Hukum Mencekik Yang Lemah

  •  
  •  
  •  

Oleh: Mustika Lestari

(Mahasiswi Pendidikan Kimia UHO)

Nabi Muhammad SAW menyeru umat Islam agar berlaku adil. Beliau bersabda: ”Apabila kalian memutuskan hukum, lakukanlah dengan adil, dan apabila kalian membunuh lakukanlah dengan ihsan, karena Allah SWT itu Maha Ihsan dan menyukai orang-orang yang berbuat ihsan,” (HR. Ath-Thabrani).

Menegakkan keadilan berarti menjauhi kezaliman dengan sejauh-jauhnya. Kezaliman itu sendiri merupakan rangkaian kegelapan yang akan menggelapkan kehidupan dunia dan akhirat. Karenanya, berhentilah dari segala kezaliman.

Penolakan Mahkamah Agung (MA) atas Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Baiq Nuril Maknun, 37, mantan guru perempuan asal Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia menjadi sorotan media-media internasional. Penolakan PK itu membuat Baiq tetap menjalani hukuman penjara.

Baiq adalah terpidana kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ditolaknya PK oleh MA, Membuat mantan guru honorer di SMAN 7 Mataram itu tetap menjalani hukuman enam bulan penjara dan denda Rp.500 juta subsider tiga bulan kurungan sesuai putusan Kasasi MA.

Kasusnya menjadi ironi hukum di Indonesia. Kasus ini bermula ketika dia merekam percakapan telepon dengan kepala sekolah yang jadi atasannya saat dia menjadi guru. Rekaman itu untuk membuktikan bahwa bosnya melecehkannya secara seksual. Namun, Baiq justru dilaporkan ke polisi pada 2015 atas tuduhan pelanggaran UU ITE.

Pada November lalu, MA menyatakan bahwa Baiq bersalah karena melanggar kesusilaan berdasarkan hukum informasi dan transaksi elektronik. Pada hari Kamis, PK yang diajukannya ditolak dengan anggapan dia gagal menghadirkan bukti baru. (www.sindonews.com, 6/7/2019)

Keadilan hukum, Mimpi Kosong

 

John Rawls seorang filsuf politik terkemuka dari Amerika Serikat di abad ke-20 mendefinisikan keadilan sebagai suatu kelebihan pertama dari institusi sosial sebagaimana kebenaran pada sistem pemikiran.

Para ahli lainnya berpendapat bahwa keadilan merupakan suatu kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai suatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Tetapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum tercapai: “Kita tidak hidup di dunia yang adil.” Keadilan pada intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.

Hukum di Indonesia sangatlah penting karena merupakan negara hukum. Dalam urusan hukum, Indonesia telah mencakupi lembaga peradilan hukum seperti Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MK), Pengadilan Tinggi dan lain sebagainya. Seperti yang tercantum pada pancasila, yang menjadi dasar negara Indonesia saat ini, sila ke-5 yang berbunyi: “ Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Hal ini sangat jelas bahwa seluruh rakyat Indonesia berhak mendapat keadilan tanpa terkecuali.

Hukum memang sudah ditegakkan. Tapi adil tidaknya masih dipertanyakan. Praktik penegakkan hukum di tanah air membuktikan tidak dipandang mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum. Mereka yang mempunyai kemampuan finansial lebih memliki power untuk mengkondisikan hukum. Saat ini, Indonesia banyak sekali ketidakadilan vonis hukuman. Beberapa kasus di bawah ini akan membuktikan ketidakadilan tersebut.

Kabar terbaru, upaya hukum berupa Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Baiq Nuril ditolak oleh Mahkamah Agung (MA). Kasus yang bermula pada pertengahan tahun 2012, saat itu Baiq berstatus sebagai guru honorer di SMAN 7 Mataram ditelepon oleh kepala sekolahnya, Muslim. Dalam percakapan itu, Muslim bercerita tentang pengalaman seksualnya bersama wanita lain, bukan istrinya. Percakapan itu juga mengarah pada pelecehan seksual pada Baiq. Baiq merekam pembicaraan tersebut dan diberikan pada rekannya hingga beredar luas. Singkat cerita, Baiq dilaporkan kepada polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik dan melanggar UU ITE. (www.Tribun-Timur.com, 8/7/2019)

Hukum di Indonesia diberlakukan tidak tepat sasaran terkesan “tajam ke bawah, tumpul ke atas” dan hanya mencederai masyarakat golongan bawah saja. Banyak kasus yang terjadi di Indonesia, mulai dari yang bersifat sepele hingga taraf tinggi dan perlu diproses secara ketat. Khususnya untuk yang bersifat sepele, tidak sedikit para pelakunya adalah mereka yang buta hukum hingga pada akhirnya harus menjadi bulan-bulanan di pengadilan karena ketidaktahuannya, walaupun aksi kejahatannya dapat dikatakan sangat ringan.

 

Namun, tidak sedikit penjahat kelas kakap dapat berlenggang tanpa beban atau sudah di penjara, namun masih bebas melakukan aktivitasnya. Betapa mirisnya hukum yang berlaku di Indonesia. Aturan yang dibuat  oleh manusia, hanya sesuai dengan kebutuhan penguasa. Keadilan hanya mimpi kosong bagi masyarakat lemah yang seharusnya diprioritaskan keadilannya.

 

Bukankah seharusnya hukum dibuat untuk kebaikan seluruh umat manusia? Dan Syariat Islam hadir dengan membawa kebaikan itu. Agama Islam diturunkan Allah SWT untuk mewujudkan kemaslahatan hidup manusia secara individual dan masyarakat. Begitupula dengan hukum-hukumnya. Hukum Islam tidak membedakan keadaan sosial masyarakatnya, kedudukannya. Perkara dan persengketaan di tengah masyarakat dihukumi sesuai Syariat Islam.

 

Menggambarkan bentuk keadilan berdasarkan Syariat Islam pada diri hakim (qodhi) yang mengadili perkara antara Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. dan seorang Nasrani (atau seorang Yahudi) dalam persengketaan baju besi. Diceritakan Imam Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. suatu ketika Ali menemukan baju besinya ada pada seorang Nasrani (dalam riwayat Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Awliyah’ adalah seorang Yahudi).

Keduanya mengajukan perkaranya kepada qodhi Suraih. Qodhi Suraih menanyakan kepada Ali apakah ada bukti? Ali menjawab bahwa ia tidak punya bukti. Ali mengajukan dua orang saksi, Qanbar, mawla-nya dan Hasan bin Ali, Putranya. Qodhi menerima kesaksian mawla itu, tetapi menolak kesaksian al-Hasan. Qodhi Suraih memutuskan baju besi itu untuk orang Nasrani itu.

 

Menerima putusan demikian, orang itu berkomentar bahwa sungguh itu hukum para nabi. Amirul Mukminin diperkara dengan dirinya dihadapan qodhi-nya. Lalu, qodhi-nya memutuskan vonis yang mengalahkan Amirul Mukminin dan Amirul Mukminin ridha. Menyaksikan demikian, orang itu masuk Islam.

 

Sungguh, hukum Islam membuat keadilan bukan untuk kemaslahatan yang semu, atas dasar hawa nafsu, tetapi kemaslahatan yang betul-betul bisa dirasakan oleh semua pihak. Kini, masih mau kah masyarakat Indonesia tunduk dan patuh pada hukum buatan manusia yang datang untuk menzalimi rakyatnya?

 

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Akan ada setelahku nanti para pemimpin yang berdusta. Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak bisa mendatangi telagaku (di hari kiamat). Dan Barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (penguasa dusta) itu, lalu tidak membenarkan kebohongan mereka maka dia bagian dari golonganku dan aku dari golongannya, dan dia akan mendatangi telagaku (di hari kiamat).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

 

Demikianlah ancaman yang disebutkan Nabi SAW terhadap pemimpin zalim serta bagaimana seharusnya kita menyikapi kezaliman tersebut.

 

Hukum Islam, Sebaik-baik Hukum

Di antara bukti indahnya ajaran Islam adalah diperintahkannya berbuat adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada masing-masing orang yang memiliki hak. Pada dasarnya, manusia sama dihadapan Allah SWT, tidak ada perbedaan antara anak raja dengan anak rakyat, semua sama dalam perlakuan hukum. Melaksanakan keadilan hukum dipandang oleh Islam sebagai melaksanakan amanat.

 

Seperti firman Allah SWT: ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (Q.S. An-Nisa [4]: 58).

 

Di samping berbuat keadilan, Allah SWT juga memerintahkan untuk berbuat ihsan, seperti membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang lebih baik. Tingkat keutamaan tertinggi adalah berbuat kebaikan terhadap orang yang bersalah.  Jangan sampai kebencian terhadap seseorang, membuat kita berbuat tidak adil terhadap mereka. Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum, mendorong kita untuk berlaku tidak adil.

 

Betapa agung dan luhurnya agama Islam. Keadilan dalam bersikap menjadi suatu tuntutan wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah. Kebenaran harus tetap dipegang, sedangkan kesalahan harus senantiasa diluruskan. Nasehat tetap diutamakan, tetapi amar ma’ruf nahi mungkar tidak boleh dilupakan. Keadilan Islam menciptakan  kedamaian dan kebahagiaan.

Penegakkan keadilan adalah keharusan yang harus dilaksanakan, bukan berbuat seenaknya. Dimana agama bisa berdiri tanpa keadilan, keadilan lah yang menjadikan bumi dan langit ini tegak. Wallahua’lam bi shawab.


Editor : Rj | Publizher : Iksan


 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co