Dakwah Dibungkam, Islamofobia Meningkat

oleh
Saniawati
Saniawati
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Saniawati

(Pemerhati Umat)


Negara yang mayoritas muslim ini ajarannya semakin dikekang oleh manusia pemuja islamofobia. Islamofobia sendiri bukan hal baru bagi bangsa dan negara. Kebencian terhadap Islam membuat jiwa mereka terkoyak hingga kebencian itu berwujud monster pelahap ajaran islam.

Bukti kebencian tersebut tertuang dalam ucapan Menko Polhukam Indonesia. Melalui detiknews.com, Wiranto menyebut pemerintah tengah menggodok aturan mengenai larangan individu menyebarkan ideologi. Hal itu demi stabilitas politik dan keamanan dalam negeri. Menurut Wiranto, “Jujur, kita akui bahwa muncul kelompok yang mempunyai kelompok orientasi ideologi yang berbeda dengan pancasila dan NKRI. Dan kelompok ini cukup lama untuk hidup, kita kurang waspada atau karena kepentingan pilitik yang kita biarkan,” ujarnya di gedung Lemhannas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, jumat (13/09/2019).

Selain dari pernyataan Menko Polhukam tersebut, bayak juga oknum-oknum lain yang menyuarakan pendapatnya menolak ajaran Islam. Dilansir dari gesuri.id, Jakarta, sabtu (14/09/2019), Bendahara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Nasyirul Falah Amru, menegaskan rencana pemerintah akan membuat aturan pelarangan terhadap ideologi harus di dukung. Menurutnya, setelah organisasi pengusung ideologi, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah dibubarkan, akan tetapi, masih banyak kegiatan mereka terselubung didalamnya, dalam kesempatan itu ia mendukung untuk memberlakukan aturan tersebut.

Indonesia dengan sistem Demokrasinya memiliki asas-asas kebebasan, salah satunya adalah kebebasan beragama. Kebebasan yang digaungkan tersebut tak berlaku bagi penganut agama Islam. Padahal Islam adalah salah satu agama resmi yang diakui oleh negara bahkan menjadi agama mayoritas di negeri Nusantara ini.

Islamofobia di negeri ini merebak bagai virus tertanam dalam induk dan mulai menjalar menyebarkan racunnya keseluruh tubuh. Seperti itulah islamophobia masuk dalam pikiran masyarakat Indonesia.

Dimulai pada tahun 2017 saat Basuki Tjhaja Purnama atau kerap disapa Ahok menghina Al-Quran surat Al-Maidah ayat 51. Ia mengatakan bahwa jangan mau dibohongi pakai surat Al-Maidah ayat 51, hingga berakhir dalam jeruji besi.

Tak hanya Ahok saja, Sukmawati Soekarnoputri dalam sebuah puisinya menyinggung syariat islam tentang azan dan cadar. Lantunan puisi tersebut menyebut “kidung ibu pertiwi Indonesia sangatlah elok dari alunan azan mu. Sari konde ibu Indonesia sangatlah indah lebih cantik dari cadar dirimu,” cuplikan puisi tersebut memantik emosi dikalangan umat islam se-Indonesia. Namun pemerintah tak memperkarakan persoalan puisi tersebut.

Selain itu, organisasi yang dianggap memperjuangkan sesuatu yang mereka cap ajaran Islam radikal juga dipersekusi. Sebagaimana diketahui, pada Juli 2017 pemerintah Indonesia secara represif ‘membubarkan’ organisasi yang menyerukan terkait syariah dan. Tak sampai disitu saja, aksi intimidasi dan persekusi juga dialami para aktivisnya. Pembubaran secara sewenang-wenang itu seolah belum memuaskan hajat penguasa untuk memberangus gagasan. Kini pemerintah ingin menggodok individu agar penyebaran isu berhenti menyebar.

Perlu diketahui bahwa bukanlah ideologi, melainkan sebuah sistem pemerintahan islam yang merealisasikan penerapan semua ajaran Islam. Sebagaimana shalat, puasa dan zakat, juga harus ditunaikan oleh setiap individu yag beriman kepada Allah.

Menolak berarti menolak Islam secara keseluruhan. terdapat dalam kitab-kitab ulama muktabar. Dalilnya juga jelas. Sanadnya pun terpercaya. Bagaimana bisa tidak dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam?

Anggapan itu jelas membuat hati setiap insan kaum Muslim tergores. Terasa mengharu biru dan sesak menghujam dalam dada tatkala umat Islam itu sendiri yang menyebarkan penyakit islamophobia ditengah-tengah tubuh kaum muslim. Ibarat musuh dalam selimut, maksud ingin melawan namun hati mengatakan bahwa mereka adalah bagian dari tubuh kaum muslimin.

Tugas kita sebagai saudara sesama muslim, adalah tetap menyebarluaskan Islam dan memahamkan pada diri mereka bahwa sangatlah urgen dan obat penyembuh atas problematika umat saat ini. sehingga kehidupan islam pun dapat dirasakan kembali seperti sediakala. Wallahua’lam bi ash-shawab.


Editor : Armin | Publizher : Iksan