Miras Sophia Diresmikan, Akibat Penerapan Kapitalis-Sekuler

oleh

Oleh: Nur Syamsiyah

Aktivis Malang Raya


Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara (NTT) bekerjasama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi meluncurkan minumas keras (miras) lokal yang diberi nama Sophia (Sopi asli) pada tanggal 19 Juni 2019 di Kampus Undana.

Gubernur NTT, Viktor Laiskodat menyebutkan tujuan utama pemberdayaan minuman lokal ini untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Rektor Undana, Frederik Benu juga mengatakan, peluncuran minuman keras (miras) Sophia sebagai bentuk tanggungjawab universitas terhadap pembangunan NTT.

Rencananya, miras Sophia akan diproduksi menjadi tiga jenis, namun saat ini baru dua jenis yang dihasilkan. Kadar alkohol yang terkandung dalam miras Sophia mencapai 35 hingga 40 persen. Gubernur NTT ingin menjual miras Sophia seharga Rp 1 Juta per botol. Untuk tahap awal, akan diproduksi sebanyak 12.000 botol pada bulan Juni.

Viktor berharap, dengan diproduksinya Sophia akan memunculkan banyak industri pengolahan dan menyerap banyak tenaga kerja yang nantinya juga bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi tingkat kemiskinan di NTT.

Diresmikannya miras Sophia dengan pandangan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat justru akan menghancurkan masyarakat itu sendiri. Sebab, alkohol merupakan suatu zat yang yang memabukkan, merusak akal dan keluar dari kesadaran. Alkohol juga termasuk barang najis yang diharamkan untuk dikonsumsi ataupun dimanfaatkan dalam bentuk lainnya.

Nabi Muhammad saw bersabda yang artinya, Alkohol adalah induk dari segala kejahatan dan ini adalah kejahatan yang paling memalukan. (Dikutip dari dalam Sunan Ibnu Majah I Volume 3, Kitab Minuman keras, bab 30, hadits Nomor 3371).

Allah swt berfirman yang artinya, Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak oanah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. QS. Al-Maidah [5]: 90

Di samping itu, pembuatan miras Sophia tersebut bekerjasama dengan pihak universitas yang juga melibatkan para mahasiswanya dalam memproduksi dan disepakati oleh pihak rektor sebagai bentuk tanggungjawab universitas terhadap pembangunan di daerahnya.

Bagaimana nasib para generasi jika pelegalan miras terus merajalela? Masyarakat akan semakin banyak yang menggadaikan aqidahnya. Menggila kepada manfaat untuk mengejar kesenangan duniawi semata.

Kehidupan sekuler (pemisahan agama dengan kehidupan) menjadikan manusia berperilaku jauh dari standar kebenaran (yaitu pembuat aturan yang absolut, Allah swt). Manusia menjalani kehidupannya dengan tujuan mendapatkan kepuasan jasmani, mendapatkan manfaat dan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mengenyampingkan aspek halal haram.

Di zaman kapitalis-sekuler inilah manusia dibentuk sebagai hewan sosial yang berjalan di muka bumi dengan angkuh tanpa mempedulikan aturan dari Sang Maha Pencipta. Tak lagi menggunakan akalnya untuk berfikir agar tunduk di bawah perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Hukum syariat telah jelas, mana yang halal dan yang haram. Allah menghalalkan untuk kita semua yang baik, dan mengharamkan yang keji. Dengan demikian tidak dapat merubah suatu hal yang haram hukumnya menjadi suatu hal yang dihalalkan.

Oleh sebab itu lah, kehidupan kapitalis-sekuler ini tak layak untuk di terapkan di tengah-tengah kehidupan dan dijadikan sebagai solusi penyelesaian permasalahan. Sudah saatnya kita campakkan kapitalis-sekuler, dan menegakkan syariat-Nya di muka bumi ini. Hingga Allah memberikan ampunan dan keberkahan bagi penduduk bumi.


Editor : Armin | Publizher : Iksan


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart