,

Wow, Masyarakat Miskin Makin Minim!

oleh
Fitri Suryani, S.Pd
Fitri Suryani, S.Pd

Oleh: Fitri Suryani, S.Pd

(Guru Asal Kabupaten Konawe, Sultra)


Sebanyak 31 ribu orang di Konawe masuk kategori miskin, di tahun 2019. Jumlah itu lebih rendah rendah dibanding tahun 2018 lalu dimana jumlah warga miskin sebanyak 33.400 orang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Konawe, untuk presentase kemisknan di Konawe tahun 2019 sebesar 12.34 persen. Jumlah itu menurun 1,14 persen dibanding presentase tahun 2018 lalu dimana angka kemiskinan sebesar 13.48 persen (Mediakendari.com, 24/01/2020).

Selain itu, Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, jumlah penduduk miskin pada September 2019 sebesar 24,79 juta orang, menurun 0,36 juta orang terhadap Maret 2019 dan menurun 0,88 juta orang terhadap September 2018.

Garis Kemiskinan pada September 2019 tercatat sebesar Rp440.538,-/ kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp324.911,- (73,75%) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp115.627,- (26,25%).

Pada September 2019, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,58 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp2.017.664,-/rumah tangga miskin/bulan (Cnbcindonesia.com, 15/01/2020).

Dari data tersebut, tentu sebagai warga negara Indonesia merasa senang ketika ada pemberitaan tentang menurunya angka kemiskinan di negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Jika menilik warga miskin di negeri ini tentu tidak dapat dikatakan sedikit, namun tidak bisa dipungkiri pula bahwasanya warga miskin juga memiliki hak untuk hidup yang layak. Sebagaimana jika mengacu pada pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”.

Tentu dari bunyi pasal 34 ayat 1 ini mengandung makna, bahwa seluruh warga negara Indonesia yang termasuk dalam kategori fakir dan miskin serta anak terlantar sudah semestinya dibantu oleh negara. Dengan kata lain bahwa mereka tidak boleh dibiarkan saja, tetapi pemerintah harus membuat suatu program yang dapat membantu warganya yang fakir dan miskin dan anak terlantar untuk bisa terus hidup dan mempunyai usaha serta pendapatan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Sehingga diharapkan jika telah dapat mandiri dan mencukupi kebutuhannya tidak ada lagi warga yang fakir dan miskin serta anak terlantar di negeri tercinta ini.

Di sisi lain, apabila kita merujuk pada bunyi pasal tersebut, semestinya tidak ada lagi rakyat di negeri ini yang hidup tidak layak, atau berada di bawah garis kemiskinan. Kalaupun masih ada, maka menjadi kewajiban negara melalui pemerintah untuk memelihara dan membuatnya menjadi sejahtera. Terlebih Indonesia merupakan negara yang kaya raya dengan sumber daya alamya yang melimpah dari sabang sampai merauke.

Di samping itu, apakah kemiskinan yang dialami oleh warga negara ini karena salah dari individu tersebut? Tentu tidak sepenuhnya benar, karena dalam hal ini negara pun secara tidak langsung memiliki andil untuk membantu menyejahterakan rakyatnya. Diantaranya dengan membuka lapangan kerja dan apabila tidak memiliki keahlian, maka pemerintah dapat memberikan keterampilan, sehingga kedepannya mampu menghasilakan sesuatu yang dapat menghidupi keluarganya dengan layak.

Olehnya itu, masalah kemiskinan tidak cukup hanya diselesaikan dengan memberi solusi yang tambal sulam, tanpa menyentuh permasalahn pokok yang menimpa negeri ini. Maka dari itu perlu adanya perubahan yang mendasar dalam menyelesaikan masalah kemiskinan tersebut. Salah satunya dengan mengelola sumber daya alam negeri ini dengan tepat. Sebagaimana dalam pasal 33 ayat 3 menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Adapun dalam Islam, kebutuhan sandang, pangan dan papan merupakan kebutuhan utama dan dalam hal ini negara secara tidak langsung menjaminnya. Di antarnya, memaksimalkan peran ayah selaku kepala rumah tangga agar dapat memenuhi kewajibannya secara maksimal dalam mencari nafkah. Tentunya ini juga tidak lepas dari peran negara dalam menyiapkan lapangan kerja untuk warga negaranya.

Selain itu, jika ayah tak mampu karena sakit atau telah tiada, maka peran menafkahi keluarga dikembalikan kepada walinya. Di samping itu, peran negara juga memiliki andil, karena jika dari pihak wali tak sanggup pula dalam memberi nafkah kepada tanggungannya, maka dalam hal ini negara mempunyai peran dalam membantu mensejahterakan warganya, terutama dalam kebutuhan primer.

Sebagaimana kisah seorang Khalifah Umar bin Khattab yang telah masyhur. Sebagaimana dikisahkan bahwasanya Umar dan sahabatnya Aslam menjalankan kebiasaanya menyisir kota untuk memastikan tidak ada warganya yang tidur dalam keadaan lapar. Hingga akhirnya, langkah mereka terhenti saat mendengar tangisan anak perempuan yang keras. Khalifah kemudian bertanya siapa yang sedang menangis dan ternyata adalah anak perempuan dari ibu itu.

Anak itu menangis karena kelaparan dan seketika Umar dan Aslam tertegun. Beberapa lama kemudian, Umar dan Aslam merasa heran karena sang ibu tidak kunjung selesai memasaknya. Setelah melihat isi panci itu, mereka terkejut karena di dalamnya hanya ada batu-batu dan air. Ibu itu kemudian menjelaskan jika ia memasak batu dan air hanya untuk menghibur anaknya yang kelaparan. Setelah itu, Umar mengajak Aslam untuk kembali ke Madinah dengan meneteskan air mata. Ia mengambil sekarung gandum untuk diberikan pada sang ibu dan mengangkatnya seorang diri.

Dengan demikian, mewujudkan masyarakat yang sejahtera dalam sistem saat ini tidaklah mudah, terlebih jika standar kesejahteraan masih kabur. Olehnya itu, tiada cara yang lebih baik selain kembali pada aturan yang maha baik, yakni aturan-Nya. Karena sejatinya yang lebih tahu yang terbaik untuk hambanya, tentu yang menciptakan hamba itu sendiri. Wallahu a’lam bi ash-shawab.(***)


Editor : Armin | Publizher : Iksan


 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart