Apa Kabar, Aktivis Dakwah Kampus?

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Rana Nabilah

(Mahasiswi Universitas Negeri Malang)

Akhir-akhir ini, tagar #savehikmahsanggala menjadi trending di media sosial. Hikmah adalah seorang aktivis dakwah kampus IAIN Kendari yang diberhentikan secara tidak hormat alias drop out (DO) atas keputusan rektor. IAIN Kendari sendiri merupakan kampus yang sebelumnya telah melarang penggunaan cadar dilingkungan kampusnya.

Dikutip dari Swamediumdotcom, diantara yang menjadi dasar pemberhentian tersebut yaitu “Berafiliasi dengan aliran sesat dan faham radikalisme yang bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai-nilai kebangsaan dan terbukti sebagai anggota, pengurus dan/atau kader organisasi terlarang oleh Pemerintah”. Pertanyaannya, apa indikator dari aliran sesat dan radikal tersebut? Pada organisasi apakah frase “organisasi terlarang” tersebut merujuk? Seorang rektor tidak seharusnya menjadi diktator, apalagi dengan pertimbangan yang berat sebelah. Sebuah kampus tidak seharusnya menjadi sekadar kandang para pencari ilmu. Kampus adalah tempat berkembang, tempat dimana setiap suara berhak digaungkan demi mencari kebenaran.

Sayangnya, idealisme ini tidak lagi berlaku. Hikmah yang merupakan mahasiswa berprestasi dan pemegang sertifikat mahasiswa dengan IP terbaik difakultasnya pun sukses dicabut hak pendidikannya. Dikutip dari komnasham.go.id, “Hikmah Sanggala pada 22 agustus 2019 telah di DO melaui Surat Keputusan (SK) rektorat. Namun, ia baru diberikan suratnya secara pribadi, selang 5 hari kemudian, yaitu 27 Agustus 2019. Hal ini merupakan suatu tindak kezhaliman karena tidak ada pemberitahuan atau pemanggilan ke rektorat terlebih dahulu. Padahal saat itu, Hikma Sanggala sedang menyusun bab 1 mau sidang proposal”.

Perlu digaris bawahi bahwa Hikmah bukan korban pertama dan satu-satunya. Hikmah hanyalah satu dari sekian banyak korban kebijakan kampus yang paradigmanya menopang sekulerisme dan liberalisme. Paradigma kampus bercorak sekulerisme terlihat jelas dari kebijakan yang dikeluarkan oleh rektor IAIN Kendari ini, kampus yang notabene merupakan kampus Islam tapi malah memberikan label negatif terhadap aktivis dakwah yang menyuarakan Islam. Kedzoliman ini menjadi semakin miris karena disaat bersamaan terjadi kasus disertasi kontroversial berjudul “Konsep Milk Al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital” milik Abdul Aziz, seorang Mahasiswa S3 UIN Sunan Kalijaga sekaligus dosen IAIN Surakarta. Penyesatan aqidah ini ditangani kampus dengan pensolusian berupa perubahan judul dan perevisian isi disertasi.

Lalu, mengapa pihak kampus tidak melakukan hal yang serupa terhadap Hikmah Sanggala? Pembelajar yang dianggap salah seharusnya dibina dan bukannya dicabut hak pendidikannya.  Bias kognitif para petinggi kampus menegaskan bahwa kampus telah menjadi begitu tidak toleran pada dakwah Islam, akan tetapi sangat terbuka dengan pemikiran liberal yang mengikis aqidah umat.

Padahal, perjuangan menegakkan dien Allah swt yang meliputi syariah dan  bukan sesuatu yang harus ditakuti karena sejatinya aturan dari pencipta tidak mungkin menyakiti, justru jika diterapkan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

”Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad ﷺ) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

Sebaliknya, paham sekuler dan liberal yang kini merajarela bertentangan dengan Pancasila yang begitu dipuja oleh sebagian orang. Lalu mengapa institusi pendidikan berlabel “maha” seakan menutup mata dan justru melanggengkannya? Sebenarnya, ada apa dengan kampus?

Padahal, kampus seharusnya menjadi tempat para intelektual berhimpun untuk mencari ilmu guna menyelesaikan persoalan ummat. Apalagi, Islam dengan seperangkat aturan yang datang dari Tuhan pencipta alam hadir sebagai alternatif solusi. Maka, tidak patutkah di kampus terdapat orang-orang yang ingin memberikan penyelesaian persoalan hari ini dengan membawa ajaran Islam selaku rahmat seluruh alam? Disaat dunia termasuk bangsa kita membutuhkan penyelesaian berbagai masalah kehidupan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).


Editor : Rj | Publizher : Iksan