,

Jumlah Pelanggar Berlalulintas di Konawe Meingkat

oleh
Inspektur Polisi Satu (Iptu) Arifin, S.Sos
Inspektur Polisi Satu (Iptu) Arifin, S.Sos
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

| Editor : Armin | Publizer : Iksan


KALOSARA NEWS : Satuan Lalulintas Polres Konawe menggelar Operasi Zebra Anoa 2019. Dari operasi itu yang digelar beberapa hari, sebanyak 1288 pengendara terjaring.

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Konawe AKBP Muhammad Nur Akbar, SH, S.IK, MH melalui Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Konawe Inspektur Polisi Satu (Iptu) Arifin, S.Sos menjelaskan dari jumlah tersebut berasal dari dua kabupaten wilayah hukum Polres Konawe yakni, Konawe dan Konawe Utara.

“Termasuk pelanggaran berkendara anak di bawah umur,” ungkap diruang kerjanya. Rabu, 06/11/2019.

Ia menguraikan roda dua sebanyak 915, lalu roda empat jenis mobil penumpang sebanyak 277, mobil bus satu, dan mobil barang 101 unit.

“Jumlah pelanggaran ini, dibandingkan operasi serupa tahun 2018 lalu mengalami peningkatan sebesar 13,88 persen. Sama halnya dengan operasi patuh, jumlah saat ini juga masih lebih tinggi,” terangnya.

Lebih lanjut Kasat Lantas menjelaskan bahwa Kabupaten Konawe sendiri menempati posisi ketiga jumlah pelanggar terjaring di Sulawesi Tenggara (Sultra) di bawah Kota Bau-Bau dan Kota Kendari.

Dikatakan, peningkatan jumlah pelanggar tersebut terjadi karena faktor pertumbuhan kendaraan yang mencapai angka sekitar 400 kendaraan perbulan untuk roda dua.

Sementara kata dia, kondisi Konawe dan Konawe Utara yang merupakan daerah perlintasan. Konawe perlintasan dari Makassar, sedangkan Konut perlintasan menuju Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Untuk Laka Lantas, tahun lalu satu kejadian dan meninggal dunia. Untuk tahun ini, tiga kejadian, semuanya hanya luka ringan,” kata Iptu Arifin, Rabu (6/11/2019) saat ditemui awak media..

Kasat Lantas menerangkan bahwa selama 14 hari Operasi Zebra, pihaknya telah mengupayakan meningkatkan kesadaran berlalu lintas dan menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya.

Arifin menyebut bagi pengendara anak di bawah umur pihaknya memberikan sosialisasi tersendiri. Meski sebut dia, masih banyak orang tua yang membebaskan anak mereka mengendarai kendaraan sendiri, khususnya di jam sekolah.

“Kendalanya, belum ada kendaraan umum untuk anak sekolah. Harapan kita Pemda bisa adakan. Pelanggar di bawah umur ada dikarenakan orang tua tidak bisa terus-menerus mengantar anak mereka ke sekolah, akhirnya berkendara sendiri,” terangnya. (B)