,

RUU Ketahanan Keluarga di serang, Bukti Negara semakin Sekuler

oleh
Surfida, S.Pd.I
Surfida, S.Pd.I

 Oleh: Surfida, S.Pd.I


Polemik di negara ini tak kunjung usai. Selalu saja ada pro-kontra ketika mau menerapkan peraturan, terlebih peraturan tersebut berbau Islam. Salah satunya RUU Ketahanan Keluarga. RUU ini sejak masuk dalam daftar program legislasi nasional, sudah terjadi pro-kontra.

Beberapa poin yang menjadi kontroversial dalam RUU Ketahanan Keluarga karena dianggap terlalu ikut campur urusan rumah tangga. Seperti di antaranya pasal 25 ayat 2 yang mengatur kewajiban suami dan istri dalam keluarga. Lalu di pasal 31, mengatur larangan menjualbelikan sperma atau ovum, mendonorkan sukarela, menerima donor sperma, atau ovum untuk keperluan memperoleh keturunan. Poin lain yang jadi perdebatan publik adalah, di pasal 86 dan 87. Pasal 85 menyatakan LGBT dinilai sebagai masalah sosial. Dan pasal 87, pelaku penyimpangan seksual wajib dilaporkan atau melaporkan diri ke lembaga negara.

Yang kontra menganggap bahwa RUU tersebut, negara sudah terlalu dalam mencampuri urusan keluarga, Salah satunya komentar dari Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Dini Purwono. Dia menilai RUU Ketahanan Keluarga terlalu menyentuh ranah pribadi. “Saya enggak tahu sih, tapi katanya ada pasal yang mewajibkan anak laki-laki perempuan pisah kamar. Terlalu menyentuh ranah pribadi,” ujar Dini di Kantor Sekretariat Kabinet Jakarta, Jumat (21/2/2020,https://www.liputan6.com).

Selain itu, komentar lain juga datang dari Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengingatkan, bahwa Indonesia merupakan anggota Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dengan begitu, seluruh produk Undang-Undang maupun kebijakan harus berdasarkan pada prinsip dan standar HAM. “Itu juga berlaku pada RUU Ketahanan Keluarga. Jadi seharusnya RUU Ketahanan Keluarga juga harus berdasarkan prinsip dan standar Hak Asasi Manusia,” kata Beka kepada Liputan6.com, Kamis, 20 Februari 2020. Alasan yang lain adalah karena aturan tentang kehidupan Rumah Tangga itu sudah diatur dalam UU Perkawinan No. 1 1974.

Jika kita melihat dari yang kontra ini rata-rata mengatasnamakan terlalu mencampuri urusan pribadi. Mereka melihatnya bukan atas dasar agama tetapi atas dasar kebebasan. Namun jangan heran, karena saat ini kebebasan itu sangat diagungkan. Ketika kebebasan diagungkan, aturan yang bernafaskan Islampun akan dipermasalahkan, sistem yang berlaku sekarang menganggap syariat Islam hanya sebagai pelengkap, tidak boleh hadir dalam kehidupan bermasyarakat. Jika sudah seperti ini, membuktikan bahwa arus kampanye liberal di dunia Islam khususnya Indonesia berhasil, seperti pro-kontra RUU ini. Masih dari mereka, RUU tersebut dianggap ide mundur karena mengunggat kebebasan manusia, seperti yang tercantum dalam pasal-pasal RUU tersebut. Direzim yang pemimpinnya diidentikan dengan Khalifah Umar zaman sekarang, tak mampu mengambil bagian, bahkan melalui jubirnya menyatakan kontra.

Ide dari kelima partai tersebut, sebenarnya sangat bagus. Mengingat kehidupan generasi muda saat ini sebagian besar sudah menjauh dari aturan agama, salah satunya umat Islam yang sudah jauh dari ajaran Islam. Hanya saja aturan tersebut tak akan berarti apa-apa jika dipaksakan untuk diterapkan dalam sistem sekuler ini, akan dianggap melanggar prinsip-prinsip sekuler liberal yang diemban negara Indonesia atau bertentangan dengan HAM,  seperti yang diungkapkan Komnas HAM diatas. Walaupun nanti disahkan, akan banyak juga yang melanggar, karena hukum yang diterapkan juga tidak memberi efek jera. Sebagaimana banyaknya kasus yang sudah terjadi sekarang ini.

Bahkan ada salah satu partai yang berlabel Islam pun, pesimis dengan RUU tersebut, menurutnya, jika masyarakat banyak yang menolak, maka RUU tersebut tidak akan disahkan. Jika sesama partai Islam saja, tidak ada lagi kekompakan untuk mengajukan rancangan penerapan syariat Islam dalam sistem sekuler liberal, maka jangan berharap tujuan dari rancangan yang diajukan akan diterapkan. Keinginan menerapkan Islam hanyalah khayalan belaka.

Ketahanan keluarga ini hanya bisa terwujud dengan kebijakan integral, tidak hanya menyangkut pengaturan individu anggota keluarga dan pendidikan di dalam rumah. Maka dari itu, penerapannya harus sejalan dengan sistem yang diemban negara. Kebijakan integral tersebut terlaksana jika sistemnya juga di ganti dengan sistem yang sejalan dengan RUU tersebut, yaitu sistem Islam. Namun, sistem Islam bisa diterapkan jika negaranya sudah ada yaitu Dalam negara dan agama jalan bersamaan.

tidak menganggap agama sebagai pelengkap, karena agama diartikan secara tekstual bukan kontekstual atau harus sesuai dengan perkembangan zaman seperti yang dilakukan saat ini. Jika diartikan secara kontekstual, pasti akan banyak orang – orang yang tidak menerima sehingga semakin mengerdilkan ajaran Islam.

Dalam negara Islam, Islam bukan hanya sekedar agama ritual belaka tetapi Islam mampu mengatur seluruh kehidupan manusia, baik politik, ekonomi, pergaulan termasuk juga dalam lingkungan keluarga. Negara tidak akan membiarkan media-media menayangkan film-film yang berbau pornografi. Media akan menyediakan tayangan-tayangan yang bernilai mendidik, sehingga orang tua memiliki ilmu tambahan untuk mendidik putra-putrinya. Dimana keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Jika sudah seperti itu, orang tua mampu menjauhkan anak – anaknya dari prilaku menyimpang seperti LGBT.

Selain itu, orang tua juga akan memahamkan anak-anak tentang pemisahan tempat tidur. Dan masih banyak lagi ilmu yang lain yang akan diajarkan orang tua kepada anak. Jika ilmu yang diberikan oleh orang tua kepada anak sudah bersinergi dengan aturan negara dan masyarkat, maka ketahanan negara tersebut akan tercapai.

Oleh karena itu, marilah perjuangkan syari’at Islam agar diterapkan disemua lini kehidupan, karena aturan Islam akan diterapkan secara Kaffah. Jika diperjuangkan masih dalam sistem sekuler liberal, maka atauran tersebut akan mengalami berbagai macam penolakan, karena yang menolak ini berbicara dari sisi manfaat saja bukan dari agama dengan tolak ukur halal-haram.

Wallahu’alambishowab”

Editor : Armin | Publizher : Iksan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart