Liberalisasi Pariwisata Gerbang Masuk Kesyirikan

  •  
  •  
  •  

Oleh: Intaniah Tahir


Alkisah pengantaran kesenangan. Tipu daya berbalut keindahan. Mata terbuka, Iman Meragu. Terbuai mudah hamparan semu. Membuat lupa sang Pencipta”.

Keindahan alam menjadi ajang tipuan rezim dalam menyesatkan pemikiran manusia untuk hidup dalam kesenangan. Akibatnya manusia terkesan lupa untuk mengumpulkan bekal di akhirat.Keindahan alam nusantara ini pun menjadikan kesempatan rezim untuk meraup keuntungan. Sehingga, tak heran jika berbagai pembangunan pariwisata lebih di unggulkan. Bertebarannya iklan-iklan budaya yang objeknya menampilkan keelokkan tempat pariwisata nusantara namun memiliki tujuan terselubung, yang walaupun rezim bersorak ramah seolah-olah menunjukkan kepada dunia akan keindahan alam di indonesia. Namun, bukankah besaran kehidupan sekarang ditentukan oleh keuntungan atau dengan kata lain segala pembangunan haruslah menghasilkan laba.Sekali lagi atas nama kearifan lokal antara pariwisata dan budaya tidaklah berjalan bersama agama. Karena apabila agama terikut dalam sektor ini harga jual tempat pariwisata akan menurun dan tidak menghasilkan keuntungan.

 

Pembangunan Pariwisata Dalam Paham Liberalisme

          Tujuan paham liberal yakni mewujudkan keberhasilan dalam menjunjung tinggi nilai kebebasan  pada aspek kehidupan. Hal ini berdampak buruk ketika bersentuhan langsung dengan sosial budaya yang secara tidak langsung menunjuk pada pariwisata. Akibat kebebasan dalam paham ini masyarakat hilang kendali hingga tak heran kita melihat adanya kebebasan berpakaian dan maraknya kalangan gender. Apalagi sekarang pembangunan pariwisata dengan dibaluri budaya nusantara yang seakan memberikan fenomena rusaknya akidah oleh perilaku-perilaku syirik yang dibiarkan saja oleh rezim.selain itu, meningkatnya tempat pariwisata maka meningkat pula jumlah wisatawan mancanegara.Dimana hal ini berpotensi baruk dalam masuknya kultur budaya luar yang dapat merusak moral masyarakat.

Yang lebih berbahaya kasus penyeludupan barang haram yakni narkoba banyak dilakukan ditempat pariwisata seperti yang terjadi di Bali.Kawasan wisata di Kuta Bali selama ini dikenal sebagai tempat wisata dunia yang tidak jarang menjadi tempat penyalahgunaan narkoba.

Berkembangnya opini publik yang menyesatkan dengan menganggap pembangunan pariwisata bisa menghadapi kesulitan ekonomi akibat perang dagang china-AS.Namun faktanya adalah hal ini sama sekali tidak berpengaruh.Dalam kutipan  Amelia menjelaskan, salah satu jalan pintas yang bisa digunakan untuk menyelamatkan devisa negara adalah melalui sektor pariwisata.“Analisis sementara menunjukkan industri pariwisata tidak terpengaruh oleh perang dagang. Meski sedang terjadi perang dagang, orang-orang tetap berwisata,” kata Amalia di Jakarta, Kamis (27/06/2019).(Marketeers 30/6/2019)

Jika seperti itu, maka yang perlu pemerintah tingkatkan yakni dari sektor UMKM karena sektor inilah yang paling strategis dalam membantu perekonomian negara ataupun rakyat.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan menilai peningkatan kontribusi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap pendapatan nasional harus terus diupayakan. Sebagai sektor yang berperan dalam membuka lapangan kerja bagi 96,87% angkatan kerja di Indonesia, UMKM memiliki posisi penting dalam keberlangsungan perekonomian Indonesia. Dalam sektor pariwisata pihak asing juga mendapatkan keuntungan melimpah. Banyak tempat pariwisata di indonesia yang telah dikelola oleh pihak asing sebagai contoh Pulau Moyo di Kabupaten Sumbawa Besar NTB yang menyajikan pantai berpasir putih, di pulau ini kamu bisa menyaksikan keanekaragaman flora dan fauna serta air terjun.Fakta ini sekali lagi menjadi bukti keberpihakkan rezim pada pihak asing. Bukankah segala pulau yang ada di indonesia haruslah dijaga oleh pihak pemimpin apalagi tempat itu punya tempat strategis, lalu mengapa dengan gampangnya sebuah pulau dikelola oleh pihak asing. Ini menandakan rezim tidak amanah. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta jangan mengkhianati amanah-amanah kalian, sementara kalian tahu (TQS al-Anfal [8]: 27).

Menurut Ibnu Abbas ra., ayat tersebut bermakna, “Janganlah kalian mengkhianati Allah dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban-Nya dan jangan mengkhianati Rasulullah dengan menanggalkan sunnah-sunnah (ajaran dan tuntunan)-nya…” (Al-Qinuji, Fath al-Bayan fî Maqâshid al-Qur’ân, 1/162. Oleh sebab itu, segala pembangunan sektor dalam negeri haruslah beriringan dengan agama, jangan saling bertolak belakang, dalam hidup diperlukan hiburan dan tempat pariwisata menjadi sarana hiburan terbanyak bagi masyarakat tapi jangan menjadikan itu berlebihan. Karena kita tercipta bukan untuk bersenang-senang. Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al Mukminun:115).Karena tujuan hidup kita hanyalah beribadah kepada Allah Swt. mentauhidkan-Nya. Hal ini Allah Ta’ala kembali tegaskan, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”(Adz Dzariyat:56). Jadi,janganlah jadikan sektor pariwisata sebagai alat maksiat. . Wallahu ‘alam bishowab[]

Editor : Rj | Publizher : Iksan

 

 

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co