Hari Lahir Pancasila Momentum Islah dalam Merawat Persatuan

Salnawati
Salnawati
  •  
  •  
  •  

Penulis : Salnawati S.Pd


 

Sebagai negara demokrasi, Indonesia pun tak luput dari tensi perpolitikan. Kompetensi politik baik dalam kancah nasional sampai daerah pun pasti mewarnai kehidupan berdemokrasi. Maka jangan heran jika pesta demokrasi lima tahunan atau pemilu seringkali menggiring kita pada perbedaan pendapat dan pilihan.

Pemilu 2019 yang digelar 17 April lalu merupakan sejarah besar dalam perjalanan demokrasi di Indonesia. Sejak mengenal Pemilu di tahun 1955 baru kali ini pemilu dilakukan serentak untuk memilih Calon Legislatif dan juga Presiden dan Wakil Presiden.

Tentu ini merupakan keputusan yang telah melewati banyak pertimbangan. Konsekuensi yang akan dihadapi dengan menggelar pemilu serentak dari hal tekhnis sampai pada kesiapan mental atau psikologis masyarakat juga harus menjadi diskusi dalam memutuskan hal tersebut.

Dua gelaran pemilu secara berturut-turut dari tahun 2014 lalu memang telah mengantarkan kita pada masa dimana kita semestinya siap dan lebih dewasa dalam berdemokrasi. Meskipun ada dua jenis pemilihan dari lima jenjang yang dilaksanakan, tetapi pesona pilpres lebih menyita perhatian masyarakat luas.

Apa lagi kontestan pada kompetisi tersebut juga merupakan rival dalam dua pemilu berturut-turut. Kelompok yang terbangun dalam memberikan dukungan ini adalah juga didominasi oleh kelompok dan individu-individu yang juga menjadi bagian dari pemilu sebelumnya. Sehingga dalam mengemas issue untuk mendapatkan dukungan kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan pada pemilu sebelumnya.

Perbedaan pendapat dalam kontestasi demokrasi adalah hal yang lazim. Ide kreatif  dalam berkampanye menggalang dukungan juga merupakan hal yang lumrah. Fanatisme pendukung pun dalam mengkultuskan kandidatnya adalah hal yang biasa kita dapati dalam setiap gelaran pemilihan (baik pemilihan legislatif, pilkada ataupun pilpres). Tetapi apakah tensi politik ini harus terus meninggi padahal kontestasi telah selesai?

Saatnya untuk Islah

Hari ini 1 Juni 2019 kita memperingati hari kelahiran Pancasila. Semestinya kelahiran pancasila ini mampu dimaknai oleh semua anak bangsa untuk kembali bersatu. Menghilangkan perbedaan antara “si cebong dan si kampret”. Antara pendukung 01 dan pendukung 02. Sebab pesta demokrasi sebagai ranah kompetisi yang sah menurut konstitusi telah selesai. Karena itu yang ada bukan lagi 01 atau 02, tetapi yang ada adalah 03 atau sila ketiga yaitu “Persatuan Indonesia”.

Hampir sebagian besar mata dunia tertuju pada kita setahun terakhir. Mulai dari masa suksesi sampai gelaran pemilu hingga pada masa pasca pemilu. Dukungan untuk masing-masing kandidat terus digelorakan hingga seperti tidak ada lagi aktifitas lain selain pemilu. Insiden kericuhan yang telah terjadi beberapa hari yang lalu harusnya menjadi pembelajaran terbesar bagi kita semua. Kerugian materi hingga nyawa adalah kerugian anak bangsa. Pendiri bangsa ini tidak mengorbankan nyawa mereka dalam merebut dan mempertahankan negara ini untuk kita tercerai berai.

Kita harus menghadirkan pancasila ditengah-tengah kehidupan untuk menghapus semua perbedaan pilihan diantara kita. Maka islah untuk mendamaikan, memperbaiki, menghilangkan perbedaan dalam mengantarkan kembali keharmonisan antar sesama anak bangsa harus menjadi tujuan kita bersama. Kita tidak ingin terus menerus “gontok-gontokkan” antara pendukung yang satu dengan pedukung lainnya. Yang akibatnya bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Merawat Persatuan NKRI

Bangsa kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang memiliki berbagai macam suku, budaya, ras, kesenian, bahasa, agama, dan adat istiadat yang menjadi aset kebudayaan nasional. Berbagai keberagaman unsur budaya tersebut tercantum dalam semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. Tulisan semboyan ini terpampang jelas berada dalam balutan pita yang dicengkeram kaki burung Garuda di bawah lambang negara kita burung Garuda Pancasila.

Bhineka Tunggal Ika juga menggambarkan adanya kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Sejatinya Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia yang hanya dimiliki oleh bangsa Indonesia saja. Sebuah semboyan yang meningkatkan kecintaan masyarakat kepada bangsa Indonesia karena dengan semboyan itulah yang membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang sangat disegani oleh negara lain.

Sebagai warga Negara Indonesia kita harus jadikan nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Setiap warga negara harus berusaha mengisinya dan memperkaya makna yang dikandungnya, saling toleransi antara satu dengan yang lain karena hal ini yang akan menjadikan kekuatan dalam persatuan Indonesia.

Sehingga pada akhirnya kita semua mesti menyadari bahwa sebagai negara demokrasi kalah menang dalam kompetisi adalah hal yang wajar. Semua harus mengedepankan jiwa pancasila. Yang menang merangkul yang kalah, dan yang kalah legowo untuk menerima.

Seperti yang telah tertulis di depan tadi bahwa pemilu ini adalah sejarah terbesar dalam perjalanan bangsa ini. Maka semestinya kita mampu menuliskan sejarah bahwa Indonesia telah dewasa dalam berdemokrasi dan akan menjadi negara demokrasi terbaik di dunia. (***)


Penulis : Salnawati | Editor : Randa | Publizer : Iksan


 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co