Hujan, Dari Berkah Menjadi Bencana

oleh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Dewi Puspita, S. Si

Saat musim penghujan tiba curah hujan mengalami peningkatan. Hujan merupakan anugerah dari Tuhan kepada makhluknya untuk terus bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya. Lalu bagaimana jika  berkah ini menjadi bencana? Banjir bukan berarti debit air yang terus bertambah tak mampu ditampung oleh bumi. Melainkan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh eksploitasi. Sebagaimana yang bencana banjir yang sedang melanda wilayah Sulawesi.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), daerah-daerah yang terendam banjir yakni Konawe dan Konawe Utara di Sulawesi Tenggara, Morowali di Sulawesi Tengah dan Sidrap di Sulawesi Selatan. “Sejumlah kabupaten terdampak banjir di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Bencana di beberapa provinsi tersebut menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi dan kerusakan sektor pemukiman, pertanian, perikanan serta fasilitas umum,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/6/2019) (Detiknews, 10/06/2019).

Penyebab Masalah Banjir

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Tenggara Saharudin berkata, sepanjang 2009 sampai 2012 saja sudah terdapat 71 Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Kabupaten Konawe Utara, dan 68 di antaranya merupakan izin pertambangan nikel, sisanya izin pertambangan batu kapur, emas, serta kromit (tirto.id, 13/06/2019).

Wakil Gubernur Sultra, Lukman Abunawas tak menampik kalau ada kontribusi perusahaan tambang yang menjadi pemicu banjir di Konawe dan Konut. Menurutnya, sejak menjadi kabupaten, baru tahun ini banjir di Konut meluas hingga 6 kecamatan. Begitu juga Konawe sampai 8 kecamatan. “Kita lihat di sana (Konut) banyak penambang, dan lingkungan juga sudah tidak tertata dengan baik,” kata Lukman saat ditemui, usai memimpin upacara di Halaman Kantor Gubernur, Senin (10/6) (kendaripos.co.id, 11/06/2019).

Anggota Komisi V DPR, Ridwan Bae sebut Banjir di Konawe Akibat Kerusakan Alam Kegiatan Tambang. “Di sana ada aktivitas tambang dan perkebunan, tidak ada lagi pohon-pohon yang menyerap dan menyimpan air,” kata legislator dapil Sulawesi Tenggara ini. Data WALHI Sultra menyebutkan sejak 2001 sampai 2017 Konawe kehilangan 45.600 hektare tutupan pohon dan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berstatus kritis (bisnis.com, 13/06/2019).

Melihat persoalan ini banjir tidak semata fenomena alam melainkan ada sebab dan akibat. Banjir dapat terjadi ketika tak ada lagi daerah resapan air. Sebagaimana yang terjadi di daerah terdampak banjir merupakan daerah di sekitar pertambangan. Oleh karena itu diperlukan ketegasan dari pihak pemerintah untuk mengusut tuntas permasalahan ini sehingga tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Musibah Sebagai Muhasabah

Di dalam surah Ar Rum ayat 41 yang artinya ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Musibah hendaknya menjadi media untuk bermuhasabah (introspeksi) atas apa yang telah dilakukan selama ini. Bisa jadi karena keserakahan pihak tertentu mengundang bencana bagi seluruhnya. Juga mengintrospeksi apakah individu, masyarakat atau negara lalai dalam menjaga alam sebagai titipan Tuhan.

Islam adalah agama yang paripurna Mampu menyelesaikan segala problematika termasuk persoalan banjir. Dalam sistem Islam kebijakan mengatasi banjir mencakup sebelum dan pasca bencana.

Solusi islam dalam upaya mengatasi banjir adalah membangun bendungan-bendungan untuk menampung curahan air hujan, curahan air sungai dll. Memetakan daerah rawan banjir dan melarang penduduk membangun pemukiman di dekat daerah tersebut. Pembangunan sungai buatan, kanal, saluran drainase dsb yaitu untuk  mengurangi penumpukan  volume air dan mengalihkan aliran air , membangun sumur-sumur resapan di daerah tertentu.

Selain beberapa solusi di atas Islam juga menekankan beberapa hal penting lainnya pembentukkan badan khusus untuk penanganan bencana alam, persiapan daerah-daerah tertentu untuk cagar alam. Sosialisasi tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan kewajiban memelihara lingkungan, kebijakan atau persyaratan tentang izin prmbangunan bangunan. Pembangunan yang menyangkut tentang pembukaan pemukiman baru.

Penyediaan daerah serapan air,penggunaan tanah dsb. Itulah berbagai solusi dari masalah banjir   yang sering dihadapi masyarakat. Selain beberapa point-point diatas juga menyertakan solusi penanganan korban banjir seperti penyediaan tenda, makanan, pengobatan, dan pakaian serta keterlibatan warga (masyarakat) sekitar yang berada di dekat kawasan yang terkena bencana alam banjir.

Begitulah solusi islam atasi banjir dan kebijakan ini  tidak hanya didasarkan pada pertimbangan rasional tetapi juga nash-nash syara.

Pada masa kejayaan Islam, sistem Islam mampu menghasilkan insinyur yang mampu menangani masalah banjir:

Insinyur Al-Fargani (abad 9 M) telah membangun at yang disebut milimeter untuk mengukur dan mencatat tinggi air sungai Nil di berbagai tempat. Stelah bertahun-tahun mengukur, Al- Fargani berhasil mempresiksi banjir sungai Bil, Al-Fargani berhasil memprediksi banjir sungai Nil baik jangka waktu pendek atau jangka panjang.

Peradaban Islam memiliki jasa yang tidak ternilai dalam mengendalikan debit air. Abu Raihan al-Biruni ( 973-1048) mengembangkan teknik untuk mengukur beda tinggi antara gunung dan lembah guna merencanakan irigasi. Abu Zaid Abdi Rahman bin Muhammad bin Khaldun Al-Hadrami menuliskan dalam kitab monumental tentang “Muqaddimah” suatu bab khusus tentang berbagai aspek geografi iklim.

Kemampuan peradaban Islam bertahan selama berabad-abad bahkan terhadap bencana alam termasuk banjir merupakan produk dari sinergi keimanan dan ketaatan kepada aturan Sang Pencipta serta ketekunan mempelajari ilmu sehingga mampu menggunakan teknologi yang tepat dalam mengelola air dan menghadapi banjir.

 


Editor : | Publizher : Iksan