Biaya Transportasi Melejit, Rakyat Menjerit

  •  
  •  
  •  

Oleh :Siti Komariah

(Komunitas Peduli Umat)


Transportasi merupakan alat dan insfratruktur umum yang merupakan hajat hidup orang banyak. Momen lebaran merupakan momen dimana sebuah keluarga berkumpul, bersilaturahmi, dan melepas rindu di kampung halaman setelah beberapa bulan tidak berkumpul akibat terpisah jarak, beberapa kesibukan pekerjaan, dan melanjutkan studi di tempat lain. Sehingga tak heran, jika mudik menjadi sebuah tradisi menjelang lebaran di sebagian besar masyarakat Indonesia, baik memanfaatkan trasportasi darat, laut, maupun udara.

Namun, tahun ini masyarakat harus menanggung beban berat dalam memanfaatkan sarana transportasi. Bagaimana tidak, mereka harus merogoh kocek lebih besar untuk membeli tiket, maupun membayar tarif tol demi bersua dengan keluarga, bahkan sebagian dari mereka harus rela menahan rindu untuk bersua dengan keluarga tercinta. Hal ini dikarenakan melambungnya harga tiket, baik tiket pesawat, kapal, maupun kereta api. Bahkan, kenaikan tarif tol pun ikut melonjok cukup drastis akibat pemindahan gerbang tol untuk mengantisipasi kemacetan.

Sebagaimana dilansir oleh tempo.co, lonjakan tarif berlaku untuk kelas kendaraan golongan I, yakni sedan, jip, truk kecil dan bus. Peningkatan tarif paling drastis terjadi untuk  rute Cikarang Barat arah Cibatu, yakni dari Rp. 1.500 menjadi Rp.12.000. Kenaikan tariff 50% selanjutnya berlaku untuk rute Jakarta tujuan Cibatu. Dari semula Rp 6.000 menjadi Rp.12.000. Sementara itu, kendaraan yang melaju dari arah Cikarang Barat menuju Cikarang Timur akan dikenakan tarif  tarif  Rp. 12.000 yang semula hanya Rp. 2,500.

Kementerian Perhubungan pun tengah mengkaji kemungkinan tarif  batas atas dan bawah untuk angkutan kereta api. Direktur Jenderal Perkerataapian Kementerian Perhubungan Zulfikri mengatakan aturan ini dipertimbangkan guna melindungi kepentingan konsumen dan operator. Bukan hanya itu saja, tiket pesawat pun kini melejit, bahkan kini ada biaya bagasi dengan berat tertentu.

Sistem Kapitalis Biang Keroknya

Sungguh beban masyarakat semakin berat akibat kebijakan pemerintah yang menaikkan tarif tol dengan bilangan cukup fantastis. Bagaimana tidak, kita bayangkan saja kenaikan tertinggi yaitu dari Rp. 1.500 menjadi Rp. 12.000 dengan kenaikan sebesar 8 kali lipat atau 800% dari awalnya. Ditambah lagi kenaikan tersebut dilakukan secara tertutup dengan dalih pemindahan gerbang tol (GT) dari Cikarang Utama ke GT Cikampek dan GT Kalihurip Utama untuk menghindari kemacetan. Padahal, sampai saat ini kebijakan tersebut tidak terbukti mengurangi kemacetan, tetapi justru memunculkan kemacetan parah di GT sampai berjam-jam.

 

Hal ini membuktikan bahwa penguasa seakan lepas tangan, bahkan tidak bertangung jawab dalam meria’yah masalah rakyatnya. Setelah menaikkan tarif tol dengan semene-mena, kemudian banyaknya keluhan masyarakat terhadap kenaikan tarif tol tersebut justru, Direktur Operasi Jasa Marga, Subekti Syukur mengatakan, kenaikan tarif tol ini merupakan konsekuensi perubahan sistem transaksi yang akan berlaku. Menurutnya kenaikan tarif ini tidak akan memberikan dampak besar terhadap perseroan. Bahkan dia berdalih bila merujuk Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2004 tentang jalan, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) bisa menaikkan tarif setiap dua tahun sekali berdasarkan evaluasi terhadap standar pelayanan minimum (SPM).

Bukan hanya itu saja, pengabaian penguasa dalam meriayah rakyatnya semakin terlihat saat memberikan solusi terhadap mahalnya harga tiket jalur udara (pesawat). Mereka memberikan solusi yang sungguh tak logis, dimana penguasa meminta masyarakat untuk mengunakan jalur darat, ketimbang jalur udara yang berbiaya mahal. Sebagaimana dilansir viva.co.id- Menteri Pariwisata, Arief  Yahya mengatakan agar masyarakat juga mempertimbangkan alternative transportasi darat yang berbiaya lebih murah dibanding pesawat. Menurutnya jalur darat saat ini sudah sangat memadai dengan dibangunnya jalan tol yang membentang dari Jakarta hingga Jawa Timur tersebut, bisa mempermudah kelancaran arus mudik tahun ini. Namun, faktanya hingga saat ini kemacetan di jalan tol tersebut tak kunjung berkurang, bahkan semakin akut.

Mahalnya biaya trasportasi, dan keruwetan-keruwetan masalah transportasi lainnya, baik jalur darat, laut, maupun udara dari hari ke hari yang tak kunjung menuai solusi disebabkan karena penerapan sistem kapitalis demokrasi. Dimana dalam sistem ini, penguasa hanya berfungsi sebagai regulator dan legislator saja. Sehingga negara secara tidak langsung berlepas tangan dalam tangungjawabnya melayani dan meri’ayah rakyatnya. Negara menyerahkan tangungjawabnya sebagai pengelola fasilitas dan sarana-sarana trasportasi kepada swasta dan asing, sehingga jelas jika swasta mengambil alih urusan negara, mereka hanya akan mementingkan diri mereka sendiri, yaitu bagaimana mereka mendapatkan keuntungan yang sebesar-sebesarnya tanpa mempedulikan kemaslahatan rakyat. Bahkan, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pasti senantiasa berpihak kepada para operator (asing) dan sebaliknya menghisap, serta menyakiti rakyat. Ditambah lagi kebijakan-kebijakan tersebut dilindungi oleh aturan negara. Alhasil, kepentingan rakyat pasti akan terabaikan dan rakyat kembali menjerit.

Transportasi dalam Sistem Islam

Islam merupakan sebuah agama sekaligus ideologi, yang mana didalamnya tersimpan berbagai solusi problematika umat, bahkan dia memiliki aturan-aturan bagi seluruh kehidupan umat manusia, baik masalah, individu, masyarakat, maupun negara, termaksud masalah transportasi yang tak lepas dari pandagan Islam.

Pembangunan sarana trasnportasi dalam Islam dibangun atas dasar bahwa trasportasi adalah kebutuhan umum bagi masyarakatnya. Maka, pemerintah dalam Islam bertangungjawab dalam menyediakan sarana publik tersebut secara, aman, nyaman, bahkan gratis.

Dalam Islam akan kita dapati tiga unsur dalam pembangunan insfratuktur, yaitu Pertama, pembangunan insfratruktur serta pengelolaannya merupakan tangungjawab negara, tidak dibenarkan, bahkan tidak diperbolehkan diserahkan kepada investor swasta, ataupun asing. Sehingga negara memiliki tangungjawab penuh terhadap pembangunan dan pengelolaan pelayanan publik tersebut. Bahkan penguasa senantiasa mengawasi setiap sarana publik tersebut, dan menjaga keamanan rakyatnya.

Kedua, perencanaan wilayah yang baik akan mengurangi kebutuhan trasportasi. Ketika Baghdad sebagai ibu kota  dibangun sebagai ibu kota setiap bagian kota diproyeksikan hanya untuk jumlah penduduk tertentu. Di kota itu dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersil, tempat singgah bagi musafir, hingga  pemandian umum yang pastinya terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tidak ketinggalan, pemakaman umum dan pengelolaan sampah. Warga tak perlu menempuh waktu jauh untuk memenuhi kebutuhannya, menuntut ilmu, ataupun bekerja, karena semua dalam jangkauan pejalan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar.

Ketiga,  Negara membangun insfratuktur publik dengan standar teknologi terakhir yang dimiliki. Teknologi yang ada termaksud teknologi navigasi, telekomunikasi, fisik jalan hingga alat trasportasinya sendiri.  Sehingga dengan ketiga prinsip tersebut pembangunan  sarana transportasi akan mampu mensejahterakan rakyatnya.

Pelayan Terbaik Umat

Sepanjang sejarahnya, sistem Islam  merupakan pelayan terbaik bagi rakyatnya. Sistem  telah terbukti melahirkan pemimpin-pemimpin yang takut kepada Allah, dan menjadikan kepemimpinannya merupakan tangunjawab besar yang akan dimintai pertangunjawaban oleh Allah kelak di akhirat. Sehingga tidak heran jika mereka senantiasa mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada diri mereka sendiri.

“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dandia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari).

Sebagaimana digambarkan pada masa kekhalifahan Umayah dan Abbasiah, dimana pada masa kepemimpinannya disepanjang rute para pelancong dari Irak dan negeri-negeri  Syam (sekarang Suriah, Yordania, Libanon, dan Palestina) ke Hijaz (kawasan Mekah) telah dibangun banyak pondok atau tempat singgah gratis yang dilengkapi dengan persediaan air, makanan, dan kebutuhan sehari-hari untuk mempermudah perjalanan bagi mereka. Usmaniyah juga melakukan hal yang sama. Dalam hal kemudahan alat transportasi untuk rakyat, khususnya para peziarah ke Mekah, membangun jalan kereta Istambul-Madinah yang dikenal dengan nama “Hijaz” pada masa Sultan Abdul Hamid II.

Usmani pun menawarkan jasa transportasi kepada orang-orang secara gratis.

Bukan hanya itu saja, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab juga terlihat bagaimana beliau amat mengkhawatirkan rakyatnya akibat jalan yang rusak. Dimana dia berkata “Seandainya ada seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalan rusak, aku sangat khawatir karena pasti aku akan ditanya oleh Allah Swt, “mengapa kamu tidak meretakan jalan untuknya”.

Sungguh hanya  yang terbukti mampu menjadi pelayan terbaik bagi umat manusia. Sudah saatnya kita kembali kepada system yang akan memberikan solusi tuntas terhadap seluruh problematikan umat. Dan hanya system  yang akan mampu memberikan kesejahteraan hakiki bagi rakyat diseluruh dunia. Wallahu A’lam Bisshawab

Editor : Rj | Publizher : Iksan

 

 

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co