Mashyur Masie Abunawas  :  Keluarga Uztad Muzakir Ada Upaya Minta Maaf

oleh
Ketgam : Kenprensi Pers Lembaga Adat Tolaki (LAT) Sulawesi Tenggara (Sultra)Ketgam : Kenprensi Pers Lembaga Adat Tolaki (LAT) Sulawesi Tenggara (Sultra)
Ketgam : Kenprensi Pers Lembaga Adat Tolaki (LAT) Sulawesi Tenggara (Sultra)

Reporter : Taufic | Editor : Armin | Publizher : Iksan


KALOSARA NEWS : Lembaga Adat Tolaki Sulawesi Tenggara (LAT Sultra) melalui Divisi Hukum dan HAM LAT Sultra, Khalid Usman menyebutkan saat ini ustad  Musakir yang menyebut Mosehe merupakan perbuatan yang sirik telah di polisikan di Mapolda Sulawesi Tenggara (Sultra) pada , Jumat (6/3/2020) lalu. Hal itu ia sampaikan saat menggelar konprensipers bersama ketua LAT Sulta Mashyur Masie Abunawas bersama pengurus lainnya.

Khalid Usman menuturkan, terkait dengan laporan polisinya, saat ini pihaknya masih menunggu untuk dimintai keterangan. Dikatakannya pihaknya melaporkan ustad tersebut terkait dengan konten ceramahnya yang menyinggung perasaan masyarakat khusus masyarakat Tolaki.

“Laporannya sudah diterima polisi, kami tinggal menunggu panggilan untuk BAP, baik saya sebagai pelapor, kemudian saksi ahli bahasa, saksi ahli agama dan penyebar video,”  ungkap Khalid Usman di sekretariat LAT Sultra jalan Pasaeno, Kelurahan Bende, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari.

Sebagai pengacara LAT Sultra, Khalid Usman berharap agar polisi serius dalam perkara ini. Karena ini merupakan diskriminasi baik itu suku, agama atau pun ras.

Menanggapi hal itu, Ketua LAT Sultra Mashyur Masie Abunawas menambahkan saat ini pihak penceramah telah  melakukan upaya  minta maaf,  namun dirinya belum memberikan sinyal soal itu. Pihaknya menginginkan agar permintaan maaf ustad dilakukan secara adat.  “Secara pribadi saya sudah maafkan, tetapi secara kelembagaan ada prosedur yang harus dilakukan,“ ungkapnya.

Terkait dengan itu, Mashyur Masie Abunawas sangat menyangkan soal isi ceramah ustad dimaksud,  seyogyanya ucapan sirik tidak mesti di ucapkan apalagi menyangkut adat istiadat suku.

“Mestinya ucapan itu tidak boleh dilontarkan, karena ini menyinggung masyarakat Tolaki. Karena adat mosehe, jauh sebelum islam masuk ke tanah Sulawesi, ritual ini sudah dijalankan oleh para leluhur,” katanya di hadapan wartawan.

Dikatakannya, buat suku Tolaki mosehe adalah hal yang penting dan sakral, erat kaitannya dengan agama. Namun ritual ini tidak menyalahi syariat agama. Memang ada pengorbanan dilakukan tapi bukan berarti untuk sesembahan selain Allah SWT.

Diketahui, Ustadz Muzakir menjadi penceramah di  masjid di Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka.  (B)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart