Mengenal Kearifan Lokal Suku Tolaki

oleh
Cover buku Tolaki
Cover buku Tolaki

Apa yang dimaksud dengan kearifan lokal ? Kearifan lokal (Local Wisdom) dapat diartikan secara umum adalah sebagai gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Dalam masyarakat Tolaki dalam pergaulan hidupnya sejak Mokole Wekoila sekitar Abad 10 Masehi yang telah mentradisi dan merupakan produk budaya Adat Tolaki masa lalu yang patut secara terus menerus dijadikan pegangan hidup.

Sebagaimana judul di atas penulis Basaulatamburaka kali ini saya  dinukilkan kembali dari buku “Kearifan Lokal Tolaki” oleh Arsamid Al Ashur. Dalam tulisan kali ini, hanya diambil sebagian kecil dari buku tersebut yaitu tentang Kepribadian dan Pandangan Hidup Orang Tolaki di bumi Konawe dan Bumi Sorume Mekongga adalah sebagai berikut :

  1. “Inae Konasara iee Pinesara, inae liasara iee Pinekasara”

Artinya orang yang menghargai Adat, dialah dihormati. Orang yang tidak menghargai Adat, dia tidak akan dihormati.

Ketika orang menolak menerima Adat, namanya “matesara” (Mati Adat). Orang yang melampaui ketentuan hukum Adat, namanya liasara (Kelewatan Adat).

Dan apabila ada orang yang melakukan kedua-duanya maka disebut matesara (mati Adat).

Demikian falsafah hidup orang Tolaki yang sudah berlangsung sejak 14 abad lalu, yang masih hidup dalam pergaulan masyarakat Tolaki dan tidak ketinggalan dalam perkembangan zaman memasuki globalisasi atau zaman milenial.

  1. Walowalono Ndo Mekongga (Kab. Kolaka/Kolut)

Cara orang Mekongga menjaga harga diri. Bagi orang Mekongga jika dia ditampar satu kali, ia harus membalas dua kali. Tamparan yang pertama adalah merupakan bayaran sedangkan tamparan kedua adalah menunjukkan kelaki-lakian orang Mekongga. Nah Lu!!!

  1. Pe’eka ‘Eka Ndo Sambara” (Kab. Konawe)

Cara orang Sampara naik ke rumah pesta. Dahulu rumah pesta adalah rumah panggung (melaika tinumba). Posisi tamu yang menghadiri pesta panitia sudah mengatur. Tempat duduk tamu sesuai stratifikasi sosial. Biarpun yang datang anak dewasa datang mewakili orang tuanya (keturunan), maka sudah disiapkan tempat duduknya di atas yaitu tempat para Anakia.

Bahwa perilaku orang Sampara naik pesta sebagai petunjuk cara beretika yang baik, sopan dan berbudi pekerti, tahu menghargai orang lain juga diri sendiri.

  1. Wowi Ndo Latoma” (Kab. Konawe)

Orang Latoma punya sifat spesifik, berkarakter seperti hewan Anoa yang pemberani. Namun tidak mau diusik. Hanya 2 kata jika diganggu “dia mati atau saya yang mati”. Orang Latoma khususnya orang-orang udik pada umumnya, mereka ramah dan baik hati.

Contohnya jika ada tamu berkunjung di rumahnya harus menginap. Dengan gaya bahasa “Menombo” dan “Meropo” mereka berkata. Karena inggomiu baru pertama kali berkunjung digubuk sederhana kami. Maka kami hanya dapat menyuguhkan lauk pauk sekedar mengganjal perut.

Padahal apa yang disuguhkan bermewah-mewah, ayam panggang dan daging rusa yang sudah diasap dan daging yang masih segar.

Kesimpulan tamu dianggap raja.

  1. Sopaki Ndo Lasolo” (Kab. Konut)

Orang Lasolo jika bertemu atau berpapasan seseorang yang sedang perjalanan. Orang tersebut pasti disapa dengan singkat, dengan hanya empat pertanyaan sudah mewakili seluruh informasi yang dibutuhkan sebagai   berikut :

Dari Mana ? Hendak Kemanan ? Keperluan Apa ? dan Kapan Kembali, singkat namun padat.

Kepribadian orang Lasolo pada umumnya tidak berbasa basi alias “mepalili”, yaitu langsung pada pokok persoalan. Artinya berlaku bahasa terbuku alias transparansi.  Sosoito!!!

  1. Palili Ndo Konawe” (Kab. Konawe)

Orang Konawe pada umumnya dalam pergaulan hidupnya masih menggunakan bahasa kiasan alias mepalili. Contoh jika seorang laki perjaka melamar gadis tingting pujaan hatinya sebagai calon istrinya. Mereka datang membawa Tolea untuk menyampaikan kata-kata lamaran dalam bentuk bahasa kiasan sebagai    berikut :

Sekiranya ada semak belukarnya yang sudah pantas diolah, kami bermaksud dan berbesar hati ingin merambahnya sebagai ladang yang tumbuh subur padi ladang”. Yang dimaksud kalimat semak belukar adalah anak gadis tuan rumah yang belum dilamar orang lain.

Kata semak belukar dan kata merambahnya artinya mengolah bahasa kiasan, kadang kala bahasa puitis.

Catatan : perlakuan tersebut banyak diungkapkan Tolea Pabitara dalam Mombesara. Kenyataan yang kita jumpai manakala Tolea Pabitara tidak menggunakan bahasa kiasan alias Palili Ndo Konawe, bahasa itu kering kurang tertarik hadirin mengikutinya seperti dalam Mowindahako tersebut.

  1. Bulili Ndo Mowila, Gau Ndo Wu’ura” (Kab. Konsel)

Dalam suatu perkumpulan, seorang remaja berkata kepada salah seorang yang duduk santai sebagai berikut :

Oleo oha doki, kaduito kuari rumesai kalukunggu. Artinya bukan main teman, luar biasa jadinya saya habis pergi memetik buah kelapa sangat banyak untuk buat kopra. Seorang temannya menimpalinya.

Oho doki, opioki utuhai” Artinya ada berapa banyaknya buah kelapa itu? Ia jawab seenaknya tanpa ekspresi :

Oruo boto osi” Artinya hanya dua biji saja. Teman-teman sekumpulan itu serentak tertawa terbahak-bahak lalu berkata.

Kaduito umorome” Artinya ucapanmu itu berlebih-lebihan.

Kesimpulan orang Ndo Mowila dan Wu’ura Konsel dalam pergaulan hidup menggunakan gaya bahasa hiperbola He-He-He.

  1. Mererehu Ndo Anggaberi” (Kab. Konawe)

Tempo Doeloe orang Anggaberi jika ke rumah pesta dan duduk lesehan (Metemba) dengan berhadap-hadapan pada satu jajaran hidangan, dibagian tengah diletakkan hidangan lauk pauk untuk porsi 4 orang.

Oleh karena dua orang ini sudah duluan datang meleba lipatan lutunya mengambil tempat, maka tempat duduk yang sedianya 4 orang hanya mereka yang berdua menempati untuk disantap dua orang.

  1. Tuhatuhani Ndo Palangga” (Kab. Konsel)

Pada umumnya etika orang Palangga dalam melayani makan tamunya dengan penuh ramah tama. Pada permulaan sang tamu makan belum ada pelayanan khusus penambahan porsi makan.

Ketika sang tamu tampak merasa “kenyang” ancang-ancang berhenti. Sang tua rumah buru-buru menambah porsi nasi atau sinonggi di piring sehingga piring tamu penuh kembali nasi. Jika sinonggi “Aso nggoe pono teulabe ne pinggano”. Tuan rumah dengan gaya bersahabat berkata :

Hiapoka ela/peohai i’alembiha’i” Artinya ayolah sobat dihabiskanlah jangan sungkan-sungkan. Karena sang tamu sudah kenyang, maka tambahan porsi nasi atau sinonggi teula bene pinggano tadi menjadi buah simalakama baginya. “Maju Kena Mundur Kena”.

Kesimpulan bahwa orang Palangga pergaulan “Mesaramase” sangat tinggi sopan santunnya.

Namun sifat tersebut niwawo mengane, tampak memaksakan kehendak He…He…He-He To Palangga !!!

  1. Kinolo Ndo Benua” (Kab. Konsel)

Dahulu jika orang Benua datang di rumah pesta, dapat diketahui siapa diantara mereka yang tinggi derajat kebangsawanan dan sudah pasti mereka metikolo. Metikolo adalah membawa banyak barang dan rombongan pengikutnya dengan membawa bungkusan (Kinolo). Dapat dihapami itulah yang tinggi kebangsawanan serta sangat dermawan di kampung itu.

  1. Ea’ea Ndo Lambuia” (Kab. Konawe)

Dahulu jika orang Lambuia buat acara pesta para wanita jika memotong daging kerbau atau sapi yang akan dimasak sebagai lauk. Potongan-potongan daging tersebut cukup besar porsi untuk dimakan 4 orang cukup 2 orang saja. Orang Lambuia menyebut cara memotong daging tersebut dinamakan “Meronu” (diperbanyak) karena di Lambuia terkenal memiliki banyak hewan piaraan kerbau, sapi, kambing dan kuda.

Kesimpulan tamu dihidangkan lauk agar puas mencicipi daging kerbau atau sapi tersebut. Kebanggaan tersendiri!!!

  1. Wahanaha Ndo Ulu Tawanga” (Kolaka/Kolut)

Dahulu orang Ulu Tawanga jika menyuguhkan nasi di piring di siram dengan santan kelapa nasi jadi tenggelam. Karena nasi tenggelam dengan air santan kelapa tersebut.

Apabila ada tamu yang memakai baju lengan panjang saat mengambil nasi di piringnya untuk disantap, pinggir lengan bajunya akan tersentuh air santan kelapa tersebut.

Kesimpulan karena di Ulu Tawanga dan sekitarnya penggunaan buah kelapa disana banyak sehingga berlebih-lebihan.

  1. Timbona Ndo Baito” (Kab. Konsel)

Ternyata orang Baito jika berkelahi (Metidu) pukulannya beruntun atau bertubi-tubi kaya Mike Tyson yaitu dengan tinju tangan kanan dan kiri secara bertubi-tubi non stop. Kesimpulan orang Baito tempo doeloe hingga sekarang, memiliki sistim pertahanan yang kuat. Hati-hati!!!

 

Basaulatamburaka dan keluarga
Basaulatamburaka dan keluarga

(Disarikan kembali oleh Basaulatamburaka)

Kendari 29 Februari 2020


 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart