Waspada Sultra Darurat Narkoba !

  •  
  •  
  •  

Oleh : Hasrianti

(Mahasiswi UHO)


Narkoba singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif berbahaya lainnya merupakan bahan atau zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba juga dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis. Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat.

Bumi anoa begitulah kiranya  julukan untuk provinsi Sulawesi tenggara, Ibu Kota Kendari, tak jarang juga menyebutnya sebagai kota bertaqwa. Namun, siapa sangka dibalik semua gelar itu Sultra merupakan provinsi tempat penyalagunaan narkoba.

Dilansir oleh www.detiksultra.com – POLDA Sultra baru-baru ini merilis laporan tahunan mengenai penanganan kasus selama tahun 2019 di Sulawesi Tenggara. Deretan angka yang sangat memprihatinkan disampaikan oleh aparat kepolisian, dimana jumlah kasus narkoba sepanjang 2019 yang mencapai 231 kasus dengan 293 tersangka. Dari angka itu, tidak ada yang lebih memprihatin lagi, yakni penangkapan tersangka kasus narkoba, didominasi usia 21-29 tahun sebanyak 202 kasus (Jumat, 3/01/2020).

Tak hanya itu penghujung tahun 2019 Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara (Sultra) melaporkan telah menangkap 31 pengedar dan merehabilitasi 230 pengguna narkoba. Dari tangan pelaku, BNNP Sultra amankan ada sebanyak 11,01 kilogram narkotika jenis sabu. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BNNP Sultra, Brigjen Pol Imron Korry ia mengatakan, tingkat peredaran narkotika tahun ini cukup naik siginifikan dibandingkan tahun lalu dengan mengamankan 3 kilogram sabu (www.inikatasultra.com 27/12/2019).

Kasus narkoba di Sultra tak kunjung sirna, narkoba selalu menjadi deretan kasus favorit setiap tahunnya. Peredaran narkoba secara khusus jadi barang bernilai ekonomi yang cukup menggiurkan bagi para penggunanya. Narkoba menggurita seolah hukuman penjara tak cukup jadi solusi tuntas. Wajar jika kemudian muncul tanya, mengapa Sultra dan narkoba begitu akur ?

 

Sistem Sekuler Suburkan Narkoba

Rusaknya tatanan kehidupan di era globalisasi saat ini, memberi peluang besar bagi kalangan manapun yang hanya berpikir bagaimana bisa bertahan hidup dan meraih kesenangan saja, tanpa memikirkan halal dan haram. Tidak hanya dialami oleh masyarakat umum, kasus narkoba yang menjerat public figure tanah air pun semakin marak. Ironisnya, pengguna dan pengedar kini menjerat anak di bawah umur.

Kebanyakan pelaku dan pengkonsumsi hanya menjadikan narkoba sebagai solusi dari permasalahan hidup yang dihadapi. Dalam benak mereka tidak terpikirkan untuk menyelesaikan masalah dengan jalan yang benar.

Pemerintah sendiri dinilai gagal dalam menangani peredaran narkoba,  ini bukanlah tanpa sebab. Begitu banyak Undang-Undang yang berkaitan tentang narkoba, ada pula Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai lembaga yang berperan  dalam menanggulangi hal tersebut. Namun, hasilnya belum mampu memberikan dampak yang signifikan. Penanganan kepada para penyalahguna narkotika di Indonesia pun dinilai masih lemah terutama dari sisi hukum. Perlu dilihat bahwa ada yang salah dengan sistem hukum di negeri ini, yang membuat pelaku maksiat justru bertambah banyak.

Bagaimana mungkin ada efek jera jika hukuman yang diberlakukan hanya fokus rehabilitasi saja, bukan hukum yang memberikan efek yang menuntaskan sampai ke akar permasalahan. Selain dari sisi hukum yang lemah, sistem yang berlaku hari ini juga sangat mengkondisikan narkoba semakin menjamur.

Bukan rahasia bahwa bahagia dalam kaca mata kapitalisme  adalah terpenuhi kesenangan jasmani secara bebas. Ideologi yang berasaskan sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) ini secara langsung menghendaki kebebasan bagi setiap individu manusia. Akhirnya manusia berlomba dalam kebebasan tanpa batas demi mengejar makna bahagia. Meski faktanya, kebebasan justru berakibat kebablasan hingga menuai kehancuran. Inilah yang tengah kita saksikan saat ini, bukan tidak mungkin, jika kapitalisme terus ada, suatu masa narkoba pun akan jadi jajanan biasa layaknya permen yang bebas diperjual belikan.

Tabiat  prinsip ekonomi kapitalis, jika sebuah produk memiliki permintaan pasar yang banyak, maka produk tersebut  akan terus diproduksi. Tanpa memperdulikan apakah produk tersebut haram atau halal. Kita lihat narkoba demikian adanya, masih banyaknya orang yang menggunakan seakan sudah menjadi kebutuhan pasar yang wajib dipenuhi.

Narkoba pun jadi  ladang bisnis yang menggiurkan, ditambah lagi polemik kemiskinan kian mencekik, memaksa sebagian orang untuk melakukan pekerjaan apa saja agar bisa bertahan hidup meskipun itu mengancam jiwa mereka.

Elemen masyarakat yang masih peduli dengan generasi Sultra tentu sepakat untuk menyudahi gurita narkoba. Hanya saja, upaya ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Jeruji besi pun terbukti tak cukup ampuh untuk mengatasi permasalahan tersebut ini butuh upaya sistemik.

 

Berantas Narkoba Secara Tuntas

Islam adalah agama komprehensif. Memiliki seperangkat aturan untuk menyelesaikan problematika manusia. Dalam perkara narkoba, masalah ini masuk dalam perbuatan-perbuatan yang membahayakan akal dan merugikan harta dan jiwa. Setidaknya ada tiga komponen besar yang menjadi upaya islam dalam menanggulangi Narkoba.

Pertama, dimulai dari individu-individu yang harus memiliki ketakwaan. Kuat dari sisi pondasi aqidahnya untuk memperkokoh keimanannya. Sehingga tidak mudah tergoda untuk menjadi penikmat maupun pengedar narkoba.

Kedua, adanya kontrol masyarakat. Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar harus senantiasa ada. Masyarakat tidak boleh bersikap apatis dan individualis, masyarakat memiliki peranan penting yakni menjadi kontrol sosial dalam kehidupan menjalankan amar makruf nahi munkar.

Ketiga, hadirnya institusi pemerintah (negara) sebagai pelindung  dan pengatur urusan rakyatnya. Ketakwaan individu dan kepedulian masyarakat tidak akan terwujud tanpa ada peran dari negara. Oleh karena itu, peran negara dalam membuat kebijakan-kebijakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah vital. Berbagai keputusan yang dihasilkan akan berpengaruh langsung bagi corak kehidupan. Negara juga wajib memberikan kesejahteraan dari segala aspek, khususnya aspek ekonomi dengan menyediakan lapangan pekerjaan. Selain itu negara harus memberlakukan hukum yang tegas yang dapat memberikan efek jera.

Kita tidak bisa berharap pada sistem kapitalisme saat ini untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Karena realitasnya, kapitalisme yang justru menjadi akar kuat berkembangnya narkoba.  Wallahualam bishowab

Editor : Rj | Publizher : Iksan

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co