Gaza meninggal dunia. Termasuk diantaranya seorang perempuan yang sedang mengandung dan bayi. Saat ini militer Israel mengakui sudah menembak ke 320 titik di Gaza.

Bulan ramadhan merupakan momentum peraihan pahala dan ampunan dari Allah Swt. bagi umat muslim dunia. Berjuta keberkahan melimpah, semua orang berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dan tentulah muslim akan bersambut suka cita.

Akan tetapi, lain cerita dengan saudara muslim di Gaza. Awal ramadhan mereka disuguhui ratusan tembakan dari Israel. Sungguh sangat jauh berbeda dengan apa yang di rasakan muslim lainnya dibelahan bumi lain. Umat muslim di Gaza sangat mengharapkan adanya bantuan perlindungan dan pembelaan dari saudara muslim lainnya.

Gayung tak bersambut, pemerintah yang notabene muslim pun justru bungkam sembari menutup mata dan telinga seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Demikian hal ini terjadi disebabkan oleh pengaruh  keterikatan kaum muslim terhadap ide nasionalisme yang dirancang sedemikian rupa untuk mengelabui dan mengaborsi pemikiran Islam kaum muslimin. Ikatan ini orientasinya adalah mengikat rasa satu bangsa, setanah air, ras, suku yang akhirnya menciptakan sekat-sekat antara satu dengan yang lainnya. Sayangnya, ikatan ini sifatnya temporal, sebab dipicu oleh keadaan tertentu. Jika dalam suatu wilayah yang mengemban ikatan ini mendapatkan ancaman, maka ikatan inipun segera muncul. Namun, tatkala ancaman ini menghilang, maka hilang pula ikatan diantara mereka.

Ikatan nasionalisme atau ikatan kebangsaan tersebut lahir dari konsep Nation-state. Nation-state merupakan suatu konsep yang berasal dari Eropa. Jika suatu Negara mengemban ikatan ini, maka sudah sewajarnya jika negeri satu dan yang lainnya hanya bisa saling memandang, tanpa melakukan apapun untuk menghentikan dominasi jajahan fisik seperti yang terjadi di Gaza. Konsep ini pula yang menyebabkan menciutkan nyali dan yang terjadi adalah perpecahan umat muslim. Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)” (HR. Muslim).

 

//Ramadhan Totalitas Keimanan//

Bulan ramadhan semestinya menjadi bulan yang penuh berkah bagi seluruh umat muslim diseluruh dunia. Dengan kedatangan bulan ini, tentulah bisa menambah keimanan setiap muslim, menguatkan empati serta menghilangkan rasa acuh tak acuh terhadap suadara muslim lainnya. Hal yang paling penting adalah lapangnya penerimaan terhadap syariat islam secara menyeluruh untuk diambil, bukan setengah ataupun memisahkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nasionalisme bukan jalan untuk menguatkan kaum muslim, namun sejatinya corong untuk saling membelakangi. Satu-satunya jalan untuk menguatkan kaum muslim adalah dengan mencampakkan ide ini dan berpaling pada ikatan akidah islamiyah.

Ikatan islamiyah atau persatuan kaum muslim yang bersepakat dalam menghadirkan perisai berupa negara yang menerapkan Islam kaffah yang akan mengakhiri penderitaan dan mematikan kedzoliman yang dilakukan penjajah. Tahun ini semoga menjadi bulan Ramadhan terakhir.

Karena dengan mewujudkannya akan ada yang menjaga dan melindungi jiwa kaum muslim. Tidak akan ada lagi darah umat yang ditumpahkan oleh para kaum pembenci Islam.  Maka, pilihan terakhir ada ditangan kaum Muslim, apakah akan ikut andil mewujudkannya atau tidak.  Wallahua’lam bi ash-shawab. (***)


Penulis : Mahardika Irwan | Editor : Randa | Publizer : Iksan


 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co