Kemiskinan, Ancaman Nyata Indonesia

Rima Septiani
Rima Septiani
  •  
  •  
  •  

Oleh : Rima Septiani

(Mahasiswi UHO)


Isu kemiskinan begitu lekat dengan negeri ini. Bak mimpi di siang bolong, Indonesia tak akan pernah menduduki posisi negara maju, jika masalah kemiskinan masih terus mengguncang.

Seperti laporan data Dinas Sosial (Dinsos) kota Baubau,  tercatat masih ada sekitar 62 ribu lebih jiwa penduduk kota Bau-bau yang masuk kategori miskin. Hal itu kini menjadi perhatian serius pemerintah Kota. Ungkap Kepala Seksi Penanganan Kemiskinan Dinsos Kota Baubau, Bapak Afris. (www.baubaupost.com/12/2/2020)

Kemiskinan, Tak Pernah Tuntas

Kemiskinan merupakan masalah mendasar yang tak pernah terselesaikan dari dulu sampai sekarang. Bahkan di bawah pemerintahan Jokowi, kondisi Indonesia tidak bisa dikatakan membaik, malah semakin suram. Karena terbukti  Indonesia gagal di segala bidang, terutama dalam bidang ekonomi. Apalagi  sistem yang digunakan untuk mengelola negara adalah kapitalis sekuler yang terbukti rusak dan merusak, Karena itu Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin yang peduli sekaligus sistem pengelolaan yang baik.

Hidup di tengah gempuran sistem sekularisme memang tidaklah mudah. Kita dihadapkan dengan berbagai problematika kehidupan yang tak kunjung usai. Bahkan di berbagai wilayah kita bisa melihat dampaknya, seperti di kota Bau-bau tersebut.

Di sisi ekonomi kita dapat melihat bagaimana utang Indonesia terus membengkak. Kegemaran Sri Mulyani berhutang kepada negara lain membuat kondisi Indonesia semakin terpuruk. Maka dipastikan utang riba akan semakin membengkak dan berdampak pada naiknya pajak yang terus saja mencekik rakyat.

Masalah kemiskinan bukan hanya terjadi di kota Bau-bau. Badan Pusat statistik (BPS) juga mencatat Provinsi Papua menjadi wilayah dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia pada Maret 2019 dengan 27, 53%. Padahal, emas di Papau bgitu melimpah. Keberadaan tambang emas Grasberg dan Freeport justru tak memberikan sumbangsih kesejahteraan bagi rakyat Papua.

Tercatat 22 juta rakyat masih menderita kelaparan. Bahkan dalam konteks global, kesenjangan sosial dan terciptanya kemiskinan diakibatkan penerapan sistem kapitalisme yang menjadikan penyebaran kekayaan kurang merata dikalangan kaum bawah.

Berbagai kebijakan yang mencekik rakyat terus saja diberlakukan. Kebijakan yang bersumber dari sistem kapitalisme justru akan mempertahankan dan meningkatkan kerusakan, kemiskinan da penderitaan rakyat. Kegagalan sistem kapitalisme dalam mendistrbusikan kekayaan secara adil dan merata, mengakibatkan ketimpangan yang akut, yang melahirkan penderitaan bagi kebanyakan manusia. Akankah kita bertahan dengan sistem seperti ini.

Maka harus ada perubahan secara mendasar. Sistem yang jelas merusak harus diganti dengan sistem yang telah terbukti pernah memberikan kesejahteraan. Harus juga ditempatkan para pemimpin yang amanah dalam menjalankan fungsi jabatannya.

Oleh karena itu untuk mewujudkan kepemimpinan yang baik, mutlak diperlukan dua hal yaitu sistem yang baik dan pemimpin yang baik (amanah). Inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh negara jika ingin benar-benar memberikan kesejahteraan pada bangsa dan negara.

Islam Solusi Tuntas Mengatasi Kemiskinan

Maka Islam adalah solusi tuntas dari segala permasalahan. Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaanya sebagai sebuah sistem hidup dan sistem hukum menjadikan Islam layak dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan untuk menuntaskan segala problematika umat, khususnya dalam hal mengatasi kemiskinan.

Artinya, Islam dapat melahirkan solusi tuntas dari segala masalah kenegaraan. Maka keberadaan Islam sebagai agama ini tidak bisa dipisahkan dari negara. Sebab agama dan kekuasaan adalah ibarat  saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaganya.

Maka penerapan Islam secara kaffah sebagai pengatur kehidupan tidak akan bisa diterapkan tanpa keberadaan institusi Islam. Itulah yang disebut dengan Khilafah.

Sistem ini bukan sekedar teori semata, Namun telah terbukti pernah ada. Bahkan keberadaannya diakui oleh Barat Sendiri. Sebagaimana pengakuan Will Durraant:

Para telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dengan usaha keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad (Will Durant-The Story of Civilization)

Maka adalah kunci kegemilangan peradaban Islam. Salah satu kejayaannya terbukti di zaman awal-awal kekhilafaan muncul. Misalnya, di era pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khattab, di berbagai wilayah (provinsi) telah menikmati kemakmuran dan kesejahteraan. Buktinya, saat itu tidak ditemukan seorang miskin pun oleh Muadz bin Jabal di wilayah Yaman. Dulu Muadz bin jabal pernah mengirimkan hasil zakat yang dia pungut di Yaman kepada Khalifah Umar di Madinah. Itu dilakukan karena Muadz tidak lagi menjumpai orang yang berhak menerima zakat di Yaman.

Hal ini juga terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abul Azis. Semua rakyat pada saat itu berkecukupan hingga tidak ada lagi orang miskin yang berhak menerima zakat.

Inilah bukti kegemilangan peradaban Islam yang harusnya dicontoh oleh Indonesia saat ini. Islam memiliki konsep kesejahteraan yang akan menghilangkan masalah kemiskinan. Wallahu alam bi ash shawwab.

Editor : Rj | Publizher : Iksan

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co