,

Assalamu’alaikum Mendatangkan Pahala, Salam yang Lain?

Ulfa
Ulfa
  •  
  •  
  •  

Oleh: Ulfah Sari Sakti,SPi

(Jurnalis Musimah Kendari)


 Sebagai makhluk ciptaan Allah swt, tujuan hidup kita di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepadanya, agar selamat dunia dan akhirat.   Selain itu juga, untuk menjaga hubungan dengan sesama, antara lain dengan bertegur sapa menggunakan salam (Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh) pun disarankan dalam Islam.  Sebagaimana Sabda Rasulullah Muhammad saw,” Jika seorang bertemu dengan saudaranya yang muslim, maka ucapkanlah Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”

 (HR Al-Tirmidzi).  Lantas ada keinginan dari lembaga negara (BPIP) untuk menghilangkan salam umat Islam tersebut dengan Salam Pancasila.

Isu berkembang, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) hendak mengganti salam muslim Assalamu’alaikum dengan salam Pancasila. Awalnya, Yudian menjawab pertanyaan presenter Blak-bakan detikcom, Sudrajat perihal salam Assalamu’alaikum di hadapan publik.  Yudian mengatakan, Assalamu’alaikum diucapkan secara total sejak era reformasi tanpa pandang agama.  Kini, salam justru dilengkapi supaya genap dengan nuansa lima atau enam agama.  Menurut Yudian, ini justru menjadi masalah baru.  Yudian kemudian sepakat dengan ide salam Pancasila.

“Iya, salam Pancasila.  Salam itu kan maksudnya mohon ijin atau permohonan kepada seseorang sekaligus mendoakan agar kita selamat.  Itulah makna salam.  Nah Bahasa Arabnya Assalamu’alaikum Wr Wb,” ujar Yudian dalam video Blak-blakan detikcom.

“Sekarang kita ambil contoh, ada hadits kalau anda sedang berjalan dan ada orang duduk, maka ucapkan salam.  Itu kan makusdnya adaptasi sosial.  Itu di jaman agraris.  Sekarang jaman industri dengan teknologi digital.  Sekarang mau balap pakai mobil, salamnya pakai apa? Pakai lampu atau klakson.  Kita menemukan kesepakatan-kesepakatan bahwa tanda ini adalah salam.  Jadi kalau sekarang kita ingin mempermudah, seperti dilakukan Daud Jusuf (Menteri Pendidikan era Orde Baru), maka untuk di public service, cukup dengan kesepakatan nasional, misalnya salam Pancasila.  Itu yang diperlukan hari-hari ini.  Daripada ribut-ribut itu para ulama, kalau kamu  ngomong Shalom berarti kamu jadi orang kristen,” kata Yudian.

Dari pernyataan Yudian seperti tersebut di atas, BPIP menegaskan tidak ada satu pun narasi yang semata menyatakan penggantian Assalamu’alaikum dengan salam Pancasila.  (detik.com/22/2/2020)

Assalamu’alaikum Menebarkan Kebaikan dan Rasa Cinta Terhadap Sesama serta Mendapatkan Pahala

Dengan mengucapkan salam Assalamu’alaikum, secara langsung seorang muslim saling mendoakan dan bertebar kebaikan, karena Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh berarti semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat dan keberkahan untukmu atau semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah padamu / kalian.  Karena itu tidak akan mungkin seorang muslim akan mau menggantikan salam Assalamu’alaikum dengan salam lainnya.

Dari Abdullah bin Amr bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi saw,” Amalan Islam apa yang paling baik?” Beliau saw lantas menjawab.  “Memberi makan (kepada orag yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau keali dan kepada orang yang tidak engkau kenali” (HR Bukhari).

Dari Amar bin Yasir beliau mengatakan, “Tiga perkara yang apabila seseorang memiliki ketiga-tiganya, maka akan sempurna imannya : (1) bersikap adil pada diri sendiri (2) mengucapkan salam pada setiap orang dan (3) berinfak ketika kondisi pas-pasan” (HR Al Bukhari).

Selain itu, mengucapkan Assalamu’alaikum mewujudkan rasa cinta terhadap sesama Muslim, seperti sabda Rasulullah Muhammad saw,” Kalian tidak akan masuk surga hinga kalian beriman.  Kalian tidak akan beriman sampai kalian mencintai.  Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai?.  Sebarkanlah salam diantara kalian” (HR Muslim).

Tidak kalah pentingnya, mengucapkan salam mendatangkan pahala.  Imran bin al-Husain ra mengatakan, ”Datanglah seorang laki-laki menemui Nabi saw, lalu ia mengucapkan Assalamu’alaikum, lalu belia pun menjawabnya, ia pun duduk, kemudian Nabi saw bersabda, “Sepuluh kebaikan (untuknya)”.  Lalu datanglah laki-laki yang lain, kemudian mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”, belaiau pun menjawabnya, lalu ia pun duduk, kemudian Nabi saw bersabda, “Dua puluh kebaikan (untuknya)”.  Selanjutnya, datanglah laki-laki lainnnya lagi, kemudian mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”, beliau pun menjawabnya, lalu ia pun duduk, kemudian Nabi saw bersabda,” Tiga puluh kebaikan (untuknya).   (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Serangkaian manfaat mengucapkan dan menjawab salam Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, dibanding salam lainnya, tentunya membuat hal yang aneh bagi seorang muslim jika ingin menggantinya degan salam lainnya.  Semoga saja oknum atau pun lembaga yang ingin mengganti salam Assalamu’alaikum segera insaf, dan tidak lagi mengeluarkan ide yang bertentangan dengan syariat Islam.  Dan juga semoga saja sistem Islam kembali tegak di bumi ini, sehingga tidak ada lagi ide-ide aneh seperti ini.  Wallahu’alam bishowab[].

Editor : Rj | Publizher : Iksan 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co