Cinta Nabi, Cintai Syariat-Nya

  •  
  •  
  •  

Oleh: Yusriani Rini Lapeo, S.pd

(Pemerhati Ummat, Asal Konawe Sulawesi Tenggara)


“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, kepada keluarganya dan kepada penghuni rumah-Nya (ahlil bait).”

Maulid Nabi atau Maulud saja (Arab: Mawlid an-Nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir.

Fenomena Perayaan Maulid

Di Indonesia biasanya diwarnai dengan berbagai aktivitas dalam hal memperingati maulid Nabi. Mulai dari membuat pernak pernik perlengkapan yang akan dibawa di masjid, maupun mengadakan berbagai macam perlombaan. Dan umumnya dilakukan di pedesaan yang masih kental dengan adat istiadat.

Teman-teman  pembaca yang dirahmati Allah, terkait ritual yang dilakukan oleh Masyarakat dewasa ini seperti merayakan Maulid Nabi, memang tidak dapat dipungkiri antusias nya yang luar biasa. Namun pertanyaannya apakah hal demikian adalah boleh? Tentu saja boleh, tetapi harus diperhatikan jangan sampai ritual yang dilakukan akan jatuh kepada kesyirikan.

Sebab, mencintai kekasih Allah Nabi Muhammad SAW, adalah sebuah keharusan bagi seluruh dan setiap masyarakat yang beragama Islam. Siapapun dia entah dia pemerintah, masyarakat golongan atas, menengah maupun golongan bawah, miskin kaya, wajib baginya mencintai Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT menegaskan, dengan menaati Nabi berarti telah menaati Allah. Melaksanakan sunah Nabi memiliki keistimewaan dan memberi kebahagiaan tersendiri. Selain merasa dekat dengan Nabi, secara saintis sunah-sunah Nabi memiliki efek menyehatkan.

Pun mencintai Nabi, tidak hanya sekedar memperingati maulid-Nya saja yang hanya dilakukan setiap tahun. Banyak masyarakat dewasa ini yang hanya ikut-ikutan dalam merayakan maulid, bahkan begitu antusias dalam mempersiapkan pernak pernik seperti kue, buah-buahan, male (batang pisang yang ditancapkan bambu yang diisi telur rebus), namun enggan melaksanakan sholat berjamaah di masjid bagi laki-laki di hari-hari biasa.

Wujud Cinta Kita kepada Nabi

Sebagai wujud cinta kita kepada Nabi mentaati perintah Allah dan menjauhi larangannya. Seperti menutup aurat dengan sempurna bagi wanita, baik ketika ia berjumpa dengan pria yang bukan muhrimnya, maupun ketika ia keluar rumah. Hal ini berkenaan dengan sabda Rasulullah SAW: “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya)”. (HR Abu Dawud)

Contoh lain misalnya larangan berbuat kerusakan dimuka bumi, baik kerusakan yang disebabkan dari maksiat kita kepada Allah, maupun kerusakan yang kita lakukan terhadap lingkungan yang dapat menyebabkan bencana berkepanjangan, hingga membuat negara rugi besar. Terkait dengan hal demikian Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 56)

Firman Allah terkait kerusakan yang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri: “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Dalam ayat yang mulia ini, Imam asy-Syaukaani ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirik dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta”.

Baik larangan maupun perintah yang Nabi terangkan kepada kita, semua merupakan Syariat Allah yang patut di taati dan tidak boleh kita sepelekan. Termasuk dalam menyampaikan kebenaran dihadapan penguasa yang dzolim, merupakan suatu syariat Allah yang Nabi kita pernah contohkan.

Dengan kata lain bahwa, mencintai Nabi Muhammad SAW bukan hanya sekedar seremonial saja, melainkan mentaati seluruh aturan Islam baik berupa ucapan, gerak gerik, perbuatan maupun tingkah laku-Nya yang Allah telah tetapkan kepada kita.

Senantiasa kita ucapkan sholawat serta salam kepada kekasih Allah, Nabi kita Muhammad SAW, agar kelak nanti kita dapat berjumpa dengannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikatnya bershalawat kepada nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam untuknya” (Qs. Al- Ahzab: 56). Wallahu’alam

        Editor : RJ | Publizher : Iksan

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co